Pulihkan DAS untuk Pulihkan Indonesia!

Sabtu, 29 Desember 2018 – 23:11 WIB
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar. Foto: Humas Kementerian LHK

jpnn.com - Seumpama Evita yang tegak di balkon istana. Pagi itu dihadapan ratusan ribu rakyat yang kehilangan asa, Evita menyeru untuk berhenti menangis paska wafatnya Juan Peron, Sang Presiden tercinta. 

"Bersama kita akan bangkit dari kehilangan yang dalam," katanya. "Berbondong kita akan membuat sejarah baru Argentina." 

BACA JUGA: Daerah Aliran Sungai Bersih dan Sehat, Masyarakat Sejahtera

Tetiba langit gemuruh oleh tepuk tangan dan tangis bahagia. Setiap orang lalu pulang dengan hati kembang.

Bila tak berlebihan, gairah serupa itulah yang terasa pagi tadi, Sabtu, (29/12) di tapal batas Karawang-Purwakarta, Jawa Barat.

BACA JUGA: Tindak Lanjut Indonesia Setelah Ikut COP24 UNFCCC

Paska rentetan bencana yang melanda Indonesia, baru-baru ini, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya berpidato meluncurkan Gerakan Nasional Pemulihan DAS (Daerah Aliran Sungai), di hadapan ribuan rakyat Indonesia.

Pembaca JPNN sekalian, inilah pidato lengkap Menteri Siti...

BACA JUGA:  Refleksi Hutan Sosial KLHK 2018 untuk Rakyat

Assalammualaikum Warahmatulahi Wabarakatuh, Salam sejahtera, Syalom, Om Swastiastu, Namobudhaya... 

Pertama sekali, mari kita haturkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan karuniaNYA  sehingga kita semua bisa hadir pada acara Peluncuran Gerakan Nasional Pemulihan DAS pada hari ini di Desa Jomin, Karawang.
 
Pada kesempatan ini, mari juga kita panjatkan doa kehadapan Tuhan Yang Maha Pengasih, sehubungan dengan bencana tsunami Banten dan Lampung yang terjadi tepat satu minggu yang lalu.

Kita berdoa semoga tidak akan terjadi bencana lagi, semoga para korban diberiNYA tempat yang sebaik-baiknya, dan kepada keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan untuk tetap tawakal melanjutkan kehidupan.
 
Saudara-Saudara hadirin yang saya hormati... 

Hari ini kita hadir di sini untuk acara Peluncuran Gerakan Nasional Pemulihan DAS.  Ini juga berkaitan dengan kebencanaan dan upaya untuk me-mitigasi-nya. Namun dalam hal ini bencananya ialah yang sebagian besar akibat perilaku manusia terhadap alam, seperti tanah longsor, banjir dan kekeringan. 
 
Bencana-bencana hidrologis tersebut (yang berkaitan dengan air), bertahun-tahun seakan menjadi rutinitas tahunan. Setiap tahun kita mengalami musim banjir dan tanah longsor.  

Setiap tahun juga kita mengalami bencana kekeringan, kelangkaan air. Bencana itu menjadi penyebab jatuhnya korban jiwa, rusaknya infrastruktur, kerugian finansial, dan bahkan menjadi penyebab penurunan kualitas hidup dan kualitas manusia.  

Setiap tahun, kita mengalami kerugian finansial ratusan milyar akibat banjir.

Kekeringan menyebabkan gagal panen yang merugikan petani, menyusahkan hidup masyarakat. Kualitas air yang buruk menurunkan kenyamanan hidup dan bisa berdampak jangka panjang bagi kualitas manusia Indonesia.
 
Bencana hidrologis adalah adalah muara dari rusaknya Daerah Aliran Sungai (DAS). DAS yang sehat ialah yang mampu menyimpan air sehingga tidak terjadi banjir di musim penghujan, dan mampu menyediakan air di musim kemarau. 

DAS-DAS kita saat ini sebagian tidak mampu menjalankan fungsi hidrologis tersebut. Di saat musim hujan ia tidak mampu menyimpan air menjadikan air tanah dan mata air di musim kemarau. Artinya DAS-DAS kita tidak dalam kondisi sehat.
 
Salah satu wujud rusaknya sebuah DAS ialah rusaknya Daerah Tangkapan Air (DTA)nya atau bagian hulunya. Banyak DAS kita bagian hulunya berupa lahan kritis atau tidak tertutup vegetasi sebagai mana semestinya. 

Agar mampu menyerap dan meyimpan air, DTA sebuah DAS harusnya berupa tutupan vegetasi hutan. Saat ini banyak DAS-DAS kita yang bagian hulunya gundul, atau digunakan untuk kegiatan pertanian semusim. 
 
Solusi atas lahan kritis tentu saja Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) baik melalui upaya revegetasi maupun pembangunan-pembangunan sarana pencegah erosi-sedimentasi. RHL sudah kita lakukan sejak berpuluh-puluh tahun. 

Tetapi, rusaknya DTA masih belum berkurang dan bencana hidrologis tetap terjadi. Memang, ada faktor-faktor lain selain kritisnya DTA yang menjadi penyebab bencana hidrologis, akan tetapi setidaknya apabila DTA sebuah DAS sudah pulih vegetasinya semestinya fungsi DAS lebih membaik.
 
Atas hal ini, Bapak Presiden telah memberikan arahan-arahan yang kemudian kita artikulasikan menjadi butir-butir berikut:
 
RHL harus ditempatkan sebagai bagian dari upaya lebih komprehensif yaitu pemulihan DAS. Dengan demikian, pemulihan kondisi DTA adalah cara (means) untuk mencapai tujuan akhir (goal) yaitu pulihnya fungsi hidrologis DAS. Jadi pulihnya vegetasi DTA bukan tujuan akhir.

Karena DAS pada dasarnya adalah seluruh daratan, maka DAS adalah ajang dari setiap kegiatan manusia, setiap aktifitas pembangunan dan ekonomi. Rusaknya sebuah DAS adalah buah dari kegiatan berbagai sektor.   

Oleh sebab itu, pemulihan DAS harus melibatkan sektor-sektor terkait. Semua sektor terkait harus dalam satu arah vector yang sama agar terjadi sinergi, bukan saling meniadakan.
 
Berangkat dari arahan itulah maka kita perlukan sebuah Gerakan Nasional untuk bersama-sama memulihkan DAS. Kuncinya tentu koordinasi lintas sektor.  

Hari ini gerakan tersebut kita luncurkan, dan pasca peluncuran ini kita akan perkuat koordinasi, antara lain melalui penyusunan Rencana Pengelolaan DAS Terpadu yang disusun bersama, dipatuhi bersama dan diinternalisasikan ke dalam program pembangunan sektor dan daerah.
 
Saudara-Saudara sekalian...

Dalam kerangka besar pemulihasn DAS yang lintas sektor, RHL tetap merupakan bagian sangat penting. Pulihnya kondisi DTA adalah necessary condition (persyaratan diperlukan) meskipun belum sufficient condition (persyaratan mencukupi). 

Artinya, memang pulihnya kondisi DTA saja, tidak menjamin pulihnya DAS. Bencana hidrologis masih bisa terjadi meskipun DTA sudah pulih, karena ada faktor-faktor lain.  Tetapi untuk sebuah DAS bisa pulih, pertama-tama DTA-nya wajib direhabilitasi.
 
Oleh sebab itu, Kementerian LHK sesuai cakupan portofolionya tetap menekankan RHL pada DTA.  

Sesuai arahan Bapak Presiden RI juga, mulai tahun 2019 kita tingkatkan upaya RHL agar memberi dampak lebih signifikan, dibarengi dengan beberapa aksi koreksi (corrective actions), dalam rangka meningkatkan keberhasilan. 
 
Bapak Presiden RI telah memberikan arahan khusus agar RHL harus sistematis, berorientasi pada hasil dan yang terukur. Selain itu juga dalam pelaksanaannya harus efektif dan efisien, akuntabel, transparans dan menempatkan masyarakat sebagai aktor.  

Harus dilaksanakan dengan pendekatan baru guna memastikan bahwa yang akan dihasilkan adalah hutan, yang akan berfungsi sebagai pengatur tata hidrologi wilayah DAS, bukan sekedar angka mengenai  jumlah bibit yang disebar atau yang ditanam.
 
Arahan-arahan Bapak Presiden RI kita tuangkan ke dalam paket corrective actions yang hendak kita implementasikan mulai 2019, yaitu intinya: 

Secara lokus, upaya rehabilitasi diprioritaskan dengan tapisan: Daerah Tangkapan Air dari dam atau bendungan (ada 65 dam prioritas), daerah rawan bencana hidrologi (longsor, banjir), serta DAS dan danau yang sangat prioritas dan mendesak untuk direhabilitasi.   

Dengan penapisan ini, maka sumberdaya dan dana yang terbatas diharapkan akan lebih memberikan hasil nyata dan dampak signifikan.

Akuntabilitas dan transparansi dijaga sejak awal, yaitu mulai perencanaan sudah melibatkan multipihak. Melalui pemanfaatan teknologi informasi, setiap polygon areal rehabilitasi di seluruh Indonesia akan dapat dimonitor dan diverifikasi menggunakan android oleh siapa saja.  

Dengan demikian penggunaan APBN untuk RHL benar-benar transparan dan akuntabel. 

Agar benar-benar menghasilkan hutan, maka tidak berhenti pada penanaman. Pemeliharan pasca penanaman mendapat porsi besar. Demikian juga pengawasan oleh pihak independen sejak perencanaan.

Kegiatan tidak dilakukan lepas dalam bentuk proyek tahunan. Melainkan bersifat multiyears. Perencanaan tahun 2019 dilakukan tahun 2018. Pelaksanaan tahun 2019 diikuti pemeliharaan tahun 2020 dan 2021. 

Dengan corrective actions tadi, kita harapkan RHl untuk pemulihan DTA akan lebih berhasil. Dibarengi dengan upaya-upaya lain sektor terkait, kita berharap DAS-DAS kita akan kembali sehat.
 
Tema acara dan Gerakan Nasional Pemulihan DAS ialah: “DAS Sehat Sejahterakan Masyarakat”.  

Tadi saya sebutkan indikator dari sebuah DAS yang sehat ialah, tersedianya air dalam kuantitas dan kualitas yang memadai untuk berbagai keperluan. 

Indikator lain ialah terjaganya kesuburan tanah dan produktifitas lahan, serta berkurangnya bencana-bencana hidrologis seperti banjir, tanah longsor dan kekeringan. Semua ini adalah prasyarat untuk masyarakat yang sejahtera. Dengan demikian, bila DAS sehat maka masyarakat yang hidup di DAS tersebut akan sejahtera.
 
Saudara-Saudara sekalian... 

Pada kesempatan ini, saya mengajak agar semua sektor untuk selanjutnya sepakat bahwa DAS yang rusak adalah sumber malapetaka, dan kita hanya bisa memulihkannya apabila bekerja bersama-sama. Juga saya minta para Gubernur dan Bupati agar memfasilitasi penyusunan Rencana Pengelolaan DAS Terpadu antara lain melalui FORUM DAS. 

FORUM DAS harusnya ada pada setiap DAS. Apabila belum agar segera dibentuk. Apabila Rencana Pengelolaam DAS Terpadu sudah tersusun dan disepakati, selanjutnya harap diinternalisasikan ke dalam rencana pembangunan daerah masing-masing.  
 
Khusus mengenai RHL, saya juga berharap agar Gubernur dan Bupati mendukung pelaksanaannya.  Perlu diketahui bahwa nanti akan ada Tim Pengawas Daerah yang melibatkan pejabat daerah.  Selain itu lokus RHL akan sebagian besar di wilayah KPH yang merupakan UPT Provinsi.
 
Saudara-Saudara sekalian...

Upaya pemulihan DAS adalah pekerjaan amat besar.  Masih ada aspek lain yang belum tersentuh, misalnya terkait tata-ruang.  

Mengenai hal ini kita perlu kembali duduk bersama untuk mencari solusi.  Apa yang kita lakukan dengan peluncuran ini hanyalah sebuah awalan, yang harus diikuti langkah-langkah berikutnya.  

Masih besar tantangan kita, tetapi setidaknya kita sudah memulai.  

Saya akhiri dengan menyampaikan penghargaan kepada Saudara-Saudara sekalian atas kehadirannya, dan kesediaannya memulai koordinasi ke depan. 

Saya juga sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah berperan besar dalam penyelenggaraan acara ini, jajaran LHK, Perhutani, pihak swasta, kelompok masyarakat, generasi muda, pramuka, dan semuanya yang tidak bisa saya sebut satu persatu.
 
Semoga Tuhan memberkati niat mulia kita hari ini untuk kebaikan bangsa dan negara Republik Indonesia yang kita cintai. 
 
Wassalammualaikum Warahmatulahhi Wabarakatuh, Om Santih Santih Santih, Om.

Menteri Siti Nurbaya kemudian memukul kentongan. Bertalu-talu. Menandai dimulainya Gerakan Nasional Pemulihan DAS. (wow/jpnn)
 
 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pemerintah Dorong Pelaku Usaha Menjalankan Bisnis Beretika


Redaktur & Reporter : Wenri

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler