Puncak Kemarau, Kekeringan Berpotensi Meluas

Senin, 24 September 2018 – 09:04 WIB
Warga mengalami krisis air bersih. Foto: JPG/Pojokpitu

jpnn.com, NGANJUK - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sawahan, Nganjuk, Jatim memastikan bahwa September ini merupakan puncak musim kemarau. 

Karena itu, kekeringan di Kota Angin berpotensi meluas. Apalagi, hujan diprediksi baru turun November nanti.

BACA JUGA: Bendungan Mengering, Ratusan Warga Krisis Air

Kepala Kelompok Teknisi (Kapoksi) BMKG Sawahan Sumber Harto mengungkapkan, cuaca ekstrem rawan terjadi di wilayah Nganjuk bagian utara.

Yaitu, hujan disertai angin kencang. "Hujan yang terjadi dalam beberapa hari ini sifatnya temporer. Paling lama terjadi lima hari, setelahnya panas lagi," jelas Harto.

BACA JUGA: PDAM Menyusut, 30 Desa Alami Kekeringan Parah

Dampak kemarau panjang adalah kasus kekeringan di Nganjuk semakin luas. Warga yang tinggal di dataran tinggi akan sulit mengaliri sawah dan mencari air bersih untuk dikonsumsi.

Sementara itu, warga yang tinggal di permukiman tapi dekat dengan lahan pertanian juga terancam mengalami krisis air akibat penggalian sumur bor dengan kedalaman lebih dari 100 meter.

BACA JUGA: Kekeringan di Ngawi, Warga Beli Air Bersih di Sendang

"Bisa dilihat, waduk dan air sungai sudah banyak yang mengering," bebernya.

Dengan panjangnya musim kemarau tahun ini, lanjut Harto, warga yang kekurangan air bersih juga semakin bertambah. Apalagi, hujan yang bersifat temporer tidak akan berdampak pada daerah kekeringan. Mereka tetap akan mengalami kesulitan air.

Sebagaimana diberitakan, berdasar data badan penanggulangan bencana daerah (BPBD), sudah ada enam desa di tiga kecamatan yang mengalami kekeringan.

Yakni, Desa Gampeng, Kecamatan Ngluyu; Desa Tempuran, Kecamatan Ngluyu; Desa Ketawang, Kecamatan Gondang; Desa Sumberejo, Kecamatan Gondang; Desa Ngepung, Kecamatan Lengkong; dan Desa Pinggir, Kecamatan Lengkong.

Dari enam desa tersebut, dua desa tidak masuk prediksi BPBD. Sebelumnya, Kepala Pelaksana BPBD Nganjuk Soekonjono merilis ada sembilan desa yang diprediksi mengalami kekeringan.

Yakni, Desa Gampeng, Desa Lengkong Lor, dan Desa Tempuran. Ketiganya berada di Kecamatan Ngluyu.

Kemudian, Desa Karangsemi, Kecamatan Gondang; Desa Losari, Kecamatan Gondang; Desa Balonggebang, Kecamatan Gondang.

Ada pula Desa Ketawang, Kecamatan Gondang; Desa Ngangkatan, Kecamatan Rejoso; dan Desa Ngepung, Kecamatan Lengkong.

Dari sembilan desa yang diprediksi, baru empat desa yang terdampak. "Dua desa tambahan yang kena kekeringan sudah dibantu BPBD provinsi," katanya.

Hingga saat ini, kebutuhan air bersih untuk sekali berangkat mencapai 20 tangki atau 100 ribu liter.

Meski belum ada laporan permintaan tambahan air bersih, tim lapangan terus melakukan kontrol. Terutama untuk daerah yang sudah dipetakan.

"Hingga hari ini, belum ada surat masuk untuk tambahan air bersih," terang Soeko. (rq/ut/c17/end/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pemerintah Siapkan Rp 50 Miliar untuk Suplai Air Bersih


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler