Punya Anak Bergizi Buruk Diberitakan, Annisa Diusir dari Kontrakan

Selasa, 28 April 2015 – 01:10 WIB
Sonya Mutiara Kholby (9) terbaring di ruang perawatan RSUD Arifin Achmad Pekanbaru dengan ditemani ibunya, Annisa. Foto: Hadly Vavaldy/Pekanbaru Pos/JPNN

jpnn.com - PEKANBARU - Sonya Mutiara Kholby (9), hanya bisa terkulai lemas. Tubuhnya kurus, hanya tinggal kulit pembalut tulang.

Berat badannya juga tak seberapa, hanya sekitar 9,4 kilo saja. Tubuhnya yang mungil, meringkih di ruang perawatan RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru.

BACA JUGA: Agustus Depan Penumpang Beli Tiket Roro sudah Pakai e-Money

Ia ditemani sang Ibu, Annisa Erita (37). Pedagang jagung bakar ini tinggal di wilayah RT01/RW10 Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Bukit Raya, Pekanbaru.

Dengan pengasilan yang tak seberapa, Annisa tak bisa membawa putrinya berobat. “Saya tak sanggup,” katanya pada Pekanbaru Pos (JPNN Group), Senin (27/4).

BACA JUGA: Beginilah Kajari Kalau Tidak Tahu Tanggal Kelahirannya, Dikerjain Sama Anak Buah

Kesedihan mendalam menyelimuti raut wajah ibu tiga anak ini.  Sejak ditinggal pergi suaminya, ia harus banting tulang bekerja keras menghidupi anaknya.  Ditambah lagi, mereka berteduh dari terik panas dan hujan, di sebuah rumah kontrakan sederhana.

Alasan inilah yang membuat ibu paruh baya ini lebih bertahan di rumah merawat anaknya. Karena keterbatasan biaya dan tekanan ekonomi keluarga.

BACA JUGA: Disatukan dengan 24 Tahanan Pejabat Ini Mengaku Sesak Nafas

Berkat bantuan pemerintah melalui Jamkesda, barulah ia bisa membawa anaknya berobat ke RSUD Arifin Achmad. “Saya berharap pemerintah dapat memperhatikan anak saya ini sampai sembuh. Karena saya sungguh tak mampu,” kata Annisa.

Di balik kebahagiaan bisa mendapatkan perawatan gratis, ada kisah sedih menimpa Annisa. Sejak mencuatnya informasi mengenai kondisi anaknya, tanggapan negatif justru datang dari aparat setempat. Tanpa mau menyebut nama, Annisa mengaku diusir dari lingkungan tempat tinggalnya saat ini.

“Kami diberi waktu 10 hari harus sudah pindah dari kontrakan. Dan diminta keluar dari RT01/RW10,” ungkapnya bernada pelan.

Tangisnya pun membuncah ketika mengenang perkataan pihak RT setempat yang merasa dipermalukan. “Katanya, ibu lebih baik pindah, udah mempermalukan kami,” ujar wanita paruh baya ini menirukan ucapan ketua RT.

Padahal, kata Annisa, ia tak pernah minta penderitaan anaknya dipublikasikan. Ia juga tak pernah mengundang awak media. Jika mau, katanya, ia bisa melakukan itu sejak bertahun-tahun lalu. “Anak saya sakit seperti ini, sejak usia tujuh bulan,” katanya.

Ia pun tak bisa mengerti dengan perasaan malu yang disampaikan pihak RT dan kontrakan. Hingga akhirnya Annisa dan keluarganya dipaksa segera pindah dari lingkungan itu.

“Padahal kami tak pernah mendapatkan bantuan seperti raskin (beras keluarga miskin, red), BLT (bantuan langsung tunai, red) dan lainnya,'' kata Annisa.

Dengan pengusiran itu, Annisa hanya bisa mengelus dada. Ia belum tahu akan pindah kemana. “Untuk hidup saja kami sulit. Beginilah nasib orang kecil,” kata Annisa.

Sementara itu, Camat Bukitraya, Fiora Helmi mengaku belum menerima laporan kejadian tersebut. Ia akan mencari tahu, oknum RT yang mengusir warganya karena merasa malu. “Besok pagi saya akan cek kebenarannya,” kata Fiora pada Pekanbaru Pos.(jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Putri Dandim yang Dikabarkan Hilang Sudah Ditemukan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler