Raju Sena, Surfer Remaja Asal Bali yang Mulai Go International

Berselancar di Banyak Negara dari Uang Beasiswa

Sabtu, 11 Juli 2015 – 23:02 WIB
Raju Sena Seran dengan papan selancar yang menemaninya setiap saat. Foto: Sugeng Sulaksono/Jawa Pos

jpnn.com - Keterbatasan biaya tidak menghalangi Raju Sena Seran menggapai prestasi tinggi. Berawal dari papan bekas, putra asal Bali tersebut bisa mendunia di olahraga yang identik dengan pantai itu. Sekolahnya kini gratis dan terjamin sampai bisa masuk perguruan tinggi.

Laporan Sugeng Sulaksono, Badung

BACA JUGA: Cerita tentang Berlebaran di Negeri Orang, Cinta Laura juga tak Pulang

TERIK matahari di Pantai Padma, Legian, Bali, Kamis (9/7) siang itu menarik para wisatawan mancanegara untuk ”membakar” kulit. Sebagian berjemur, sebagian lagi bermain air. Tidak sedikit di antara mereka yang langsung mengangkat papan selancar, lalu masuk ke laut.

Di antara mereka, terdapat bocah kerempeng yang bernama Raju Sena Seran. Dalam sekejap, tubuhnya langsung hilang ditelan ombak, tapi kemudian muncul lagi, menantang ombak yang tinggi. Tiga jam lamanya dia ”bercumbu” dengan gelombang tinggi sampai akhirnya kembali menepi. ”Ombaknya lagi bagus. Sayang kalau tidak dipakai latihan,” kata remaja 14 tahun itu.

BACA JUGA: Mengintip Raisa dan Afgan yang Ikut dalam Quran Indonesia Project

Dia memang terlihat intens berlatih akhir-akhir ini. Sebab, awal tahun depan dan pertengahan 2016 dia akan mengikuti kontes di Australia.

”Tahun ini saya juga harus balik ke Hawaii (September, Red), ada training,” ucap siswa SMPK 2 Harapan, Untal-Untal, Dalung, Bali, itu.

BACA JUGA: Melihat Nasib Pegawai PSSI Setelah Disanksi FIFA dan Dibekukan Negara

Meski masih berada di kelas junior, kiprah Raju sudah mendunia. Pada 2013, dia menempati urutan keempat kelas junior dalam Rip Curl GromSearch International Final di Pantai Maresias, Brasil. Meski tidak berhasil menjadi yang terbaik, Raju bangga karena menjadi orang Indonesia pertama di kelas junior yang berhasil mengangkat piala di kejuaraan itu. Kompetisi di level tersebut menurut dia relatif sulit. ”Saya sudah coba menjadi yang terbaik,” kata dia.

Terlebih, papar Raju, proses untuk bisa ikut kompetisi itu sangat ketat. Untuk mendapatkan tiket sebagai peserta di kejuaraan tersebut, Raju harus menyisihkan puluhan surfer dari dalam negeri. Hanya yang terbaik yang berhak ikut dalam kejuaraan tersebut.

Di dalam negeri, Raju memang nomor wahid di kelasnya. Berkali-kali dia menjadi juara nasional, bahkan tingkat ASEAN. Raju menargetkan dalam empat tahun mendatang sudah bisa naik kelas ke kategori profesional dan mengikuti semua kejuaraan dunia.

”Saya yakin bisa. Karena itu, saya harus rajin latihan. Disiplin yang penting,” tuturnya. Dalam sehari, Raju bisa lima jam berlatih di tengah laut.

Selain berlatih di Pantai Padma dan beberapa spot lain di dalam negeri, dia sering menjajal pantai-pantai untuk surfing di luar negeri seperti Hawaii, Korea Selatan, dan Thailand. Itu bisa dilakukan karena Raju menjadi member internasional dan punya sponsor yang siap membiayai.

Setidaknya ada lima perusahaan yang sudah menandatangani kontrak sponsor dengan Raju. Mulai produk pakaian, pakaian dalam, kacamata, aksesori surfing, sampai sepatu. Salah satu sponsor sudah lima tahun ini setia mendukung karir Raju. Mereka bahkan memenuhi segala kebutuhan Raju, termasuk di bidang pendidikan.

Syaratnya, Raju harus tetap berprestasi di sekolah. Raju memang hebat. Sebab, meski sibuk berlatih berselancar, sejak SD hingga kelas VIII SMP kini, dia masih bisa masuk peringkat sepuluh besar di sekolah.

”Saya memang banyak bolos kalau lagi ada kejuaraan. Tapi, itu juga sudah dapat izin dari sekolah. Kalau tidak ada kejuaraan, sepulang sekolah saya langsung belajar atau mengerjakan tugas,” ucap dia.

Sedikit demi sedikit Raju sudah bisa menabung dari penghasilannya dari olahraga itu. Uang sponsor dia sisihkan untuk bekal pendidikannya kelak.

”Saya tetap harus bersekolah hingga tinggi. Tidak selamanya saya bisa hidup dari berselancar. Karena itu, kalau punya gelar dan pintar, suatu saat saya masih bisa bekerja di tempat yang layak,” harap putra ketiga di antara empat bersaudara itu.

Raju mengaku tidak menyangka bisa berprestasi sebagai surfer. Padahal, dia baru bisa berenang saat diajak berlatih berselancar oleh ayahnya, Baltasar Seran Nahak.

”Gara-garanya waktu kecil ayah sering menghukum saya di pasir pantai yang panas. Lama-lama saya tidak tahan sehingga akhirnya saya masuk air,’’ kenangnya.

Walhasil, sang ayah marah. Sekitar lima bulan Raju dilarang pergi ke laut. Dia lalu banyak bermain di sasana tinju, tempat ayahnya juga sering berlatih tinju. Sampai akhirnya pada usia 7 tahun dia diajak lagi ke pantai dan mulai diajari berselancar.

Baltasar bercerita, awalnya tidak berpikir untuk mengarahkan Raju menjadi surfer. Pria yang sehari-hari berjualan minuman di Pantai Padma sambil freelance mengajarkan berselancar kepada wisatawan itu sadar, olahraga berselancar mahal. ”Harga papannya saja paling murah jutaan rupiah. Bahkan, bisa sampai Rp 30 juta,” ujarnya.

Suatu ketika, turis mancanegara yang berselancar meninggalkan papan selancarnya karena patah. Bala, panggilan Baltasar, kemudian meminta papan selancar itu. Dia perbaiki dan hasilnya bisa kembali digunakan. ”Bisa dipakai tapi tidak sebaik sebelumnya karena sudah tidak terlalu lurus,” kenangnya.

Papan itulah yang kemudian dipakainya untuk melatih Raju yang ternyata punya bakat berselancar. Semakin lama, dia melihat perkembangan signifikan dari kemampuan anaknya menghadapi hantaman ombak.

’’Sekarang saya ganti belajar kepada Raju teknik berputar atau terbang, dan beberapa teknik lain. Dia lebih mahir,” ucap pria asal Atambua itu. Raju kini mempunyai lebih dari 15 papan selancar berbagai ukuran dan merek internasional.

Yang pasti, Bala mengajarkan disiplin tinggi kepada Raju agar bisa berprestasi. Setiap hari dia wajib berlatih dan dilarang begadang. ”Saya katakana kepada dia, saya tidak membatasi pergaulan. Tapi jangan sampai keluar malam, minum alkohol, apalagi cari perempuan. Kalau sudah kena itu, hancurlah prestasinya. Itu godaan setiap orang terutama atlet yang sudah mulai punya uang. Sejauh ini dia nurut,” tuturnya.

Bekal kedisiplinan berlatih itu ditularkan Bala yang dulu memang seorang petinju. Dia bergabung dengan sebuah sasana di Bali meskipun belum sampai ke level petinju profesional. ”Hobi saja. Saya tinju di level lokal seperti ikut kejuaraan yang digelar polda atau korem. Sekali naik ring dibayar Rp 250 ribu,” kisahnya.

Ilmu berolahraga dan kedisiplinan bertinju itu ternyata bermanfaat untuk membentuk Raju kecil. Selain disiplin berlatih, Bala tetap menerapkan disiplin tinggi untuk urusan sekolah Raju. Terlebih, dia menyadari masa depan surfer di Indonesia belum ada jaminan masa depan meskipun memiliki segudang prestasi.

”Pemerintah di negara kita belum melihat bahwa surfing juga penting. Coba saja, sejak pantai di Banyuwangi itu sering kita datangi dan ada kejuaraan di sana, sekarang mulai terkenal. Penting untuk pariwisata,” ungkapnya.

Ibunda Raju, Ni Luh Gede Ernawati, mengaku bangga dengan perkembangan Raju. Tidak menyangka di usia sekarang selain membuat bahagia karena prestasinya juga sudah tidak lagi bergantung kepada orang tuanya.

”Sekolahnya sudah gratis dan dia bisa bepergian ke luar negeri. Saya sama bapaknya memang tidak bisa ikut kalau dia pergi karena sponsornya hanya untuk dia,” ujar guru di sebuah SMP daerah Kerobokan, Bali, itu.

Ni Luh mengaku tidak menyangka Raju bisa berani menghadapi ombak. Sebab, saat kecil dia sebenarnya takut dengan air laut dan tidak bisa berenang. ”Mungkin karena bapaknya ajarkan disiplin itu, akhirnya berani,” ucapnya. (*/c11/c10/ari)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Angkut 1.525 Bambu via Kapal Laut hingga ke Hamburg


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler