Rencana Wisata Halal di Kawasan Danau Toba Menuai Kontroversi

Selasa, 03 September 2019 – 23:09 WIB
Ketua Umum Aliansi Kita Indonesia Dicky Ricardo Gultom. Foto: Dokpri for JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Rencana Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi menyajikan wisata halal di kawasan Danau Toba menuai kontroversi di kalangan masyarakat, termasuk aktivis. Ada yang mendukung dan ada juga yang kontra.

Ketua Umum Aliansi Kita Indonesia Dicky Ricardo Gultom menyatakan dukungannya terhadap rencana wisata halal di Danau Toba.

BACA JUGA: Tim Quick Win Superprioritas Tancap Gas Garap 33 Destinasi di Danau Toba

Namun, Dicky sapaan Ricky Ricardo Gultom mengingatkan agar segala aturan yang dibuat harus melibatkan seluruh elemen masyarakat seperti tokoh masyarakat dan agama yang ada di kawasan Danau Toba.

Menurut Dicky, berbicara skala nasional, Indonesia memiliki beragam agama, adat, dan budaya.

BACA JUGA: KLHK Beberkan Alternatif Penanggulangan Pencemaran Air di Danau Toba

"Bila ingin mewujudkan Danau Toba sebagai kawasan wisata internasional, maka kita harus siap membuka diri dengan menyediakan fasilitas yang menunjang datangnya wisawatan dari semua etnis," terangnya.

Dicky menuturkan orang-orang yang diundang untuk merumuskan aturan wisata halal tersebut harus profesional dalam memberikan pandangan untuk kemajuan wisata Danau Toba.

BACA JUGA: Kemenhub Akan Perpanjang Landasan Pacu Bandara Sibisa

"Mari kita kawal agar budaya dan kearifan lokal yang ada di kawasan Danau Toba dapat tetap dilestarikan. Walaupun nantinya ada aturan tentang wisata halal itu," ucapnya.

Dicky mengatakan, pihaknya mendorong agar pemerintah, baik daerah maupun pusat, dapat memperhatikan generasi penerus. Salah satunya membina sanggar-sanggar yang ada dan melibatkan kaum muda untuk mengenal, mencintai serta menjaga kearifan adat dan budayanya agar tidak punah.

Dicky berpendapat, sejauh ini, sudah ada fasilitas seperti makanan halal, di kawasan Danau Toba.

"Kalau tujuan wisata halal ini bukan untuk membuang kearifan lokal yang ada di sana, pasti kita dukung,” ujarnya.

Dicky menambahkan dengan adanya fasilitas-fasilitas yang halal, wisatawan yang datang ke Danau Toba akan merasa nyaman. Sebab, kebutuhan mereka tersedia di sana.

Sementara itu, aktivis lingkungan, Togu Simorangkir keberatan dengan rencana labelisasi wisata halal di kawasan Danau Toba oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

Togu Simorangkir bahkan berencana menggelar Festival Babi di Danau Toba pada 25 Oktober 2019.

Togu mengatakan, ide ini muncul secara mendadak karena mendengar wacana labelisasi wisata halal di Danau Toba. Dengan pagelaran Festival Babi, sambung Togu, dapat menyentuh seluruh masyarakat di tujuh kawasan Danau Toba.

Festival ini juga memberikan edukasi ke masyarakat untuk tidak membuang limbah kotoran babi ke Danau Toba.

“Kami mengedukasi juga kepada masyarakat supaya babinya jangan berkeliaran,” ujar Togu, belum lama ini.

Togu menjelaskan, dirinya akan mengajarkan kepada masyarakat untuk membuat bio gas dari kotoran babi. Ia berharap festival ini menjadi agenda pariwisata rutin di Kawasan Danau Toba.

Dia menilai rencana wisata halal itu merupakan bentuk kemunduran pariwisata di Danau Toba. Dia berharap Gubernur Sumut untuk lebih memberi perhatian terhadap kelestarian lingkungan.

"Danau Toba tidak perlu labelisasi halal atau tidak halal. Karena selama ini sudah berjalan baik. Makanan halal sudah tersebar di kawasan Danau Toba,” katanya.(fri/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Simak Kata Ipang Wahid soal Storynomics Tourism, Pendekatan Baru Pariwisata Indonesia


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler