Ridho-Herman Bersaing di Pilgub Lampung

Kamis, 10 April 2014 – 17:15 WIB

jpnn.com - BANDARLAMPUNG – Seperti yang diprediksi banyak pihak, dua pasang calon yakni M. Ridho Ficardo-Bachtiar Basri (Ridho Berbakhti) dan Herman H.N.-Zainudin Hasan (Manzada), bersaing ketat dalam Pemilihan Gubernur Lampung. Rabu (9/4). Setidaknya, tiga hasil quick count (QC) menunjukkan keunggulan Ridho Berbakhti. Sementara dua lembaga lain memenangkan pasangan Herman H.N.-Zainudin Hasan.

Ridho Berbakhti menjadi yang pertama pada versi QC Rakata Institute setelah meraih perolehan suara 45,04 persen disusul pasangan Manzada dengan persentase suara 31,90 persen. Kemudian disusul pasangan Berlian Tihang-Mukhlis Basri (Berlian-Mu) dengan raihan 15,34 persen dan di urutan terakhir pasangan M. Alzier Dianis Thabranie-Lukman Hakim (Aman) yang hanya meraih 7,72 persen suara.

BACA JUGA: Ratusan Surat Suara Dicoblos Sebelum Pemungutan

Namun, menurut Direktur Rakata Institute Eko Kuswanto, penghitungan suara pilgub yang ditutup hingga pukul 22.00 WIB tadi malam masih sangat prematur karena jumlah suara yang masuk baru mencapai 37,31 persen. Dengan tingkat kepercayaan 99 persen dan margin of error sebesar 1,5 persen.

’’Artinya, data yang kami keluarkan memang tidak benar-benar valid karena suara yang masuk masih belum dinilai cukup,” kata Eko seperti yang dilansir Radar Lampung (JPNN Group), Kamis (10/4).

BACA JUGA: Bagi-bagi Amplop, Timses Caleg Demokrat Ditangkap

Dia melanjutkan, seharusnya jika pengaturan penghitungan suara bisa berjalan dengan teknis yang berurutan, pada waktu Rakata Institute merilis pukul 21.30 WIB, tingkat kepercayaannya bisa lebih signifikan. "Kami mengalami kendala pada waktu di lapangan karena rata-rata penghitungan suara yang dilakukan di TPS tidak menggunakan aturan yang baku dari KPU,” katanya.

Eko menambahkan, untuk selanjutnya Rakata Institute masih tetap akan menghitung cepat. Namun, rilis yang diberikan kepada publik hanya sampai pukul 22.00 WIB. ’’Kita tetap hitung. Namun, hasilnya tidak untuk di-publish ke umum,” ujarnya.

BACA JUGA: Bupati Enthus Canangkan Gerakan Rogoh Kantong

Sementara hingga pukul 00.35 WIB tadi malam, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) masih melakukan QC. Dari 300 sampel TPS, baru masuk 151 TPS.

’’Kita sudah 76 persen perolehan suara. Hasilnya, pasangan Ridho Berbakhti 43,51 persen, Manzada 32,91 persen, Berlian-Mu 15,89 persen, dan Aman 7,69 persen. Rencananya diterus hingga selesai malam ini, bergantung relawan. Tapi, menurut mereka, siap selesai malam ini,” kata Ketua Divisi Komunikasi DPD Partai Demokrat Lampung Imer Darius tadi malam.

Pasangan Ridho Berbakhti juga unggul dalam QC versi Jaringan Survei Indonesia (JSI) dengan perolehan 42,70% disusul Manzada (34,16%), Berlian-Mu (15,60%), dan Aman (7,54%).

Namun, penghitungan JSI yang dipusatkan di rumah dinas wali kota Bandarlampung terpaksa dihentikan sekitar pukul 22.30 WIB atau ketika proses penghitungan baru mencapai 50,78 persen.

Herman H.N. menghentikan proses penghitungan itu dengan memanggil dan mengumpulkan tim survei karena mencurigai ketidakbenaran hasil QC tersebut. ’’Masak hasil QC saya kalah, padahal hasil manual menang. Berarti ini kan sudah nggak benar," cetus Herman H.N.

Sang istri orang nomor satu di Kota Bandarlampung ini, Eva Dwiana, yang ikut tersulut emosinya langsung memanggil beberapa orang untuk mengawal penyerahan kotak suara ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).

"Saya minta ada yang mendampingi kotak suara itu sampai ke KPU. Karena dari penghitungan manual menang, tapi penghitungan QC kalah. Jadi harus ada yang mengawal," tegasnya.

Pasangan Manzada unggul berdasarkan versi QC Lembaga Penelitian Universitas Lampung (Unila) dalam bentuk Real Count Information System (RCIS) dengan sistem penghitungan suara berdasarkan population based.  

Namun, karena beberapa kendala di lapangan, hingga pukul 01.00 WIB tadi malam, pasangan Manzada unggul telak dengan perolehan 54% disusul Ridho Berbakhti (24%), Berlian-Mu (16%), dan Aman (6%).

Menurut Ketua Lemlit Unila Admi Syarif, survei ini hanya dikhususkan di Bandarlampung dengan melibatkan 269 orang surveyor dan 1.639 relawan. Koordinator pelaksana Hartoyo menambahkan, untuk rekapitulasi penghitungan suara berdasarkan statistik diharapkan 0 persen margin of error karena peraihan suara dari populasi dengan variabel pengganggu dapat diminimalisasi dengan antisipasi ketat. Selain itu, dengan IT yang mutakhir dapat meng-cover data 400 relawan di 1.639 TPS yang tersebar di 6 daerah pemilihan (dapil) di 20 kecamatan.

Sementara berdasarkan hasil real count Pusat Studi Strategi dan Kebijakan Publik (Pussbik) Lampung, sampai pukul 01.00 WIB merilis kemenangan Manzada dengan raihan 42 persen. Disusul dengan Ridho Berbakhti (38 persen), Berlian-Mu (13 persen), dan Aman (7 persen). Jumlah ini berasal dari data yang dikumpulkan 172 desa dari 260 desa yang masuk ke real count. Penghitungan ini melibatkan sebanyak 262.159 suara sah.

Direktur Eksekutif Pussbik Lampung, Aryanto menyatakan pihaknya melakukan real count secara manual dengan menempatkan anggotanya ke tiap TPS. "Jadi hasil manual yang kami lakukan pasangan Herman HN memenangkan hasil Pilgub ini. Makanya kami tidak percaya dengan hasil quick count," ungkap Aryanto tadi malam.

Atas dasar tersebut, sambung Aryanto, pihaknya mempertanyakan netralitas Panwas, bawaslu dan KPU di lampung atas salah satu QC yang ada di sebuah TV swasta nasional.

"Sampai sekarang (01.30WIB dini hari) perhitungan itu belum selesai. Nah, yang jadi pertanyaan, apakah quick count itu dijadikan alat untuk membentuk opini atau seperti apa? Ini kan aneh, karena secara perhitungan manual, herman menang, makanya kami menolak quick count yang  ada," tandasnya.

Jika merujuk hasil-hasil QC ini, besar kemungkinan pelaksanaan pilgub hanya berlangsung satu putaran. Sebab, berdasarkan Undang-Undang No. 12/2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah pasal 107 ayat 1 dan 2 berbunyi: ’’Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 50% (lima puluh persen) jumlah suara sah ditetapkan sebagai pasangan calon terpilih”.

Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terpenuhi, pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 30% (tiga puluh persen) dari jumlah suara sah, pasangan calon yang perolehan suaranya terbesar dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih.

Hal ini sesuai dengan prediksi beberapa pengamat sebelumnya. Seperti diberitakan, sebagian kalangan meyakini Pilgub Lampung hanya akan berlangsung satu putaran. Keyakinan ini diungkapkan dua akademisi Unila, Dr. Suwondo dan Dr. Deddy Hermawan.

Suwondo, misalnya. Menurut dia, kekuatan empat pasang calon tak merata. Prediksi itu didasarkan pada kajian sejumlah penelitian. ’’Saya perkirakan satu putaran. Karena penelitian teman-teman, ada calon yang di atas 30 persen. Saya tak menyebut nama. Tidak etis. Yang lain berkisar 21–22 persen,” katanya kepada Radar Lampung, Senin (7/4).

Meski demikian, dosen FISIP Unila ini tidak menutup kemungkinan terjadinya dua putaran jika ada faktor pendukung. Faktor ini, antara lain, jika calon yang potensi perolehan suaranya rendah tiba-tiba melakukan manuver politik yang bagus. ’’Tapi, kalau seminggu atau setengah bulan lalu manuvernya, saya kira sulit berubah,” ujarnya.

Dalam kacamatanya, kecenderungan setiap calon akan memperkuat basis massa tetap ada. Sebab, dari basis massa itulah, menurutnya, para calon bisa berharap banyak. Misalnya, cagub Herman H.N. yang menjabat wali kota Bandarlampung. ’’Suka tidak suka, orang Bandarlampung akan mendukung dia. Pak Lukman (Lukman Hakim, wali kota Metro/cawagub berpasangan dengan M. Alzier Dianis Thabranie, Red) juga begitu. Bachtiar Basri (bupati Tuba Barat/cawagub berpasangan dengan M. Ridho Ficardo, Red) kemungkinan juga akan didukung penuh warga Tuba dan Tuba Barat,” ungkapnya.

Kondisi ini menciptakan daerah yang bukan basis massa asli para calon menjadi medan pertempuran. ’’Misalnya, Kabupaten Pringsewu, Pesisir Barat, sampai Waykanan,” ujarnya.

Senada, Deddy juga meyakini Pilgub Lampung akan berlangsung satu putaran. Artinya, ada calon yang berhasil meraup suara 30 persen. Hanya, menurut Deddy, perbedaannya akan tipis. ’’Kalau kita lihat berbagai survei, posisinya masih satu putaran. Hanya memang perbedaannya tipis. Tapi, dia lolos untuk satu putaran,” ucapnya.

Deddy secara lugas melihat konfigurasi pertarungan akan didominasi oleh dua pasangan calon gubernur saja. Yakni pasangan nomor urut 2 M. Ridho Ficardo-Bachtiar Basri dan pasangan nomor urut 3 Herman H.N.-Zainudin Hasan.

’’(Pasangan, Red) Itu yang dari awal begitu intensif dan masif. Hanya dua ini yang relatif maju terus. Sehingga bisa satu putaran. Di antara dua kandidat itulah yang akan unggul,” tegasnya. (abd/yud/fit/p2/c2/fik)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Politisi PKB Siapkan 50 Kamar VIP untuk Caleg Depresi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler