Satu Lagi Perusahaan di Batam Tutup, Ribuan Buruh Bakal Kena PHK

Selasa, 02 Juli 2019 – 00:45 WIB
Pekerja di pabrik. Foto: JPG/Pojokpitu

jpnn.com, BATAM - Memasuki semester kedua 2019, sektor industri Batam mengalami perubahan yang membuat ribuan pekerja harus terancam pemutusan hubungan kerja (PHK). Setelah PT Foster Indonesia, sekarang giliran PT Unisem Batam yang berada di Kawasan Batamindo.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Batam, Rudi Sakyakirti mengatakan dari 1.505 karyawan Pt Unisem Batam yang ada saat ini, sebanyak 1.127 orang merupakan karyawan permanen dan sisanya 379 orang masih kontrak.

BACA JUGA: Nekat Beraksi di Kawasan Mal, Penjambret Babak Belur Diamuk Massa

"Kemarin mereka sudah datang ke kantor terkait rencana penutupan ini. Memang kondisi perusahaan yang terus merugi menjadi faktor tutupnya perusahaan dan ribuan karyawan terpaksa dirumahkan," kata Rudi, Sabtu (29/6).

Sesuai dengan peraturan yang ada, perusahaan harus menyelesaikan seluruh hak karyawan menjelang berhentinya produksi barang. Perusahaan rencananya akan berhenti total 30 September mendatang.

BACA JUGA: Pemko Batam Gandeng Kankemenag Tingkatkan Layanan Dokumen Sipil

BACA JUGA: Bocoran dari Ketua KPK soal 2 Tersangka Baru Kasus Korupsi E-KTP

Karyawan yang masih memiliki sisa kontrak nanti perusahaan akan membayar sesuai dengan sisa kontrak yang telah disepakati. Sedangkan untuk yang sudah merupakan karyawan permanen akan dihitung berdasarkan masa kerja mereka.

BACA JUGA: Mantan Perwira Polisi Otak Pembunuhan Sang Istri Huni Sel Maximum Security

"Jadi kami fokus ke hal ini. Perusahaan harus memenuhi hak semua karyawan sebelum tutup total. Saat pertemuan dengan Disnaker mereka juga menyepakati hal ini," ungkapnya.

Rudi menambahkan informasi tutupnya perusahaan Unisem ini terbilang mendadak. Mereka menyampaikan bahwa keadaan perusahaan tidak sanggup untuk bertahan dan memutuskan menutup perusahaannya.

"Nanti kan saat audit eksternal diketahui apa yang membuat kerugian begitu besar. Kenapa selama ini bisa bertahan dan sekarang harus berhenti. Menurut mereka ini sudah jalan terakhir dan mereka memenuhi untuk membayarkan hak karyawan sesuai ketentuan," jelas Rudi.

Rudi menyebutkan kondisi ini berbeda dengan perusahan Foster yang sebelumnya juga memutuskan untuk menutup pabriknya di Batam. Usia perusahaan yang sudah beroperasi cukup lama membuat pekerja yang akan di-PHK nanti kebanyakan bukan usia produktif.

"Mereka sudah bekerja puluhan tahun di sana. Untuk mereka yang masih usia produktif bisa mencari pekerjaan lain. Dalam waktu dekat ini kan ada perusahaan Vegatron yang akan mulai beroperasi dan kebutuhan cukup banyak. Semoga mereka yang kena dampak tutupnya Unisem bisa diterima di perusahaan tersebut," harapnya.

Indah, 22, salah seorang karyawan Unisem mengatakan informasi tutupnya perusahaan sudah beredar di pesan singkat dan grup percakapan karyawan. Menurutnya alasan perusahaan tutup karena mengalami kerugian.

"Produksi memang masih ada, namun tidak banyak. Mungkin karena orderan yang masuk tidak sebanyak dulu," kata dia.

Menurut informasi di grup obrolan, karyawan tetap bekerja sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan hingga waktu penutupan tiba. Rencananya perusahaan akan berhenti beroperasi September mendatang, berarti masih ada waktu dua bulan dari sekarang.

"Kontrak masih hingga Januari tahun depan. Jadi masih ada tujuh bulan lagi. Kalau memang September tutup berarti ada pembayaran sisa kontrak sebanyak empat bulan gaji," terangnya.

Indah mengungkapkan saat ini harus mulai memikirkan pekerjaan baru setelah perusahaan yang mengontraknya selama dua tahun ini berakhir. Keresahan akan menjadi pengangguran di depan mata. Menurutnya bulan Juli ini cukup banyak karyawan yang akan habis masa kontraknya.

"Kalau saya berharap sisa kontrak dibayarkan. Setelah itu barulah siap-siap mencari pekerjaan baru. Sekarang cari kerja susah. Setiap hari banyak pencari kerja yang berebut lowongan," ungkapnya.

Setelah kabar tutupnya operasional PT Unisem di Batamindo, kemarin situasi perusahaan masih tampak normal. Karyawan perusahaan masih bekerja seperti hari biasanya. Menurut informasi jumlah pekerja akan berkurang secara bertahap menyusul pemberitahuan perusahaan akan tutup.

"Beberapa Karyawan masih bekerja seperti biasa setelah mendapat informasi bakal tutup. Mungkin kebijakan kedepannya tinggal menunggu keputusan dari pimpinan," kata Purnomo Security PT Unisem.

Meski sudah kehilangan dua perusahaan besar yang menutup pabriknya di Batam, Badan Pengusahaan (BP) tetap optimis akan ada sejumlah investor baru yang datang menggantikannya. Contohnya Volex yang akan segera ekspansi dan menyerap tenaga kerja hingga ribuan.

"Soal Unisem memang disayangkan, tapi mereka memang sudah lama menghadapi masalah penyesuaian persaingan bisnis global yang sangat dinamis," kata Kepala BP Batam, Edi Putra Irawadi, Sabtu (29/6).

Jika ada perusahaan yang juga pergi karena mencari upah murah, BP juga taqk akan menghalangi karena itu merupakan keputusan bisnis."Kita akan berusaha terus memanjakan dan menjaga investasi yang ada dan menggoda investasi baru," katanya lagi.

BP juga siap memberikan pelayanan terbaik bagi perusahaan yang berniat ekspansi di Batam.

Sejumlah insentif dan fasilitas menarik di Batam yang diminati para investor antara lain seperti pembebasan Pajak Bea Masuk Impor dan Ekspor, embebasan Pajak Pertambahan Nilai (Value Added Tax), fasilitas GSP (Generalized System ofPrefrences), perjanjian penghindaran pajak berganda dengan 57 Negara, biaya investasi yang terjangkau, keamanan dan kenyamanan menyimpan data di DRC (Data Recovery Center) BP Batam serta lokasi yang begitu strategis menjadi kehandalan Batam.

"BP akan berkonsolidasi dengan stakeholders terkait baik di daerah maupun pusat dalam kaitannya untuk memberikan kenyamanan dan keamanan bagi para pelaku industri di Batam," paparnya.

Sedangkan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid mengatakan tutupnya Unisem karena pendapatan yang mereka hasilkan tidak mampu lagi menutupi biaya operasional yang dikeluarkan.

BACA JUGA: Agustus Puncak Kemarau, Ini Daftar Daerah Terlama Tanpa Hujan

"Hal ini bisa terjadi karena kalah bersaingnya produknya di pasaran. Bisa juga karena biaya operasional yang terus meningkat tiap tahunnya," ucapnya.

Kondisi pasar global memang sedang mengalami perlambatan pertumbuhan akibat sejumlah momen, seperti momen perang dagang antara Amerika dan Tiongkok yang memengaruhi penjualan perusahaan dari negara lain.

Selain perang dagang, biaya operasional memang dipastikan terus meningkat karena terus naiknya upah minimum secara signifikan tiap tahunnya.

"Namun kenaikan upah tidak diikuti dengan peningkatan produktivitas tenaga kerja. Akibatnya, beban perusahaan semakin berat, termasuk Unisem yang padat karya dengan 1500-an pekerja," jelasnya.

Disamping itu, kondisi pelabuhan Batuampar dinilai tidak efisien untuk pergerakan barang. Banyak peralatan bongkar muat yang harusnya diganti tetapi ternyata masih dipakai.

"Akibatnya dari segi waktu dan biaya, perusahaan di Batam yang mengirim produknya keluar negeri akan menanggung biaya tinggi dan waktu handling yang lambat," jelasnya.

Pihaknya sudah mengingatkan BP Batam agar ongkos angkut kontainer dibuat murah dan modernisasi pelabuhan dipercepat.

Rafki juga mengatakan kondisi investasi yang ideal yakni investor lama tetap bertahan sambil Batam menerima investor baru."Jika ada yang masuk, kemudian ternyata ada yang keluar, artinya pertumbuhan lapangan kerja di Batam akan jalan di tempat," jelasnya.

"Kita berharap tutupnya Unisem dapat berlangsung lancar, dimana kewajiban terhadap karyawan bisa diselesaikan dengan baik. Kita juga berharap tidak ada lagi yang tutup," pungkasnya. (zul/azis/ris/BP)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pabrik Daur Ulang Limbah Plastik asal Tiongkok Itu Akhirnya Tutup


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler