Saya Sempat Kalang Kabut

Minggu, 23 Oktober 2011 – 20:50 WIB
Wiendu Nuryanti. Foto: Nicha Ratnasari/JPNN

LAMA berkiprah di dunia kampus, ProfDr

BACA JUGA: Sebagai Tokoh, Saya tak Boleh Sembunyi

Ir
Wiendu Nuryanti, M.Arch  tidak banyak dikenal publik

BACA JUGA: KPK Sudah Meneror

Momen reshuffle kabinet telah memaksa publik untuk lebih mengenal sosok perempuan yang kini menjabat sebagai Wakil Mendikbud Bidang Kebudayaan itu
Apa yang akan dilakukan dengan jabatan barunya itu? Berikut wawancara wartawan JPNN, Nicha Ratnasari, di ruang kerjanya, akhir pekan lalu

BACA JUGA: Saya Pikir Saya Akan jadi Wamentan



Anda dari dunia kampus dan sekarang di pemerintahanSudah siap?
Kalau dari sisi substansi, ini bukanlah dunia baru bagi sayaSelama ini saya juga sudah banyak belajar dari kebudayaan, dalam arti menyusun mengenai rencana induk pengembangan kebudayaan nasionalKemudian, menyusun draft naskah akademis untuk UU KebudayaanSaya kira sejak tahun 1992 sudah mengadakan forum berseri mengenai international conference culture and tourismItu setiap dua tahun sekali di UGMPembicara - pembicara yang hadir adalah Sekjen PBB kemudian ada pemikir-pemikir masa depanDalam hal ini kita membahas bagaimana agenda-agenda pengembangan budaya ke depan.

Bagaimana visi dan misi Anda untuk mengembangkan budaya?
Selain visi dan misi yang tepat dan secara konkrit bersama, tentunya akan dipikirkan bersama melalui rembuk-rembuk budayaKalau gagasan saya mengenai itu, kalau untuk visi tentu bagaimana menciptakan budaya kita menjadi tangguh, yang bermartabat, yang berdaulatArtinya menjadi miliki masyarakat bersama dan juga dihormati di tingkat duniaTentunya tetap berlandaskan pada UUD 1945, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, dan prinsip-prinsip yang melandasi jatidiri kitaKemudian, ke depan juga bagaimana misi untuk turut serta agar kebudayaan Indonesia bisa berkontribusi pada agenda pembangunan kebudayaan di dunia.

Caranya?
Tentunya kita harus berupaya dulu agar kebudayaan kita dihormati duniaKedua, dengan cara kita harus bisa mempengaruhi melalui panggung-panggung atau forum - forum dan juga representasi di tataran kebudayaanContohnya, di Jakarta kan ada British Council, Erasmus Huis, Central Culture FranceItu kan kantong-kantong kebudayaanNah, kita juga harus mampu hadir di dunia, khususnya di negara-negara strategis, di mana menciptakan kantong-kantong kebudayaan Indonesia dan bisa diakses sehingga dekat dengan masyarakat dunia.

Apakah memang selama ini belum ada kantong-kantong kebudayana Indonesia di luar negeri ?
Kalaupun ada, biasanya sifatnya hanya pecinta kebudayaan Indonesia yang membentuk paguyuban atau asosiasiBelum secara terstruktur dan belum menjadi program pemerintah gitu lho.Jadi hanya spontanitas saja, dan bukan pemerintah yang mendirikan.

Negara-negara mana saja yang menjadi sasaran pemerintah untuk membuat kantong budaya Indonesia?
Kita belum sampai ke sana, dan ini masih gagasanJadi, tentu ini akan dirembuk lagi negara-negara mana yang pantas untuk kita datangi dan bisa memperkaya pengembangan budaya Indonesia.

Mengenai kurikulum pendidikan kebudayaan bagaimana ?
Kalau itu pembangunan karakter, dan memang harus melalui kurikulumItu penting sekali diketahui bahwa kurikulum itu proses dan memerlukan waktu yang panjangSehingga kan jelas melalui pendidikan formal Barangakali juga sangat dimungkinkan untuk pendidikan informal, dan bisa menjadi pembentuk karakter lagi.

Lalu,  dengan perfilman, apakah masuk di dalam Kemenbud atau Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ?
Kalau melihat dari usaha dan industrinya itu memang lebih dekat ke industri kreatifTapi kalau melihat perlindungan terhadap nilai-nilai dan dampaknya agar tidak merusak dan sebagainya, itu ada di tangan kebudayaanSaya kira, di kehidupan nyata memang sudah memisahkan antara kedua hal itu.

Apa sudah ada pembicaraan dengan Mendikbud mengenai hal ini?
Belum ada pembahasan, dan tetapi baru segera akan dibahasTapi memang kalau saya melihat, untuk film ini usaha dan industrinya memang masuk di dalam ekonomi kreatifMungkin sensor filmnya bisa berada di bawah KemendikbudTapi itu kan tidak masuk akal jika ditangani dua kementerianMaka itu, nanti akan dibahas antara dua kementerian ini

Bagaimana sih ceritanya saat dipanggil ke Cikeas?
Ya tentu saya dihubungi oleh Pak Sudi SilalahiPada saat itu, saya sedang membantu anak saya mengerjakan PRSaya pikir, barangkali ini saatnya dan suatu amanah untuk membangun kebudayaan dengan ilmu yang saya dapat selama ini.

Anda sempat nervous ya?
Iya, tentuSaya kan seorang guru, dosenKalau masuk ke dunia pemerintahan ini, saya sempat kalang kabut, pasti bakal ini dan ituHiruk pikuk gitu lahSaya kan tidak berpikir masuk ke jajaran pemerintahanTapi mudah-mudahan banyak pihak yang bisa membantu saya menjalankan tugas ini termasuk mediaYang saya inginkan itu, hanya satuJangan sampai kebudayaan itu terpinggirkanItu saja dehItu harus menjadi pilar penting untuk membangun bangsa ini.

Menjelang pelantikan sebagai wamen, ada persiapan khusus ?
Ya, saya sempat tidak bisa tidurBukan hanya karena mau pelantikan, tetapi juga khawatir dengan rumah saya di Yogyakarta yang sedang hujan deras, apalagi letaknya di lereng gunung MerapiKebetulan malam itu juga hujan deras.

Anda menyiapkan kebaya khusus untuk pelantikan?
Ah tidakTahu nggak, kebaya yang saya kenakan waktu pelantikan adalah kebaya yang saya pakai waktu pengukuhan saya sebagai  guru besar beberapa waktu laluMalu-maluin ya..hahaha..Tapi memang saya orangnya tidak suka yang ribetSaya suka yang simple ajaWarna putih, dan kebetulan itu warna favorit saya.
Saya ini orangnya, kalau sudah suka dengan satu baju, bakal saya pakai terusJadi kalaupun ada yang baru, pasti bakal kembali yang itu-itu lagi ..hahaha..

Apa Anda pada dasarnya memang senang mengenakan kebaya?
TidakKalau untuk keseharian, saya lebih senang mengenakan batik, yang comfortable dan bisa jalan cepatPaling tidak, pakaian yang saya pakai tidak mengganggu kegiatan saya lah.

Sebagai Wamendikbud bidang Kebudayaan, Anda pernah berpikir untuk menjadi trensetter atau icon kebudayaan melalui  pakaian yang Anda kenakan sehari-hari di kantor?
Kalau saya memang pada dasarnya menyukai batik dan kain-kain tradisionalAda lurik dan sebagainyaTidak mengoleksi, tetapi ya ada beberapaSaya memang suka bangetTapi kalau untuk model pakaian, yang biasa-biasa saja lah ..

Tentunya sebagai Wamen waktu Anda untuk keluarga akan berkurang, apa keluarga sudah siap?
Alhamdulillah keluarga saya sudah siapAnak saya sejak kecil sudah sering saya tinggal ke luar kota , jadi sudah terbiasaTapi memang saya akui, dengan saya menjabat sebagai Wamendikbud ini akan lebih menguras tenaga dan waktu saya dengan keluarga.

Keluarga masih di Yogya?
Saya masih suka bolak-balikKebetulan keluarga masih menetap di Yoyakarta, dan saya tinggal bersama adik saya di JakartaKalau bolak-balik, saya juga tidak masalah, kan hanya 50 menit menggunakan pesawat, jadi setiap akhir minggu bisa pulang ke Yogyakarta.

Apa ada rencana untuk memboyong keluarga ke Jakarta?
Kita lihat dulu lahKarena kalau pindah ke Jakarta, tentunya saya harus memindahka nsekolah anak sayaKalau misalnya di Yogyakarta nanti terlalu repot, ya tidak menutup kemungkinan hijrah ke JakartaTapi itu masih lama dan membutuhkan waktuHarus dipikirkan lagi bersama keluarga.***

BACA ARTIKEL LAINNYA... Paling Menegangkan Pelayanan Konsumsi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler