Setiap Hari Siswi SMA Ini Mendorong Becak, Angkut Dagangan Ortu

Senin, 01 Februari 2016 – 00:16 WIB
Sepni Yunandia. Foto: Padang Ekspres/JPG


GADIS remaja ini patut diacungi dua jempol. Betapa tidak, sebelum berangkat ke sekolah ia lebih dulu berkutat di dapur, membantu mengangkut barang dagangan ke kedai, selanjutnya barulah bisa berangkat ke sekolah.  Dia tak malu diantar bapaknya pakai becak dayung ke sekolah.  Rutinitas itu berlangsung sejak masih duduk di bangku SD. Bagaimana kisahnya?

YULICEF ANTHONY— Solok

BACA JUGA: Teluk Sepi dan Ikan Lepuq Api yang Paling Diburu Wisatawan

Sepni Yunandia,16, anak keempat dari tujuh bersaudara pasangan Mawardi,55, dan Yusnawati,49. Meski secara usia terbilang masih labil, namun soal kepribadian dia sudah matang.

Dikala teman-teman sebayanya di pagi sumringah berlalu-lalang menuju sekolah dengan sepeda motor “rancak” pemberian orang tua, justru Nadia -demikian ia biasa dipanggil-antusias mendorong becak dayung yang terisi penuh dengan barang dagangan milik orangtuanya menuju areal Terminal Angkot Pasar Raya Solok. Bila hujan turun mengguyur, Nadia sigap menutup tubuhnya pakai plastik.   

BACA JUGA: Kalibiru, Surga Kecil di Bukit Menoreh

Dengan sekuat tenaga becak buntut didorongnya,  sampai akhirnya tiba di sebuah kedai tempat orang tuanya mengais rezeki, berjualan makanan dan minuman tradisional. Begitu  becak diparkirkan, semua barang-barang langsung diturunkan, selanjutnya barulah bersiap-siap berangkat sekolah, SMA Negeri 4 Kota Solok. 

“Begini rutinitas saya tiap pagi, sebelum berangkat ke sekolah mesti membantu orang tua mengangkut barang dagangan ke terminal. Maklum Bapak sudah tua, sementara Ibu sudah menunggu di sana, ” tukas Nadia, didampingi Ketua Markas PMI Kota Solok, Roni D Daniel, Minggu (31/1). 

BACA JUGA: Melihat dari Dekat Kehidupan Warga Penjaringan

Dia  mendorong becak sejauh ratusan meter dari rumah kontrakan di kawasan belakang STAI Solok, Kelurahan Nan Balimo. Sebelum itu, setelah bangun subuh, dia membantu Ibu membuat gorengan seperti  bakwan, tahu isi, pastel, kuah cabai, dan lain sebagainya.  Dia  juga kebagian jatah menanak nasi, membuat menu makanan yang  biasa dijual di kedai. Sedangkan saudarannya yang lain, juga mendapat tugas yang lain.

Sebenarnya  warung kaki lima keluarga kecil sederhana tersebut tak lebih baik dari sebuah lapak kakilima, berukuran hanya sekitar 3 X 2 meter. Di tengah terdapat sebuah meja dari kayu, ada  bangku duduk terbuat dari kayu pula. Namun oleh warga terminal biasa disebut Ampara Ayah, dengan pelanggannya meliputi kalangan sopir, agen angdes/ angkot, serta warga umum yang tengah berlalu-lalang. 

Selain menjual beraneka gorengan,  cemilan serba seribu, di Ampera Ayah  juga menyediakan nasi padang seharga 10 ribu rupiah. Begitupun melayani minum kopi, the telur, teh es, ekstrajos dingin, serta lain sebagainya.

“Saya membantu Bapak sejak masih duduk di bangku SD, namun karena masih kecil cenderung hanya mendampingi beliau mendorong becak, kadang saya merengek naik ke atasnya,” cerita Nadia.

Apakah malu lantaran tiap pagi harus mendorong becak sambil mengenakan seragam lengkap sekolah. Nadia pun spontan membalas dengan senyuman kecil, seraya berupaya menyembunyikan wajahnya sambil memencet ponsel di tangannya. 

“Soal keinginan, saya juga punya sebuah impian. Yakni bagaimana nantinya bisa membahagiakan kedua orangtua, hingga kelak mereka bisa hidup lebih tenang. Sebab itu saya pun sering berangan-angan untuk  bisa menjadi dokter,” ujarnya pula.

Sebagai  penghasilan tambahan, Ayahnda Nadia, Mawardi,  terkadang juga diminta oleh pengusrus Masjid menjalankan kotak amal ke rumah-rumah warga, serta jadi kuli bangunan bila ada kesempatan. Maklum keluarga kecil ini dari puluhan tahun silam tetap saja masih mendiami  rumah kontrakan dengan biaya sewa per bulan Rp400 ribu, yang harus dibayar tiga bulan sekali.

Lantaran tiap pagi harus membantu orang tua membuat bahan dagangan, plus mendorong becak ke kedai, Nadia pun tak jarang terlambat datang ke sekolah. Tak hayal, saat dalam perjalanan mendorong becak,  Nadia selalu merasa was-was, sekaligus berdoa dalam hati agar jangan terlambat lagi.

“Saat mendorong becak, saya selalu berfikir dalam hati, jangan sampai terlambat lagi datang ke sekolah. Karena  selama ini sudah terlanjur dicap guru sebagai anak pemalas, suka terlambat,” aku Nadia, sedih.

Maka, begitu sampai di warung barang-barang langsung diturunkan, dan seketika itu mesti bergegas mencari ojek untuk segera berangkat ke sekolah, dengan tarif  Rp5000. Sesekali minta diantarkan bapaknya dengan becak,  lantaran motor juga tak punya.  

Sepulang dari sekolah, Nadia kembali membantu orangtua di warung, didampingi dua saudaranya.  Sementara Bapak-Ibu dapat sejenak bersitirahat. (tn/sam/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Eks Gafatar: Buat Apa Diungkit, Membuka Luka Lama Saja


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler