Setiap Lembar Wastra Punya Nilai Filosofis yang Agung dan Luhur

Rabu, 14 Agustus 2019 – 07:15 WIB
Debora Amelia Santoso, General Marketing Communication and Corporate Branding PT Nojorono Tobacco International. Foto: Istimewa for JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Kain tradisional atau wastra merupakan peninggalan turun menurun leluhur yang menjadi salah satu kekayaan budaya Indonesia.

Mencintai wastra nusantara berarti menjaga ingatan terhadap budaya serta peradaban. Sebab, setiap lembar wastra mempunyai nilai-nilai filosofis yang agung dan luhur.

BACA JUGA: Perlu Persiapan Matang agar PNS Bisa Bekerja dari Rumah

"Memahami makna dan cerita di balik motif-motif kain nusantara, menjadi salah satu upaya penting dalam menjaga ingatan kita tentang bagaimana peradaban nusantara terbentuk. Dalam konteks hari ini, menjadi bagian dari upaya melestarikan keberadaan kain-kain nusantara," ungkap Notty J. Mahdi, pemerhati batik Indonesia dalam Diskusi Wastra dan Kemerdekaan menyambut peringatan kemerdekaan RI ke-74 yang digelar PT Nojorono Tobacco International, di Jakarta, Selasa (13/8).

Notty yang juga antropolog dari Universitas Indonesia ini mengatakan, jika nilai nilai filosofis dari motif-motif batik di seluruh nusantara dikaji lebih dalam, maka akan terlihat bahwa motif-motif itu memiliki benang merah yang mencerminkan karakter budaya Indonesia.

BACA JUGA: Per Lembar Untung Rp 245 Ribu, Bisnis Nikolas Saputra dan 2 Temannya Terbongkar

Menurut Notty, sejatinya setiap kain-kain nusantara memiliki tujuan penggunaan masing-masing saat kain itu dibuat. Namun meski setiap pengguna kain-kain nusantara harus memahami makna kain yang digunakan, jangan sampai menjadikannya sangat jauh dari keseharian masyarakat.

“Fenomena hari ini dengan meluasnya penggunaan batik, tenun, dan beragam kain nusantara lainnya sebagai pakaian keseharian menjadikan kain akan lebih merakyat dan masyarakat bangga mengenakannya,” ujar Notty.

BACA JUGA: Muhadjir: Saya Ditanya Bu Menkeu, Apa Mau Anak Bapak Diajari Guru tak Lulus Tes

BACA JUGA: Putra Bupati Dilantik jadi Ketua DPRD, Usia 25 Tahun

Erfan Siboro, seorang pegiat wastra ulos (tenun ulos) yang juga hadir dalam diskusi ini, menjelaskan upayanya menjadikan ulos sebagai pakaian keseharian. Erfan menceritakan impiannya melalui karya desain fashion.
Ia mengatakan, karyanya berawal dari keinginan untuk turut meramaikan pilihan penggunan kain Indonesia sebagai pakaian formal untuk dikenakan bekerja.

"Yang menarik dari usaha yang saya jalani ini adalah, saya seperti membuka kembali sebuah tabir sejarah dan fakta. Yaitu mengembalikan fungsi tenun Ulos sebagai produk sandang, sebagaimana nenek moyang orang Batak dahulu gunakan," tuturnya.

Erfan mengatakan, dari dokumen sejarah bisa ditemukan foto-foto nenek moyang orang Batak mengenakan ulos sebagai pakaian keseharian.

Diskusi bersama kalangan media menyambut peringatan kemerdekaan RI ke-74 dengan tema Wastra dan Kemerdekaan menjadi tonggak penting bagi PT Nojorono Tobacco International, dalam menumbuhkan semangat untuk selalu mencintai warisan budaya nusantara yang kaya dari berbagai derah di Indonesia, seperti wastra atau kain tenun batik, lurik, dan ulos.

"Ini menjadi bagian penting dari kepedulian dan tanggung jawab kami sebagai perusahaan nasional yang terus menerus memberikan kontribusi nyata di bidang pelestarian budaya dan pendidikan bagi masyarakat, " terang Debora Amelia Santoso, General Marketing Communication and Corporate Branding PT Nojorono Tobacco International. (esy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Prabowo Subianto Tidak Hadiri Upacara HUT RI ke-74 di Istana Negara, Mengapa?


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler