Si Patai, Robinhood Padang Kota (2)

Rabu, 26 Oktober 2016 – 19:25 WIB
Padang tempo doeloe. Foto: C. Nieuwenhuis. Berdasarkan keterangan yang tertera pada Arsip Nasional Belanda, foto ini dijepret kisaran 1800-1910.

jpnn.com - NAMA Si Patai mulai berkibar pada 1908 ketika memimpin rakyat Padang menolak bayar pajak. Sebelumnya ia dikenal sebagai penjahat nomor wahid.

Wenri Wanhar - Jawa Pos National Network 

BACA JUGA: Si Patai, Robinhood Padang Kota (1)

Merasa sudah berkuasa, pemerintah Hindia Belanda mulai berulah.  21 Februari 1908 mereka mengumumkan kebijakan baru yang akan segera diberlakukan di Ranah Minang. Yakni belasting (pajak).

Para Manti, Dubalang, Kepala Nagari dan Penghulu dikumpulkan. Disosialisasikan pemberlakuan hoofd belasting (pajak kepala), inkomsten belasting (pajak pemasukan suatu barang/cukai), hedendisten (pajak rodi), wins belasting (pajak kemenangan/keuntungan), dan slach belasting (pajak penyembelihan).

BACA JUGA: Dibuang dari Jawa, Samin Surosentiko jadi Penduduk Padang

Juga meubels belasting (pajak rumah tangga), tabak belasting (pajak tembakau) hingga adat huizen belasting (pajak rumah adat). 

Tak tanggung-tanggung, tanah yang bagi urang awak adalah pusako bundo pun dikenai pajak; landrente (pajak tanah).

BACA JUGA: Mahoyak Tabuik, Pesta Pantai Terbesar di Pantai Barat Sumatera

Maka aturan baru yang mulai diberlakukan pada 1 Maret 1908 itu mendapat tantangan. 

Rakyat Minang di nagari Air Bangis, Painan dan Padang Panjang mengeluarkan resolusi penentangan. Luhak Agam tidak memenuhi undangan Kepala Laras menghadiri sosialisasi belasting. 

Ada juga yang unjuk rasa ke kantor Asisten Residen di Bukittinggi. Blanko pembayaran belasting yang diserahkan dirobek rakyat. Di Manggopoh, sepasukan kavaleri Belanda yang mendirikan posko untuk melancarkan kebijakan ini dibantai.

Di Padang, pemberontakan pajak dipimpin oleh Si Patai, dari kalangan dunia hitam.

"Si Patai," menurut Rusli Amran, wartawan-cum-sejarawan kelahiran Padang, 14 September 1922 yang meneliti meneliti koran-koran yang terbit di Padang pada masa kolonial, antara lain De Padanger, Nieuw Padangsch Handelsblad, Padang Nieuws en Handelsblad, Sinar Sumatra, Sumatra Bode, Sumatra Courant, Sumatra's Nieuwsblad dan Tjaja Sumatra, "ada di urutan paling atas dalam daftar polisi semenjak awal abad ini," tulisnya dalam buku Padang Riwayatmu Dulu.

Awal abad ini yang dimaksud  tersebut adalah awal abad 20. Yakni sebermula tahun 1900-an. 

Aturan belasting membuat Si Patai mengamuk. Dia memimpin keributan di Pauh. Membunuh beberapa pegawai pemerintah.

Tak sampai di situ. Gerombolan Si Patai pun bergerak memasuki Kota Padang, pusat pemerintahan kolonial Belanda. 

Saat dihadang, entah dari mana dapatnya, mereka melemparkan bom ke arah aparat. "Untung mereka masih bisa dihalau dekat Alai," begitu tulis surat kabar pada waktu itu, sebagaimana dicuplik Rusli Amran.  

Si Patai buron. "Bersama Buyuang Tupang, Palalok dan Sampan, nama Si Patai dikategorikan Belanda tidak saja sebagai penjahat biasa, tetapi termasuk orang-orang yang menentang pemerintahan jajahan," ungkapnya.

Perburuan Si Patai dipimpin Bariun Sutan Batang Taris, Mantri Polisi Padang. 

Sebelum diangkat jadi kepala polisi di Padang pada 1905, Batang Taris pernah menjabat juru tulis jawatan kereta api di Sawahlunto, Mantri Polisi Simpangharu, kemudian Alai, barulah pindah ke Padang Kota.

Suatu hari, Batang Taris mendapat laporan Si Patai dan Sampan berada di lapau (kedai kopi) Ma Anjang di Air Pacah. 

Laporan ini sedikit membingungkan. Mengingat polisi sudah tahu di sana tempat berkumpul gerombolan Si Patai. Apalagi, Ma Anjang sendiri sudah ditangkap pemerintah jauh hari sebelumnya. Namun, ketika diselidiki, laporan itu benar adanya.

Tak mau kehilangan buruan, Batang Taris bergerak cepat. Pukul 12 malam sebanyak 24 tentara bersenjata lengkap, ditambah sejumlah pegawai setempat dan dari Alai berangkat ke lapau Ma Anjang. 

Bayangkan, untuk meringkus dua orang; Si Patai dan Si Sampan, jumlah aparat pemerintah yang dikerahkan tidak kurang dari 35 orang. 

Pukul 4 pagi lapau Ma Anjang dikepung rapat. Batang Taris berteriak menyeru tantangan. Bukannya gentar, Si Patai melompat keluar seraya menyerang Batang Taris dengan kelewangnya. Batang Taris gesit mengelak. Dia balas menyerang. Tapi, malah kena sabetan kelewang Si Patai.

Seketika itu juga…door! Si Patai tersungkur kena peluru anak buah Batang Taris. Saat tergeletak di tanah, seorang tentara mendekati dan menembak Si Patai dari dekat. Sebutir peluru menembus dadanya. 

Si Patai tak berkutik. Dalam keadaan terluka parah, ia dipertontonkan kepada orang-orang. Lalu, tiga tahun lamanya dia mendekam di hotel prodeo.

Setahun setelah penangkapan Si Patai, giliran Buyuang Tupang dapat giliran. Ia dipancung di Nanggalo oleh Poncoduria alias Wahab lelaki asal Jawa kelahiran Sumatera. 

"Kalau ditelusuri, mungkin sekali nenek moyangnya pernah ikut Laskar Sentot ke Sumatera sekitar satu setengah abad yang lalu," tulis Rusli.

Di penghujung abad 19, Poncoduria berpangkat Mantri Kopi Kelas 1 di Talu. Kemudian pada 1905 pindah ke Kotatengah, dekat Padang. 

Sewaktu pecah pemberontakan pajak, tulis koran-koran sezaman, Poncoduria sangat berjasa membasmi para pengikut Si Patai. Untuk jasanya ini pemerintah memberinya beberapa buah tanda jasa. 

Sementara itu, dalam penjara, kesehatan Si Patai berangsur-angsur pulih. Kemudian sembuh kembali. Setelah bebas, diam-diam ia mendirikan organisasi rahasia. Namanya Sarekat Djin. Anggotanya para bandit Padang Kota. 

Bagaimana sepak terjang Sarekat Djin dan Si Patai yang disebut-sebut pers Belanda sebagai Robinhood Padang Kota itu? --bersambung (wow/jpnn)

Berita terkait: Si Patai Robinhood Padang Kota (1)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Hikayat Tole Iskandar (3/habis)


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler