Silakan Baca, Respons Pak SBY Sikapi Tuduhan Asia Sentinel

Sabtu, 15 September 2018 – 21:49 WIB
Susilo Bambang Yudhoyono. Foto: dok/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Presiden Keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menanggapi pemberitaan Asia Sentinel tentang skandal di era pemerintahannya. Ketua umum Partai Demokrat (PD) itu menepis semua tuduhan yang diberitakan Asia Sentinel melalui artikel berjudul Indonesia’s SBY Government: ‘Vast Criminal Conspiracy’.

Dalam wawancara khusus dengan Harian Rakyat Merdeka, SBY membantah tuduhan yang menyebutnya telah melakukan pencucian uang hingga USD 12 miliar atau setara Rp 177 triliun sejak bailout Bank Century pada 2008. Bahkan, Presiden RI selama dua periode itu siap dihukum jika memang melakukan tindakan sebagaimana pemberitaan Asia Sentinel.

BACA JUGA: Sepertinya Partai Demokrat Sedang Linglung

"Tangkap dan penjarakan saya kalau fitnah itu benar. Kalau tidak benar, saya tuntut yang mengeluarkan dan menyebarluaskan fitnah itu sebesar Rp 177 triliun. Uang itu selanjutnya semuanya akan saya serahkan kepada saudara-saudara saya rakyat Indonesia yang kurang mampu,” ujar SBY.

Rakyat Merdeka menggambarkan SBY dalam wawancara itu terlihat menahan emosi. Namun, pensiunan TNI dengan pangkat jenderal itu tetap tenang.

BACA JUGA: Sepertinya Partai Demokrat Sedang Permainkan Prabowo

“Kalau memang kesatria dan bertanggung jawab, yang menuduh saya melakukan pencucian uang dengan jumlah yang sulit saya bayangkan itu, apakah orang asing atau sesama bangsa Indonesia, politisi, intel atau jenderal, termasuk yang ada di barisan penguasa, mari kita selesaikan urusan ini. Jangan lempar batu sembunyi tangan. Jangan memancing di air keruh.”

SBY merasa dirinya terus disudutkan lantaran pilihan politiknya. Dia bertanya apakah upaya menyudutkannya itu ada kaitannya dengan Pemilu 2019.

BACA JUGA: Demokrat Dua Kaki, Pengamat: Sah-sah Saja

"Apa politik itu harus begini? Apakah fitnah yang keji dan pembunuhan karakter terhadap saya ini dikaitkan dengan pemilihan umum 2019 ini? Apakah memang saya dianggap sebagai orang yang mengganggu kepentingan pihak-pihak tertentu di negeri ini? Apakah sebagai warga negara, saya tidak boleh menyampaikan pandangan dan pilihan politik saya? Apakah saya harus mengasingkan diri di sebuah pulau terpencil, seperti di era penjajahan dulu, supaya saya tidak bisa berbicara dan melakukan kegiatan politik?" tuturnya.

Selanjutnya SBY menegaskan, bailout untuk Bank Century dilakukan karena Indonesia terdampak krisis global 2008. Menurutnya, dugaan penyimpangan dan korupsi dalam kasus Century juga sudah ditindaklanjuti baik secara politik ataupun hukum.

“Yang bersifat politik, DPR RI telah membentuk pansus (panitia khusus angket, red) dan melakukan langkah-langkah investigasi berskala besar dan telah menghasilkan sejumlah rekomendasi, bahkan dilanjutkan dengan pengawasan. Sementara itu, KPK juga telah melakukan tugasnya, guna menindaklanjuti rekomendasi DPR RI, dan hasilnya juga sudah diketahui oleh publik,” tegasnya.

SBY menambahkan, bailout untuk Century sebenarnya bukanlah domain presiden. Bahkan, SBY menyebut dirinya bukan pengambil keputusan.

Namun, dia meyakini bailout untuk Bank Century demi menyelamatkan perekonomian Indonesia. Menurutnya, tak ada pelanggaran atas undang-undang dalam pemberian dana untuk Bank Century.

“Meskipun itu bukan domain presiden, dan bukan saya pribadi yang mengambil keputusan, berkali-kali saya katakan bahwa bailout Bank Century yang diambil oleh BI dan pemerintah, dalam hal ini, Kementerian Keuangan, benar-benar untuk menyelamatkan perekonomian kita dari krisis ekonomi global. Tidak ada konspirasi jahat apa pun di pihak negara, termasuk pemerintah,” tegasnya.

“Gubernur BI Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani juga punya niat dan tujuan yang baik. Sesuai dengan kewenangan yang diberikan undang-undang, mereka mesti mengambil keputusan dan kebijakan cepat agar tidak terjadi krisis di bidang perbankan, seperti yang terjadi di tahun 1998 dulu. Semuanya sah. Saya sangat yakin, tak ada penyimpangan hukum, apalagi korupsi yang dilakukan Pak Boediono dan Ibu Sri Mulyani. Pak Boediono, Ibu Sri Mulyani, Para mantan menteri KIB dulu hampir semuanya masih ada. Bicaralah. Sampaikan kebenaran. Jangan takut,” tuturnya.

SBY lantas membandingkan penanganan kasus Bank Century dengan skandal besar lainnya seperti Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Menurutnya, dana negara yang digelontorkan lewat BLBI jauh lebih besar dibandingkan untuk Bank Century.

"Coba bandingkan apa yang dilakukan DPR RI dan penegak hukum terhadap Bank Century dengan kasus-kasus besar yang lain, misalnya kasus BLBI. Dugaan penyimpangan BLBI jauh lebih besar jika dibandingkan dengan Bank Century. Namun, masyarakat menilai sepertinya kasus ini mengendap atau menghilang. Padahal, yang diinginkan rakyat adalah keadilan, termasuk keadilan dalam penegakan hukum,” ucapnya.

Namun, SBY mengaku yak mau latah dengan menyebut bergulirnya kasus Bank Century sebagai pengalih isu. "Tak baik menuduh ini sebagai pengalihan isu. Namun, sebagian masyarakat memang mengatakan ketika ada penegakkan hukum yang tengah dilakukan KPK, dan menyebut nama-nama tokoh besar beserta sejumlah partai politik, SBY & Demokrat diserang lagi."

SBY juga mengenang ketika Pilkada Jakarta 2017 berlangsung dan dirinya dihajar bertubi-tubi lantaran dia berseberangan dengan pilihan penguasa. Hal itu seolah terulang saat ini.

"Yang saya alami sekarang ini sama dengan ketika Pilkada Jakarta 2017 lalu. Saya dihajar bertubi-tubi. Dari satu fitnah ke fitnah yang lain. Ketika saya datangi orang-orang penting di negeri ini untuk saya lakukan klarifikasi, semuanya menyangkal dan cuci tangan. Tapi, saya ini, bukan anak kecil."

Menutup responsnya SBY mengatakan semua tuduhan miring kepadanya ataupun PD sebagaimana pemberitaan Asia Sentinel merupakan fitnah. "Sampai sekarang masih saja ada yang menuduh SBY, Tim Sukses SBY dalam Pilpres 2009 dan Partai Demokrat, terima aliran dana yang besar dari Bank Century. Seratus persen itu fitnah,” pungkasnya.(rakyatmerdeka/rmol)

BACA ARTIKEL LAINNYA... PD Dukung Prabowo karena The Power of Kepepet?


Redaktur & Reporter : Antoni

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler