Sistem Digitalisasi DPCS Pantau Ketersediaan Pupuk Jelang Lebaran, Bisa Diawasi Setiap Saat

Rabu, 20 April 2022 – 22:13 WIB
PT Pupuk Indonesia menggunakan teknologi informasi bernama Distribution Planning and Control System (DPCS) untuk mengontrol rantai pasok distribusi pupuk bersubsidi. Foto dok Antara

jpnn.com, JAKARTA - PT Pupuk Indonesia memastikan pengawasan penyaluran pupuk subsidi menjelang Lebaran akan berjalan lancar.

Pasalnya, perseroan telah menerapkan sistem digitalisasi yang terintegrasi, salah satunya bernama Distribution Planning & Control System (DPCS).

BACA JUGA: Antisipasi Kepadatan Arus Mudik, Pupuk Indonesia Distribusikan Pupuk Lebih Awal

DPCS merupakan sistem yang bisa dimanfaatkan perseroan untuk memonitor kegiatan distribusi, dan memonitor stok pupuk di lapangan agar sesuai dengan ketentuan minimum pemerintah, dan meningkatkan akurasi perencanaan distribusi.

"DPCS diterapkan sejak 2020, sistem digitalisasi ini juga merupakan bentuk transformasi, sehingga ketersediaan stok pupuk di semua daerah lebih baik dan bisa diawasi setiap saat," kata SVP Komunikasi Korporat Pupuk Indonesia, Wijaya Laksana.

BACA JUGA: Dewi Perssik: Aku Terlalu Liar di Ranjang, Biar Aku yang Goyang, Cowoknya Diam

Melalui sistem ini, Pupuk Indonesia bisa mengawasi teknis penyaluran pupuk subsidi secara real time.

DPCS bisa mengawasi proses distribusi dari gudang produsen hingga kios-kios resmi.

BACA JUGA: Wow, Mencukur Bulu Kemaluan Bisa Menambah Vitalitas Pria, Bagaimana dengan Wanita?

DPCS juga mampu mengetahui jumlah stok saat dalam perjalanan (intransit), baik darat maupun saat di pelabuhan.

Selain data stok, DPCS juga menyajikan data penjualan, alokasi pupuk subsidi di setiap daerah, kapasitas gudang, informasi distributor dan pengecer, hingga kontak staf distribusi dan pemasaran di masing-masing wilayah.

Sehingga sistem ini dapat memberikan gambaran utuh terkait pendistribusian pupuk subsidi ke berbagai daerah.

DPCS juga dilengkapi fitur peringatan dini atau early warning system untuk mendeteksi kondisi stok di daerah yang ditandai dengan indikator warna.

Seperti warna hijau yang menggambarkan stok tersedia atau bahkan melebihi ketentuan pemerintah.

Warna orange, menandakan stok mendekati batas ketentuan. Hingga warna merah yang berarti stok di bawah ketentuan minimum pemerintah.

Sementara, SVP Distribusi Pupuk Indonesia, Syamsu Alamsah mengatakan Pupuk Indonesia telah mengantisipasi kondisi lalu lintas menjelang Lebaran dengan melakukan distribusi ke daerah lebih awal.

"Kami mengantisipasi pendistribusian via darat dengan mengirimkan pupuk lebih awal, bahkan yang dikirim dengan kereta api. Sehingga untuk pasokan jelang Lebaran alhamdulillah tidak ada hambatan atau bisa dibilang aman," ungkap Syamsu.

Adapun angka stok pupuk subsidi per 20 April 2022 sebanyak 805.157 ton, terdiri dari Urea 355.409 ton, NPK 242.247 ton, Organik 72.615 ton, SP-36 55.758 ton, ZA 79.128 ton.

Selain DPCS, ada beberapa sistem digitalisasi yang diterapkan perusahaan dalam menjamin pengawasan penyaluran pupuk bersubsidi seperti Petroport yang mendigitalisasi pendistribusian via pelabuhan.

Menurut Syamsu, sistem ini memiliki fungsi pengawasan, pencatatan dan pelaporan, serta penentuan rekomendasi keputusan secara digital dan otomatis, sehingga dapat menghilangkan potensi demurrage atau denda akibat keterlambatan proses bongkar muat.(chi/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Stok Pupuk Subsidi Cukup Untuk 4 Pekan ke Depan, 828.393 ton


Redaktur & Reporter : Yessy Artada

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler