Soal Jenderal Andika & KSAD Dudung Tak Harmonis, Al Araf Ungkap Penyebabnya, Ternyata

Rabu, 07 September 2022 – 11:23 WIB
Pengamat militer Al Araf mengomentari hubungan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa dengan KSAD Jenderal Dudung Abdurachman bukan sekadar isu belaka. Ilustrasi (ANTARA/HO-Biro Pers Sekretariat Presiden)

jpnn.com, JAKARTA - Pengamat militer Al Araf mengomentari soal hubungan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa dan KSAD Jenderal Dudung Abdurachman yang dirumorkan tidak harmonis.

Al Araf mengatakan pola kontrol sipil subjektif menjadi awal persoalan konflik di dalam tubuh TNI maupun Polri.

BACA JUGA: Konon Hubungan Jenderal Andika dan KSAD Dudung Tidak Harmonis, Pengamat: Waspada Intel Asing

"Pola kontrol sipil subjektif itu cenderung mengarah pada dimensi politisasi pemimpin sipil terhadap TNI dan Polri yang mengakibatkan terjadinya konflik internal, seperti terjadi dalam kasus Panglima TNI dan KSAD, begitu pula di Polri," kata Al Araf kepada JPNN.com, Selasa (6/9).

Al Araf menjelaskan pemimpin sipil membangun strategi politik dengan manajemen konflik di dalam internal TNI dan Polri, seperti dalam proses pergantian pimpinan di tubuh TNI maupun Polri.

BACA JUGA: Istri Polisi yang Digerebek di Hotel Bintang 5 Buka Suara, Pernah Laporkan Suami ke Propam, Tetapi

"Strartegi ini dilakukan pemimpin sipil dengan harapan agar posisi mereka kuat secara politik di hadapan militer maupun Polri," ujar Ketua Inisiatif Untuk Demokrasi dan Keamanan (IDeKa) itu.

"Pola kontrol subjektif, politisasi, dan manajemen konflik inilah yang beberapa kali mengakibatkan ketegangan di dalam tubuh TNI dan Polri saat ini," sambung Al Araf.

BACA JUGA: Pengakuan Terbaru Istri Polisi yang Digerebek di Hotel Bintang 5, Sungguh Tak Disangka

Al Araf menambahkan pola kontrol sipil subjektif tersebut tidak sehat sehingga dalam situasi dan kondisi tertentu bisa mengakibatkan rapuhnya konsolidasi di dalam TNI dan Polri.

Hal itu juga berdampak negatif pada upaya membangun TNI dan Polri yang profesional.

"Pemimpin sipil memang boleh memilih pimpinan di TNI dan Polri karena ada hak mereka di sana. Namun, penggunaan hak itu perlu dilakukan secara objektif dengan mempertimbangkan banyak variabel dan jangan hanya pertimbangan politis," ujar Al Araf.

Sebelumnya, Anggota Komisi I DPR RI Effendi Simbolon menduga hubungan antara Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa dan KSAD Jenderal Dudung Abdurachman tidak harmonis.

Menurut dia, hal itu sudah menjadi rahasia umum.

Hal itu dikatakan Effendi saat mengikuti rapat kerja Komisi I dengan Menhan RI Prabowo Subianto dan pihak TNI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (5/9).

Andika diketahui hadir dalam raker yang agendanya membahas anggaran pertahanan, sedangkan Dudung absen di kegiatan tersebut.

BACA JUGA: Polisi Tembak Polisi Kembali Terjadi, Aipda Karnain Tewas di Depan Anak dan Istri, Ngeri

"Di mana ada Jenderal Andika, tidak ada Kasad. Jenderal Andika membuat Super Garuda Shield, tidak ada KSAD," kata Effendi saat rapat di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (5/9).(cr1/jpnn)


Redaktur : Budianto Hutahaean
Reporter : Dean Pahrevi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler