Soft Skill Siswa SMK Rendah, Kemendikbudristek & GSM Gencarkan Program untuk Kepsek

Minggu, 21 November 2021 – 08:45 WIB
Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal. Foto: tangkapan layar YouTube.

jpnn.com, JAKARTA - Kemendikbudristek kembali bekerja sama dengan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) menyelenggarakan pelatihan penguatan ekosistem SMK.

Pelatihan yang berlangsung dari 17 sampai 19 November ini diikuti sebanyak 99 kepala sekolah yang bukan SMK Pusat Keunggulan (PK) dari hampir seluruh provinsi Indonesia.

BACA JUGA: Kritik Menko PMK untuk Siswa, Guru, dan Kepsek SMK

Menurut Saryadi, pelaksana tugas (Plt) Direktur Mitra Strategi Dunia Usaha Dunia Industri (Mitras DUDI) Kemendikbudristek, pengembangan sekolah khususnya SMK tidak bisa dilakukan secara parsial. 

"Harus ada upaya saling terkait dan berkesinambungan untuk memastikan investasi yang dilakukan pemerintah bisa optimal,," terang Saryadi, Sabtu (20/11).

BACA JUGA: Ada Mobil PJJ Kampus Merdeka Kemendibudristek untuk Mahasiswa Daerah 3T

Dijelaskannya, GSM sudah melaksanakan pelatihan perubahan mindset dan pendampingan kepada 10 batch kepala SMK PK dan Center of Excellence sejak 2020.

Pelatihan serupa juga pernah diterapkan kepada 100 kepala SMK di Papua dan Papua Barat pada Maret lalu.

BACA JUGA: Info Terbaru Kemendikbudristek soal Peluang PPPK menjadi Kepsek, Guru Honorer Harus Tahu

Didukung dengan pendampingan di komunitas GSM, upaya ini berdampak pada perubahan ekosistem sekolah di beberapa SMK yang telah mendapatkan pelatihan, bahkan banyak kepala sekolah dan guru bergerak untuk saling bertukar praktik baik secara organik antarsekolah.

"Rekam jejak GSM ini membuka wawasan baru bagi Mitras DUDI untuk mengadopsi pelatihan perubahan mindset yang awalnya untuk kepala sekolah SMK PK, kemudian berlanjut ke bukan SMK Pusat Keunggulan," tuturnya.

Sementara Muhammad Nur Rizal, founder GSM sekaligus pemateri dalam pelatihan tersebut menyampaikan bahwa perubahan mindset adalah prioritas utama untuk mengantisipasi sistem pendidikan ke depan, yaitu sebesar 21 sampai 27 persen.

Selanjutnya, diikuti penciptaan ekosistem sekolah 18 sampai 23 persen. Kemudian pengembangan profesionalisme guru 15 sampai 19 persen, dan keterhubungan dengan lingkungan rumah dan sosial 11 sampai 16 persen. 

Data ini kata Rizal, dikutip dari analisis McKensey dalam OECD PISA 2015 terhadap sekolah-sekolah di seluruh benua tentang urutan prioritas perubahan yang harus dilakukan di dunia pendidikan.

"Survei dari McKensey ini sejalan dengan empat strategi perubahan yang dirancang GSM untuk diimplementasikan kepala sekolah setelah melakukan pelatihan perubahan mindset," ucapnya.

Strategi perubahan tersebut antara lain kepemimpinan sekolah transformatif, lingkungan belajar positif dan keterhubungan sosial, pembelajaran berbasis penalaran dan kesadaran diri, dan pengembangan praktik bersama.

Dia mengungkapkan sudah saatnya Kemendikbudristek memandang permasalahan ini dengan cara pandang baru dan lebih fundamental.

Menurutnya, berbagai permasalahan terkait softskill siswa SMK seperti inisiatif yang kurang, tidak tahan tekanan, kurangnya kemampuan komunikasi dan kerja sama, yang sudah lama terjadi harus segera ditemukan jalan keluarnya. 

"Saya mengajak kepala sekolah dan guru-guru di Indonesia untuk mengedepankan ekosistem yang membuat siswa lebih kreatif dan beyond the book. Ini agar anak Indonesia tidak lagi merasa terancam posisinya tergantikan robot dan mesin otomasi," pungkas Muhammad Nur Rizal. (esy/jpnn)


Redaktur : Djainab Natalia Saroh
Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler