Squid Game & Jokowi

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Sabtu, 23 Oktober 2021 – 17:59 WIB
Boneka replika Squid Game disita di Kantor Satpol PP Kota Surabaya. Foto: Arry Saputra/JPNN.com

jpnn.com - Dua tahun usia pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amien digambarkan sebagai Kabinet Squid Game oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Kritikan itu diunggah di Instagram dalam bentuk poster yang menggambarkan cosplay Jokowi dan Ma’ruf mengenakan atribut Squid Game yang sedang viral internasional.

BACA JUGA: SKD CPNS Kemenkumham Jatim, Panitia Hibur Peserta dengan Tema Squid Game

Dalam posting itu, wajah para peserta Squid Game yang mengenakan kostum hijau diubah menjadi wajah Presiden Jokowi dan Wapres Ma'ruf Amin.

Kemudian di belakang Jokowi dan Ma'ruf Amin tampak deretan para pemain Squid Game yang mati dan tereleminasi.

BACA JUGA: Terjemahan Squid Game di Netflix Bikin Warga Korsel Sewot

Wajah para penjaga yang mengenakan seragam terusan dengan hoody menutup kepala berwarna merah diganti dengan wajah para menteri. Ada Erick Thohir, Sri Mulyani, Nadiem Makarim, Luhut Binsar, dan Sandiaga Uno.

Pada poster itu tertulis Rezim Kabinet Mundur, dan para menteri mendapatkan rapor merah dengan nilai rata-rata D dan E dengan bobot nol sampai satu.

BACA JUGA: Patung Boneka Squid Game Akhirnya Dibongkar, Ini Sebabnya

Presiden Mahasiswa USU Rizki Fadillah mengatakan bahwa selama dua tahun masa kerja Kabinet Indonesia Maju yang terjadi bukan kemajuan , tetapi malah kemunduran.

Banyak persoalan belum ditangani. Di sektor pendidikan terjadi pembungkaman kebebasan bersuara dan politisasi jabatan akademik.

Penanganan korupsi buruk akibat pelemahan KPK.

Banyak kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat, dan mungkin akan terus menerus tidak berpihak pada masyarakat.

Penggambaran kabinet Jokowi sebagai kabinet Squid Game menarik banyak komentar netizen, karena film Squid Game sekarang tengah menjadi viral internasional.

Film ini menggambarkan perjuangan keras ratusan orang yang terlilit utang supaya bisa menjadi penyintas. Kabinet Squid Game ala Jokowi-Ma’ruf adalah kabinet yang berjuang hidup mati menghadapi belitan utang.

Squid Game (SG) adalah film serial Korea Selatan tentang permainan bertahan hidup yang brutal.

Serial Squid Game baru ditayangkan September lalu di Netflix dan langsung menarik banyak penonton di seluruh dunia.

Seseorang yang belum menonton Squid Game, tetapi mungkin pernah mendengar film serial ini karena popularitasnya yang menjadi viral dunia.

Film ini makin meneguhkan dominasi drakor alias drama Korea dalam jagat hiburan internasional.

Genre SG tidak ada yang baru, sama saja dengan reality show yang sudah banyak beredar. Namun, film ini punya kelebihan visual yang mencolok, dan penggambaran karakter yang sesuai dengan kehidupan nyata.

Sudah banyak sekali pertunjukan bergenre reality show seperti ini. Di Indonesia pun sudah banyak yang menyontek gaya reality show.

Namun, Squid Game punya karakter yang beda dengan reality show lain sehingga dalam waktu singkat menjadi viral di seluruh dunia.

Kisahnya berkisar pada 456 orang yang terlilit utang dan putus asa. Dalam upaya yang nyaris putus asa untuk melunasi utang, mereka kemudian menerima tawaran untuk bergabung dalam permainan bertahan hidup yang keras dan brutal.

Kalau bisa menjadi penyintas, mereka akan membawa pulang 45,6 miliar won atau setara dengan 550 miliar rupiah.

Hanya ada satu penyintas sebagai pemenang. Siapa pun yang melakukan kesalahan dalam rangkaian enam tantangan akan menghadapi eksekusi hukuman mati oleh pasukan besenjata SG.

Tokoh sentral SG adalah seorang pebisnis bernama Seong Gi Hun (Lee Jung Jae), yang bangkrut dan terlilit utang.

Ia harus bercerai dengan istrinya dan berpisah dari putri satu-satunya.

Gi Hun kemudian mendapat undangan misterius untuk mengikuti permainan dengan tawaran hadiah yang menggiurkan yang akan memastikan utangnya lunas.

Ia pun bergabung dalam permainan penyintasan tersebut, dan menemukan berbagai kejadian tak terduga.

Ia terkejut karena di tempat itu ia bertemu dengan teman masa kecilnya bernama Cho Sang Woo (Park Hae Soo) yang dikenal sebagai orang sukses dan lulusan universitas ternama di Korea.

Ternyata Sang Woo juga mengalami krisis utang karena perusahaannya melakukan penyelewengan dana.

Sebanyak 456 orang mengikuti permainan tersebut dan mempertaruhkan nyawa mereka. Mereka adalah orang-orang putus asa dengan satu tujuan yang sama, yaitu uang.

Permainan yang mereka lakukan ternyata merupakan permainan tradisional Korea yang sering mereka mainkan waktu kecil.

Mereka harus mengikuti enam permainan yang dimodifikasi, seperti lampu merah dan lampu hijau, dengan mengikuti panduan boneka raksasa.

Peserta harus bisa mencapai garis finis sesuai dengan waktu yang ditentukan. Mereka hanya boleh bergerak ketika boneka raksasa mengatakan lampu hijau, dan mereka harus berhenti saat mendengar lampu merah.

Jika melanggar, boneka raksasa akan mendeteksi dan pelanggar langsung dieksekusi tembak mati oleh robot-robot berkostum merah.

Pemain yang tertembak mati akan otomatis tereliminasi. Mereka yang mengikuti permainan ini dipenuhi dengan ambisi untuk memenangkan permainan, tidak ada teman karena sejatinya hanya akan ada satu pemenang di akhir.

Permainan ini mempertontonkan prinsip ‘’survival of the fittest’’ ala kapitalisme yang brutal.

Permainannya sederhana, seperti permainan masa kanak-kanak yang dimainkan para pemain saat dewasa.

Namun, permainan masa kecil yang dibingkai secara keras inilah yang membuat penonton SG tertarik.

"Orang-orang tertarik dengan ironi bahwa orang dewasa yang putus asa mempertaruhkan hidup mereka untuk memenangi permainan anak-anak," kata sutradara SG, Hwang Dong-hyuk.

Dalam waktu singkat SG berhasil menyita perhatian penggemar film di seluruh dunia, menduduki puncak charts sepuluh teratas global Netflix sejak September 2021. Bahkan, SG diperkirakan akan menjadi serial Netflix paling populer yang pernah ada.

Sebelum SG sudah banyak bermunculan film dengan genre sejenis yang sangat populer. Ada film thriller Jepang Battle Royale, serial Hunger Games, Alice in Borderland, dan beberapa lainnya.

Namun, SG dianggap punya karakter yang lebih kuat dibanding lainnya, karena setting kondisi mutakhir Korea yang sangat riil.

Sutradara SG, Hwang Dong-hyuk mengatakan ingin menulis cerita yang merupakan alegori atau fabel tentang masyarakat kapitalis modern.

Sesuatu yang menggambarkan persaingan ekstrem, seperti persaingan hidup yang ekstrem. Sebagai permainan bertahan hidup, SG adalah hiburan dan drama manusia. Permainan itu digambarkan sangat sederhana dan mudah dimengerti.

Banyak kritikus yang menyukai Squid Game. Peringkatnya sempurna atau 100 persen di Rotten Tomatoes. SG dianggap cerdik dalam menggabungkan unsur-unsur K-drama dan film Korea.

Tema soal bertahan hidup dan menghindari lilitan utang adalah tema universal yang dialami oleh manusia di mana pun.

Kalau ada sutradara Indonesia sekreatif Hwang Dong-hyuk, mungkin bisa menghasilkan reality show yang lebih hebat dari SG.

Warga Indonesia yang sekarang terjebak dalam utang ala SG jumlahnya jutaan atau bahkan puluhan juta orang.

Kalau saja ada sutradara Indonesia yang cukup kreatif maka Squid Game Indonesia bisa lebih menarik, karena jutaan atau puluhan juta orang terlibat surviving game menghadapi penagih-penagih utang lintah darat yang brutal.

Para korban pinjaman online yang jumlahnya jutaan orang itu bisa menjadi peserta Squid Game Indonesia yang bisa bermain dengan penuh penghayatan.

Dunia enternainment Indonesia biasanya paling suka mengekor. Sebentar lagi sangat mungkin bakal ada versi Squid Game Indonesia. Versi ini bisa lebih seru dari aslinya, karena orang-orang Indonesia jauh lebih banyak yang hidup dalam jeratan utang.

Setting Squid Game Indonesia bisa lebih hebat dari versi aslinya, karena Indonesia sendiri lagi megap-megap terlilit utang sampai ke leher.

Squid Game Indonesia akan lebih hebat, apalagi kalau bisa menampilkan bintang tamu Jokowi dan Kiai Ma’ruf yang lagi memimpin kabinet Squid Game berjuang menyelamatkan diri dari belitan utang luar negeri. (*)

Video Terpopuler Hari ini:


Redaktur : Adek
Reporter : Cak Abror

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler