JAKARTA - Stimulus ekonomi sebesar Rp 71 triliun untuk penanggulangan krisis ekonomi dinilai salah kaprah karena tidak menyentuh sektor pedesaanPadahal, dari hasil penelitian International Centre for Applied Finance and Economics (InterCAFE) Institut Pertanian Bogor (IPB) krisis perekonomian global nyata-nyata telah memperburuk sektor perekonomian masyarakat di pedesaan.
Hasil penelitian lembaga Inter-CAFE yang disampaikan di Jakarta, Senin (9/2) terungkap krisis global telah melanda pedesaan di setidaknya delapan provinsi yakni Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Bangka Belitung, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah
BACA JUGA: Banyak Bank Laporkan Gaji Karyawan di Bawah UMP
Direktur Inter-CAFE Iman Sugema menjelaskan, terdapat beberapa penyebab sehingga krisis di wilayah pedesaan jauh lebih parah dibanding kota."Faktor penyebabnya antara lain harga komoditas perkebunan yang merosot tajam di pasar global, khususnya sawit (CPO)
BACA JUGA: Ekuitas Jamsostek Terjun Bebas
Tentu ini tidak tercatat karena mereka di sektor informal," sebutnya.Penyebab lainnya adalah desa telah terkena imbas PHK dari kegiatan perekonomian di perkotaan dan maupun TKI
BACA JUGA: Sanksi Berat bagi BUMN yang Terlibat Transaksi Derivatif
Ini ikut menambah beban di desa," kata Iman.Disebutkannya, akibat dari krisis saat ini adalah indeks kemiskinan desa yang sudah lebih tinggi ketimbang perkotaan menjadi semakin tinggiSelain itu, tingkat kesejahteraan petani turun tajam.
Karenanya Iman mengingatkan, semestinya jumlah stimulus ekonomi untuk pedesaan diperbesar"Yang sekarang ini hanya Rp 1,05 triliun dari Rp 71 triliun yang disediakanSalahnya, stimulus justru lebih berorientasi saving yang menguntungkan pengusaha, orang kaya, atau wilayah perkotaan," tegasnya.
Pada kesempatan sama, peneliti Inter-CAFE Nunung Nuryantono, menambahkan, pola stimulus harus segera diubah agar lebih berorientasi ke desa"Jangan lupa, desa sudah terbukti menjadi penyelamat krisis 1998," tuturnya.
Nunung mengingatkan, jika pola stimulus tidak dibuah maka krisis pedesaan tidak hanya ada di delapan provinsi namun akan semakin meluas di lima provinsi lainnya" Pedesaan di lima provinsi seperti Kalimantan Barat, Kelimantan Tengah, Sumatera Barat, Lampung dan Yogyakarta, juga sudah ada di ambang krisis," sebutnya.
Sedangkan pengamat ekonomi Prof Dr Hendrawan Supratikno yang menjadi pembahas hasil penelitisn InterCAFE menilai wajar jika Bank Dunia mencatat angka kemiskinan di pedesaan Indonesia mencapai 66,8 juta"Tahun ini jumlahnya dipastikan bertambah," katanya.(ara)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Wapres Minta Belanda Atasi Hambatan Ekspor
Redaktur : Tim Redaksi