Suami Istri Terpisah Jarak, Sampai Kapan?

Sabtu, 21 Februari 2015 – 21:01 WIB
Foto: Tika Widyafitri for Jawa Pos

jpnn.com - SEKARANG ini, tidak sulit menemukan pasangan suami istri yang jarang bertemu secara fisik. Mereka menjalani perahu rumah tangga tapi terpisah oleh jarak. Kondisi itu disebut commuter marriage.

’’Saya rasa fenomena ini semakin banyak dijumpai karena kondisi zaman. Kebanyakan alasannya adalah pekerjaan atau pendidikan,’’ ungkap DraSuryantini Rahayu MA, psikolog, seperti diberitakan Jawa Pos online (induk JPNN).

BACA JUGA: Ini Snack Sehat yang Tak Bikin Badan Melar

Dalam commuter marriage (CM), pasangan harus punya effort lebih besar mempertahankan pernikahan.

Keputusan untuk menjalani commuter marriage sebaiknya menjadi pilihan terakhir. Dengan kemajuan teknologi, memang benar komunikasi dapat berlangsung via internet ataupun telepon.

BACA JUGA: 14 Tanda Fisik Wanita untuk Mengukur Gairah Seks

Namun, tetap saja ada tantangan-tantangan yang harus dihadapi. Pasangan-pasangan terpisah jarak dan waktu yang belum pernah tinggal serumah otomatis terlambat saling menyesuaikan diri.

’’Mereka belum pernah belajar menjadi satu tim. Persoalan memang bisa dibicarakan, namun biasanya keputusan yang diambil sifatnya bukan kolaboratif,’’ jelas psikolog klinis yang juga wakil dekan II Fakultas Psikolog Ubaya itu.

BACA JUGA: Ingin Lebih Sehat? Lakukan Hal Mudah Ini

Solusi diambil dengan salah satu harus mengalah kepada yang lain. Atau, malah dibiarkan karena mereka menghadapi persoalan sendiri-sendiri.

’’Tidak terbangun kerja sama tim sehingga waktu tinggal bersama bisa saja malah terjadi banyak konflik,’’ imbuhnya. Dalam proses adaptasi hidup berjauhan, bisa saja ada banyak godaan. Tidak harus manusia. Tapi hidup sendiri punya kecenderungan untuk workaholic atau menjadi game addict.

Tantangan semakin kompleks bila pasangan dikaruniai anak. Sosok ayah dan ibu seharusnya lengkap terpenuhi.

’’Usia 0–1 tahun adalah masa kritis pembentukan bonding. Ikatan dengan ayah atau ibu (yang tidak tinggal bersama, Red) tidak sekuat ikatan dengan yang mengasuh sehari-hari,’’ ungkap psikolog yang banyak menangani masalah pernikahan tersebut. Akhirnya sebagai orang tua, akan selalu ada rasa bersalah yang membuat pola asuh tidak ”senada”.

Kesepakatan untuk menerapkan aturan-aturan pada anak tidak bisa ditegakkan dengan jelas. Rasa kangen dan bersalah membuat ayah atau ibu yang tidak tinggal bersama anak akan melanggar aturan yang telah disepakati saat bertemu.

’’Karena ada guilty feeling itu, orang tua tidak bisa menolak permintaan anak. Cenderung memanjakan untuk menebusnya,’’ katanya. Tentu saja itu tidak baik dalam perkembangan pribadi anak.

Karena itu, psikolog yang akrab disapa Nunik tersebut menyarankan, sebelum memutuskan untuk hidup terpisah, pasangan harus punya planning yang tepat.

’’Apa yang menyebabkan CM, cukupkah beralasan? Kemudian, tentukan target batas waktu. Katakan masalah ekonomi, dalam waktu berapa tahun pasangan bisa mengatasinya sehingga bisa berkumpul lagi,’’ jelasnya.

Selanjutnya, strategi komunikasi juga harus dibicarakan. Dalam CM tidak hanya butuh komunikasi, Nunik menggarisbawahi bahwa komunikasinya harus intens.

’’Misal dengan anak, sedari bayi sudah diperdengarkan suara ibunya. Menelepon setiap sebelum tidur. Pengasuhnya juga sering-sering membicarakan soal orang tuanya dengan menunjukkan foto-foto,’’ imbuhnya. Keduanya juga harus pandai membangun quality time saat bertemu. (puz/c10/nda)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ini Cara Alami Kurangi Gejala Depresi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler