Tak Ada yang Bisa Jawab Tiga Kuis Hidayat Nur Wahid

Senin, 07 Mei 2018 – 11:22 WIB
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid menyampaikan materi Sosialisasi Empat Pilar MPR di Kecamatan Prambanan, Minggu (6/5). Foto: Humas MPR

jpnn.com, KLATEN - Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid menyampaikan materi Sosialisasi Empat Pilar MPR di GOR Manisrenggo, Kecamatan Prambanan, Klaten, Jateng, Minggu (6/5/2018).

Sosialisasi Empat Pilar MPR yang diikuti sekitar 400 peserta yang memenuhi GOR merupakan kerjasama MPR RI dengan Komunitas Pencinta Sunnah Rosul (KPSR). Turut berbicara sebagai narasumber anggota MPR Fraksi PKS, Sukamta.

BACA JUGA: Sosialisasi Empat Pilar MPR, Bukan Sekadar Menghibur Rakyat

Di sela menyampaikan materi, Hidayat mengajukan sejumlah pertanyaan, semacam kuis, dengan hadiah berangkat umrah.

Nur mengatakan, bahwa proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus jatuh di bulan Ramadan. “Tanggal dan jam berapa, serta tahun berapa hijriyah. Yang bisa menjawab secara tepat, hadiahnya berangkat umrah,” ujar Nur Hidayat dari atas podium.

BACA JUGA: PKS: Cawapres Pak Prabowo Siapa? Mau Diulur Sampai Kapan?

Beberapa peserta antusias menyampaikan jawaban, tapi tak satu pun yang tepat. HNW, panggilan akrabnya, lantas menyapaikan bahwa para pendiri bangsa sejak awal kompak dalam keberagaman. Dari 9 anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), lanjutnya, terdiri dari empat tokoh umat Islam, empat nasionalis, dan satu tokoh non muslim.

HNW lanjut memaparkan pentingnya menjaga keutuhan NKRI, sampai kapan pun. Dia cerita soal Uni Sovyet, negara adi daya, kuat, dan ditakuti Amerika Serikat, akhirnya hilang, tidak ada lagi alias almarhum. HNW mengajukan kuis lagi, dengan iming-iming hadiah bagi yang bisa menjawab secara tepat.

BACA JUGA: Jaga Keutuhan NKRI, Warga Wajib Mematuhi Hukum Negara

“Apa penyebab Uni Sonyet almarhum?” kata HNW mengajukan pertanyaan. Sayang, beberapa peserta jawabannya tidak persis seperti yang dikehendaki politikus senior dari PKS itu.

"Setelah glasnost dan perestroika, Uni Soviet bisa pecah karena ideologi komunis adalah ideologi yang diimpor," ujarnya. Ini berbeda dengan Pancasila, yang nilai-nilainya digali oleh para pendidi bangsa, dari nilai-nilai dasar masyarakat Indonesia sendiri.

Sesungguhnya, menurut Hidayat, Indonesia yang merupakan negara kepulauan lebih rentan untuk terpecah. "Mengapa kita tidak bubar? Karena kita mempunyai ideologi (Pancasila) yang menyatukan para tokoh dan anak bangsa," jelas Hidayat.

Dia lantas menguraikan lagi mengenai pentingnya seluruh anak bangsa bersatu, rukun, tidak mudah terpecah-pecah, tetap dalam bingkai NKRI. Diuraikan bahwa dulu negara ini pernah berbentuk RIS (Republik Indonesia Serikat), namun kembali ke bentuk NKRI.

“Mengapa kembali ke bentuk NKRI setelah sebelumnya sempat berbentuk RIS? Yang bisa menjawab hadiahnya berangkat umrah,” ujar mantan Presiden PKS kelahiran Klaten itu. Seperti dua kuis sebelumnya, tidak satu pun peserta yang menyampaikan jawaban secara tepat.

Peserta juga antusias saat sesi tanya jawab. Mereka melontarkan pendapat, pertanyaan, saran, dan kritik, secara bergantian. (jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Zulhasan Diangkat Sebagai Anggota Dewan Kehormatan PDUI


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler