Teliti Gangguan Seksual Para Perempuan Pengantin Baru, Kayika Raih Gelar Doktor

Mencari Data di Delapan KUA, Rayu Responden lewat Seminar

Rabu, 13 Juli 2011 – 08:08 WIB
dr I Putu Gede Kayika SpOG. Foto : M Hilmi Setiawan/Jawa Pos

Perempuan yang baru saja menikah alias pengantin baru, ternyata, rawan terkena disfungsi seksual (gangguan seksual)Hal itu terungkap dari penelitian dr I Putu Gede Kayika SpOG

BACA JUGA: Delima Lestari, Penulis Puisi Indonesia yang 20 Tahun Menetap di Belanda

Berkat penelitian tersebut, Kayika kemarin resmi memperoleh gelar doktor


M

BACA JUGA: Para Pelatih Cinta yang Siap Membantu Pria Menggaet Perempuan Idaman

HILMI SETIAWAN, Jakarta

KAYIKA bernapas lega
Dia pun tersenyum bahagia

BACA JUGA: Ultah ke-4 Punguan Simbolon Dohot Boruna Pecahkan Dua Rekor MURI

Itu terjadi ketika namanya dinyatakan lulus oleh Prof Pratiwi Puji Lestari Sudarmono SpMK dan berhak menyandang gelar doktor

Pengumuman kelulusan tersebut seakan menjadi gong dalam acara ujian terbuka program doktoral di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) kemarinSiang itu, sekitar pukul 11.30, Ruang Sena Pratisa Sutomo Tjokronegoro di departemen patologi anatomi menjadi saksi lahirnya seorang doktor baru, I Putu Gede Kayika

Sesudah ujian terbuka, Kayika mendapat ucapan selamat dari sekitar 20-an undangan yang hadirDia didampingi istrinya, Made Sudarmini, serta tiga anaknya, Ni Putu Galuh Wibhutisari, Ni Made Uning Elingasari, dan I Nyoman Karmani Kaynanda"Terima kasih, terima kasih." Kata-kata itu selalu diucapkan oleh Kayika setiap kali disalami teman-temannya
   
Saat ditemui Jawa Pos, spesialis kandungan dan kebidanan dari Denpasar tersebut menjelaskan secara panjang lebar penelitiannya"Penelitian itu berawal dari ketertarikan saya terhadap perilaku para perempuan yang menghadapi masa-masa pranikah," tutur pria 47 tahun itu

Menurut dia, para perempuan tersebut cenderung menyepelekan berbagai persiapan yang seharusnya sudah dimatangkan sebelum hari H pernikahanKalaupun ada bantuan jasa layanan pranikah, menurut Kayika, itu sebatas menata dari sisi spiritual si perempuan dan pasangannya.

"Padahal, orang menikah itu bukan hanya urusan spiritual, tapi juga mental dan kesehatan," tutur dokter yang mengawali karirnya sebagai dokter puskesmas di Kalimantan Selatan tersebut

Salah satu yang menjadi konsentrasi Kayika adalah urusan seksualDia menjelaskan, masa-masa pengantin baru merupakan waktu yang cukup penting bagi perempuanMasa yang cukup penting itu bisa rusak gara-gara persiapan pranikah yang tidak matang.

Kayika menambahkan, budaya yang berkembang di masyarakat kita masih memandang tabu kegiatan mengonsultasikan persoalan disfungsi seksual"Terutama bagi perempuan," ujar dia"Karena itu, penelitian saya tersebut lebih berfokus pada disfungsi seksual pada perempuan pengantin baru," ungkap dia

Dalam penelitian itu, Kayika menggunakan 94 perempuan yang akan menikah sebagai respondenBagaimana cara dia mengumpulkan puluhan perempuan itu" Kayika menyatakan menggali data dari delapan KUA (kantor urusan agama) di Jakarta Utara dan Jakarta PusatDemi penelitian itu, Kayika mendampingi seluruh repondennya hingga tiga bulan setelah menikah.

Kala menggali data dari para responden, Kayika juga menemukan hambatan"Mereka cenderung tertutupTapi, itu sudah dipertimbangkan," terang dia

Cara mengatasinya, Kayika mengumpulkan seluruh reponden dalam sebuah seminarDi acara tersebut, dia meyakinkan para responden itu bahwa informasi yang mereka berikan bisa mengatasi persoalan seksual orang lain"Akhirnya, mereka bersedia," kata diaPara responden itu akhirnya bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan Kayika tentang urusan hubungan ranjang setelah mereka menikah.

Melalui penelitian yang menggunakan alat ukur female sexual function index (FSFI) dan memperhitungkan distress (jenis stres negatif) pribadi, Kayika menengarai 19,1 persen atau sekitar 17 perempuan di antara 94 responden pada masa pengantin baru mengalami disfungsi seksual

Celakanya, dari jumlah tersebut, hanya seperempatnya yang mempersepsikan diri mengalami disfungsi seksual"Persepsi yang rendah itu bisa disebabkan munculnya anggapan bahwa disfungsi seksual bukanlah suatu gangguan yang mengancam jiwa," jelas dokter yang sekarang bertugas sebagai kepala Klinik Utan Kayu di FK UI tersebut.

Kayika menuturkan, rendahnya persepsi tersebut mengakibatkan disfungsi atau gangguan seksual pada perempuan tidak dianggap sebagai penyakitLantas, bagaimana bentuk-bentuk disfungsi seksual pada perempuan yang barstatus pengantin baru? Kayika membeberkan, disfungsi seksual tersebut bisa digolongkan menjadi empat macam

Pertama, gangguan dorongan seksual atau desire"Banyak orang mengistilahkan libido," katanyaPada kondisi tersebut, perempuan ogah atau sulit "bangun" untuk memulai hubungan intim dengan pasanganPerempuan menunggu "diganggu" pasangannya dulu.

Kedua, disfungsi seksual yang dia sebut sebagai gangguan kebangkitan seksual atau aruasalSecara sederhana, dia menjelaskan bahwa perempuan yang mengalami disfungsi seksual jenis itu tidak mudah terangsang"Sudah lama dirangsang, tetapi tidak basah-basah (tidak terjadi lubrikasi atau perlendiran vagina, Red)," terang dia.

Ketiga, disfungsi seksual yang berwujud gangguan orgasmePerempuan dengan disfungsi seksual jenis itu saat melakukan sanggama atau coitus tidak bisa menikmati puncak hubungan intim

Keempat, disfungsi seksual berupa nyeri seksualKayika menuturkan, perempuan yang mengalami nyeri seksual itu tidak bakal bisa mencapai orgasme"Selama berhubungan intim, perempuan hanya merasakan kesakitan," papar dia.

Dari empat bentuk disfungsi seksual tersebut, Kayika menetapkan dua biang keladi yang dominanPertama, perempuan itu sebelum menikah pernah mengalami trauma seksualKedua, perempuan tersebut mengalami depresi"Mengalami salah satu saja di antara dua faktor itu berisiko disfungsi seksual," ucap dia.

Berbekal hasil penelitian tersebut, Kayika mengharapkan perempuan lebih giat lagi berkonsultasi tentang seks sebelum menikahKonsultasi itu dilakukan untuk menggali apakah perempuan yang bersangkutan pernah mengalami trauma seksual atau depresiSebab, jelas Kayika, faktor tersebut bisa diselesaikan dengan bantuan psikolog atau psikiater.

Berapa lama? Kayika tidak bisa menentukan lamanya"Waktu penyembuhan relatifBergantung seberapa besar trauma atau depresi yang pernah dialami," tegas dia
Kayika mengingatkan, semakin cepat diketahui, faktor-faktor yang bisa memicu disfungsi seksual tersebut bisa segera ditanganiKayika juga mengharapkan perempuan bisa menyelesaikan persoalan itu sebelum menikahDengan begitu, peluang munculnya disfungsi seksual setelah menikah bisa ditekanDia berpandangan bahwa hubungan seks dalam rumah tangga merupakan unsur penting untuk meningkatkan hubungan dan kualitas hidup
   
Kayika juga berpesan supaya pemerintah lebih gencar mengampanyekan kesadaran masyarakat untuk menata kesehatan seksual sebelum menikahPemerintah, menurut dia, masih memegang peran penting dalam persoalan ituSebab, layanan konsultasi pranikah sampai saat ini masih tersebar di kota-kota besarKe depan, setiap petugas KUA diharapkan memegang brosur tentang cara mengatasi disfungsi seksual, terutama pada perempuan(c11/kum)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pangkalan Udara Adisutjipto, Kawah Candradimuka Penerbang TNI-AU


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler