Tentang Kegigihan, Keikhlasan, dan Impian Polisi Hebat Itu

Senin, 15 Februari 2016 – 00:01 WIB
Bripka Junaidin, personel Polsek Rasanae Barat, Kota Bima, bersama dengan anak-anak dan pembimbing pondok pesantren Al Fathul Alim, ponpes yang dia dirikan sendiri di desa Songgela, Kota Bima, NTB, Rabu (10/2) lalu. Foto: Tri Mujoko Bayuaji/Jawa Pos

jpnn.com - BRIPKA Junaidin mendirikan sebuah pondok pesantren di Desa Songgela, Kota Bima. Para santri juga diajari ilmu hukum sederhana. Jika kelak ponpes bisa menjadi lembaga pendidikan resmi, Junaidin ingin mengundang Kapolri, menteri agama, dan duta besar Arab Saudi.

TRI MUJOKO BAYUAJI, Bima

BACA JUGA: Gubernur Ganteng Itu jadi Pusat Perhatian Ibu-ibu di Istana

Perbincangan Jawa Pos dengan Junaidin terhenti sejenak saat waktu sudah menunjuk salat Asar. Junaidin memerintah para santri Ponpes Al Fathul Alim segera mengambil air wudu.

”Kalau air tidak usah khawatir, satu pompa saja cukup. Ini air dari gunung-gunung,” kata Junaidin seraya menunjuk perbukitan yang mengelilingi ponpes yang dia dirikan pada 2009 itu.

BACA JUGA: Sungguh, Banjir Kali Ini Membuka Luka Lama

Setelah berwudu, para santri yang rata-rata berusia 6–7 tahun secara tertib mengambil saf dengan rapi.

Kali ini Junaidin berinisiatif melakukan azan Asar. Namun, speaker yang dipakai ternyata bermasalah. Setelah diperiksa, ada sambungan kabel yang terputus.

BACA JUGA: Usia 73 Tahun, Masih Ingin Blusukan

Mengeringkan tangan sebentar, Junaidin memasang kembali kabel itu dan azan pun bisa berkumandang.

Seusai salat, polisi yang bertugas di Polsek Rasanae Barat, Kota Bima, tersebut mengaku sengaja sampai sekarang masih fokus membantu di desa kampung halamannya tersebut.

”Kalau saya umumkan juga di desa lain, saya yakin pasti nambah anak-anak di sini,” ujarnya.

Semua santri di Al Fathul Alim yang didirikan dengan biaya dan tenaga sendiri itu memang berasal dari Songgela. Jumlah totalnya 70 anak.

Di ponpes yang cukup jauh dari perkampungan penduduk tersebut, mereka dididik baca dan hafal Alquran.

Junaidin menilai, ada nilai tambah bagi seseorang yang bisa menghafal Alquran, apalagi 30 juz. Nah, di sela mengajar baca dan hafal Alquran, dia menyisipkan pelajaran tambahan yang mungkin tidak diberikan di ponpes lain. Yaitu, ilmu hukum sederhana. Itu sesuai dengan latar belakang profesi Junaidin sebagai polisi.

Yang diajarkan juga sangat mendasar. Misalnya, kalau mengambil barang milik orang lain, seseorang tidak hanya berdosa dan harus mempertanggungjawabkannya di akhirat kelak. Tapi, juga melanggar hukum negara.

Junaidin merasa tambahan ilmu hukum itu perlu karena alasan utama yang mendorongnya mendirikan ponpes adalah meningkatnya angka kejahatan di Bima.

”Alhamdulillah, anak-anak di sini tidak bermasalah (dengan hukum, Red),” ujarnya bangga.

Untuk ilmu hukum sederhana, Junaidin sendiri yang mengampu. Tapi, untuk baca dan hafal Alquran, Ponpes Al Fathul Alim kini sudah memiliki empat pengajar.

Junaidin mengungkapkan, dengan jumlah anak yang terus bertambah, dirinya kesulitan kalau harus mengajar sendirian.

Sebab, tugas di kepolisian juga padat. Karena itulah, mulai tahun ini, ada empat tenaga pengajar sukarela yang membantunya.

”Mereka ini pengajar dari sekolah sekitar. Saya ajak ke sini secara sukarela karena saya sudah kewalahan,” ujar pria yang pernah mengenyam pendidikan di madrasah itu.

Dengan adanya para pengajar tersebut, anak-anak Desa Songgela kini bisa setiap hari nyantri di ponpes. Setelah jam sekolah selesai, pukul 14.00, mereka biasanya sudah berkumpul. Mereka belajar mengaji dan menghafal Alquran sampai pukul 17.00.

Dulu, ketika Junaidin sendirian mengajar, belum tentu anak-anak bisa mengaji setiap hari. Sebab, mereka harus menyesuaikan waktu dengan Junaidin. Jika sedang ada demonstrasi di Kota Bima, pria 38 tahun itu sampai harus absen datang ke pesantren hingga tiga hari berturut-turut.

”Saya kasihan sama anak-anak. Mereka sudah capek datang, harus pulang lagi, tidak jadi belajar,” tuturnya.

Karena itu, untuk menghargai jerih payah para pengajar, Junaidin ingin memberi mereka insentif. Sebab, setelah sibuk mengajar di sekolah masing-masing, mereka sudah dengan ikhlas datang ke ponpes untuk membantu dia.

”Insya Allah nanti ada untuk mereka, saya sudah niat untuk itu,” ujarnya.

Hingga saat ini sarana dan prasarana untuk mendukung anak-anak mengaji juga terbatas. Ponpes Al Fathul Alim belum memiliki jumlah buku Iqra ataupun Alquran yang mencukupi untuk satu per satu sesuai jumlah santri.

Sesekali, Junaidin juga menyediakan makan kepada para santri. Itu dilakukan agar mereka bersemangat selama mengaji. Selain itu, yang bisa fasih dan hafal membaca Alquran diberi hadiah.

Kelak, jika ada anak didik ponpes Al Fathul Alim yang bisa hafal Alquran sampai 30 juz, Junaidin berjanji membantu menyekolahkan mereka ke Makkah dan Madinah. Tak mudah memang, tapi dia yakin ada santri dari ponpesnya yang bakal jadi hafiz.

Untuk biaya sekolah ke Makkah dan Madinah, Junaidin mengaku sudah memiliki jalur. Yakni, famili yang tinggal di Makkah. Melalui mereka, Junaidin akan mengirim anak berprestasi itu untuk bersekolah dan tinggal bersama saudaranya tersebut. ”Mereka siap bantu,” ujarnya.

Kegigihan Junaidin mendirikan dan menjalankan ponpes sendirian itulah yang membuat Dimas Zakia tergerak. Salah seorang pengajar yang membantu Junaidin itu mengaku terpanggil. ”Saya baru awal tahun ini ada di sini,” kata adik kandung Junaidin itu.

Dengan kesibukan Junaidin, Dimas sering membantu Junaidin untuk urusan internal ponpes. Selain mengajar, Dimas yang menginap di ponpes itu rutin membersihkan lingkungan sekitar setiap hari.

Dimas mengaku bangga dengan dedikasi dan keikhlasan kakaknya. Sebab, hampir semua waktu luang yang dia gunakan dihabiskan untuk pengembangan ponpes.

”Jadi, saya senang bisa membantu dia,” katanya.

Junaidin memiliki mimpi besar, yakni menjadikan pesantrennya semakin berkembang. Salah satunya, bisa memiliki asrama. Kebetulan masih ada sejumlah ruang kosong di kompleks ponpes yang bisa digunakan untuk asrama.

”Kalau saya punya asrama dua lantai saja, itu sudah bagus. Anak-anak sudah ingin menginap di sini,” ujarnya.

Adanya asrama tentu menjadi sarana penunjang bagi mimpi Junaidin lainnya, yaitu mengesahkan ponpes itu sebagai lembaga pendidikan resmi. Junaidin berharap ponpesnya bisa menjadi salah satu madrasah di Kota Bima.

Untuk merealisasikannya, Junaidin mengaku saat ini masih mempelajari syarat-syaratnya. Salah satu caranya, intens berhubungan dengan orang dari dinas pendidikan dasar.

Bisa jadi impian itu masih lama terealisasi, tapi setidaknya Junaidin sudah berbangga lantaran beberapa syarat sudah terpenuhi lewat jerih payahnya.

”Kan selain bangunan gedung, harus ada murid-muridnya. Nah, kalau murid kan sudah ada,” ujarnya.

Jika impian itu terwujud, dia berharap suatu saat bisa mengundang Kapolri, menteri agama, dan duta besar Arab Saudi untuk bisa berkunjung ke ponpesnya.

”Ya, walau sederhana, syukur-syukur kalau atasan bisa tahu. Saya pengin cerita ada anak buahnya yang bangun pesantren,” tuturnya, lantas tertawa. (*/c10/ttg)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kisah Hebat Seorang Polisi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler