Tentang Kesibukan Prajurit Memasak di KRI Soeharso

Sabtu, 06 Februari 2016 – 00:06 WIB
Prajurit memasak di KRI Soeharso. Foto: Folly Akbar/JPG

jpnn.com - JARUM jam baru menunjuk pukul 03.30 Wita. Di luar, cahaya fajar belum lagi menyingsing. Begitu pula buih lautan yang dipecah laju KRI Soeharso-990 yang masih terlihat samar-samar.

FOLLY AKBAR, Dili

BACA JUGA: Awalnya 4 Murid, Kini Sudah Lahirkan Puluhan Desainer Papan Atas

Di dalam kapal yang tengah melakoni misi internasional bantuan medis ke Timor Leste itu, tanda-tanda kehidupan juga belum tampak. Tiap kamar yang tersebar di berbagai lantai masih memeluk erat penghuni masing-masing pada Rabu lalu itu (27/1).

Kecuali sebuah ruangan berukuran 7 x 6 meter di dek B kapal militer tersebut. Itulah ruangan yang bertanggung jawab mengisi perut 385 orang yang diangkut KRI Soeharso ke Timor Leste. 

BACA JUGA: Rahmawaty, Anak Pemulung Sampah jadi Wisudawan Terbaik

Di pagi buta itu, di dapur tersebut, empat prajurit terlihat tengah bekerja keras menyiapkan makan pagi. ”Menu hari ini rawon setan, Mas,” kata Sersan Dua Siswono sembari tangannya sibuk mengiris kubis. 

Selain rawon, ada dua menu pendamping lain, semur tahu dan daging kambing kering. Sesuai jadwal, makan pagi dimulai pukul 06.00–08.00. Artinya, mereka hanya memiliki waktu dua setengah jam untuk menyuguhkan makanan.

BACA JUGA: Temukan Emas di Gundukan Sampah

Kerepotan di ”garis belakang” kerap luput dari perhatian dalam sebuah perhelatan besar. Termasuk untuk sebuah perjalanan misi internasional bantuan medis pertama sepanjang sejarah seperti yang dijalani KRI Soeharso.    

Padahal, menyiapkan konsumsi untuk 385 orang, tiga kali sehari, selama berhari-hari, itu sama sekali bukan pekerjaan ringan. Dibutuhkan persiapan, koordinasi, dan kerja sama tim yang sangat baik. Tak ubahnya para prajurit yang berada di garis depan.

Sulit membayangkan misi besar seperti ke Timor Leste itu bakal berlangsung sukses kalau stamina para tenaga medis dan prajurit yang terlibat tak dijaga dengan baik. Karena itu, para prajurit di garis belakang harus berkejaran dengan deadline ketat penyiapan makan.

Begitu selesai sarapan, mereka langsung menggeber persiapan makan siang yang dijadwalkan berlangsung pukul 12.00–14.00. Makan siang beres, menu makan malam yang diagendakan pada pukul 18.00–20.00 sudah harus dipersiapkan lagi. 

”Setiap tim dapur mendapat pelatihan selama sebulan, seperti cara menggunakan takaran bumbu, etika melayani, dan lain-lain. Lalu, belajar praktik langsung ke senior, jadi turun-menurun ilmunya,” terang Siswono.

Dengan tiga jadwal makan dikalikan jumlah orang yang diangkut kapal, sedikitnya ada 1.155 porsi yang harus disiapkan setiap hari. Jumlah itu bisa lebih karena selalu ada porsi cadangan.

Tim dapur juga harus menyiapkan menu ekstra sehari dua kali. Masing-masing pada pukul 10.00 dan 20.00. Atau total sekitar 800 porsi dalam sehari. Bentuknya, bisa roti isi selai, burger isi daging, maupun sosis. Juga, umbi-umbian lengkap dengan teh manis.

Memasak dalam jumlah besar sebanyak tiga kali sehari plus dua makan ekstra jelas butuh fisik prima. Apalagi, kendati tim logistik terdiri atas 20 orang, yang intens dalam memasak hanya delapan orang. 

Delapan orang lainnya bertugas menjaga pantry di dek D dan E. Sisanya bertugas di bagian penyajian sambil sesekali ikut membantu. ”Jadwal penanggung jawab utamanya saja yang di-rolling, tapi semua tetap ikut bantu,” kata Kepala Badan Logistik Letnan Satu Restu Anugerah. 

Untung, kerja berat tersebut didukung peralatan dapur yang modern. Misalnya, blender, tungku goreng, hingga boiler. Semua peralatan itu tersedia dalam ukuran jumbo. 

Boiler, misalnya, memiliki tinggi 1 meter dengan diameter 0,5 meter. Untuk sekali masak, boiler tersebut mampu menanak nasi hingga puluhan kilogram.

Total empat boiler ada di dapur kapal. Fungsinya, selain bisa menanak nasi, juga memasak sayur maupun daging dalam jumlah jumbo. 

”Anggota biasanya sudah tahu ukuran seberapa banyak bumbu untuk satu tempat,” tutur Restu.

Terkait menu, lanjut dia, pihaknya mengajukan sejak beberapa hari sebelum pemberangkatan. Itu penting untuk menentukan barang dan makanan apa yang harus dibelanjakan. 

”Kami belanja selama tiga hari sampai sebelum berangkat,” imbuhnya.

Perencanaan memang menjadi fase terpenting bagi tim logistik. Sebab, jika ada satu bahan atau bumbu saja yang tertinggal, misalnya garam, mereka bakal repot sekali. ”Kalau di darat ada yang kurang, tinggal ke warung, lha kita mau ke mana,” kata pria asal Makassar tersebut.

Biasanya, bahan makanan yang mudah busuk didahulukan sebagai menu makanan. Untuk sayur, bahan jenis sayur-sayuran hijau seperti kangkung dan bayam menjadi menu di awal-awal perjalanan. Meski tersedia fresh room di kapal, sayur hijau hanya bertahan maksimal seminggu.

Sementara itu, sayuran nonhijau seperti wortel, kubis, atau kentang biasanya baru dimasak di akhir perjalanan. Sebab, bahan tersebut mampu bertahan sebulan.

Sampai dengan kapal tiba di Dili, Timor Leste, Sabtu lalu (29/1), hasil kerja tim dapur dipuji para penumpang kapal yang membawa 45 dokter –22 di antaranya spesialis– dari tiga matra TNI itu. 

”Saya suka makanannya. Meski di kapal, tapi masih tetap fresh,” kata Muchlis, salah seorang penumpang yang bertugas di bagian humas.

Pengaturan giliran makan juga berlangsung lancar. Waktu makan dirancang panjang, sekitar dua jam, bukan agar setelah makan, penumpang bisa bersantai dulu. 

Tapi, karena jumlah penumpang melebihi kapasitas ruang makan. Jadi, harus bergantian. Jangan bayangkan seperti makan di warung: habis makan nongkrong sembari, mengutip istilah orang Jawa, ”menunggu perut melorot dulu”.     

Layaknya kapal militer, peraturan yang dibuat juga mengadopsi aturan di barak-barak tentara. Selain makan harus cepat, setiap kepala haram mengambil lebih dari satu lauk. Kalau sampai ada yang nakal, dapat dipastikan, ada orang lain yang tidak mendapat jatah lauk.

Untung, meski tak semua penumpangnya tentara, tak ada yang nakal. Yang makan puas, yang masak juga. Tim logistik pun berharap perjalanan pulang mulai Selasa (2/2) bakal bisa sama lancarnya. 

Jangan sampai di tengah jalan, misalnya, ada masalah dengan listrik. Kalau itu terjadi, otomatis mereka tak akan bisa melakukan apa-apa. Sebab, semua peralatan dapur menggunakan setrum. (*/c10/ttg)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Dua Kali Melahirkan Bayinya Jumbo Semua, Selamat ya...


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler