Ternyata Gerindra Sudah Lama Tahu Golkar Incar Kursi MPR

Sabtu, 12 Oktober 2019 – 21:17 WIB
Ahmad Riza Patria. Foto: dok/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Ahmad Riza Patria mengaku pihaknya sudah lama tahu kalau Partai Golongan Karya (PG) mengincar kursi ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). 

Ketua Fraksi Partai Gerindra di MPR itu  mengatakan, sejak awal partai koalisi pendukung pemerintah sudah membuat kesepakatan. Dia menjelaskan, kesepakatan itu karena Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dipimpin kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDIP sebagai partai pemenang pemilihan umum (pemilu), maka PG yang meraih kursi terbanyak kedua di parlemen ingin jadi ketua MPR.

BACA JUGA: Berawal dari Curhat, Si Kakak Malah Ajak Adik Berbuat Terlarang, Sudah Berkali-kali

"Kami sudah tahu sejak lama," kata Riza dalam diskusi "Peta Politik Usai "Pesta" di Parlemen"  Sabtu (12/10), di Jakarta. 

Riza menegaskan tidak pernah terpikirkan sejak awal oleh Partai Gerindra untuk menduduki jabatan ketua MPR. Hanya saja, lanjut dia, dalam perjalanannya, karena melihat tajamnya kompetisi saat pilpres, dan Gerindra juga sebagai oposisi, maka pihaknya ingin masuk di parlemen sebagai penyeimbang.

BACA JUGA: La Nyalla Pastikan Penusukan Wiranto Bukan Rekayasa

Riza mencontohkan saat era Presiden Keenam Republik Indonesia (RI) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Partai Demokrat (PD) berkuasa, PDIP yang saat itu di luar pemerintahan diberikan kesempatan menempati posisi ketua MPR. Terbukti, kata Riza, Ketua MPR Taufik Kiemas kala itu bisa membawa MPR menjadi lebih baik dari sebelumnya. 

"Itu saling memberikan kepercayaan sekalipun oposisi bahwa untuk kepentingan bangsa negara bisa duduk bersama. Tidak ingin gunakan kesempatan atau apa pun kekuasaan  di MPR untuk menjatuhkan presiden sekalipun dipimpin oposisi," katanya. 

BACA JUGA: Arteria Dahlan: Tak Puas Dengan Revisi UU KPK Silakan ke MK

Menurut Riza, alasan untuk keseimbangan politik banyak mendorong Gerindra untuk duduk di ketua MPR. Selain itu, kata dia, dukungan dari rekan-rekan secara pribadi juga pengin supaya ketua MPR bisa diberikan kesempatan kepada Gerindra. "Kami coba lobi dan sebagainya, tetapi mungkin waktu tidak cukup, dan sudah jauh terjadi kesepakatan Partai Golkar dan lainnya," kata Riza. 

Dia menegaskan bahwa sebenarnya Gerindra ingin maju sampai akhir sekalipun pemilihan ketua MPR harus dilakukan lewat voting. 

Menurut dia, hal itu untuk menunjukkan bahwa bagi Gerindra perjuangan bukan soal menang kalah, tetapi harus memperlihatkan sikap jelas. "Harus ditunjukkan dengan sikap, tidak sekadar simbol, tetapi diimplementasikan," katanya.

Ia menambahkan meskipun dalam hitungan hanya akan dapat 78 suara dari Fraksi Partai Gerindra, tetapi banyak keinginan dari tokoh agar MPR tidak voting.

Dengan semangat musyawarah, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto mencoba menghubungi Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputi membangun komunikasi. "Bu Megawati menyampaikan kalau dimungkinkan musyawarah, tetapi Bu Mega baik karena menyerahkan kembali kepada Pak Prabowo untuk menentukan piliham boleh musyarawah atau maju voting. Sikap Bu Mega yang demikian dapat simpati dari Prabowo," katanya.

Akhirnya, kata dia, Gerindra pun menggelar rapat dan demi musyawarah mufakat memutuskan mendukung Bambang. 

"Keputusan MPR harus lewat musyawarah sebaik mungkin. Apalagi, lima tahun ini MPR dapat tugas berat dan rutin. Harus mengedepankan bangsa dan rakyat," pungkasnya.  (boy/jpnn)


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler