THR PNS Gapok dan Tunjangan, Ada Gaji ke-13, Honorer K2 Dapat Apa?

Selasa, 14 Mei 2019 – 07:32 WIB
Titi Purwaningsih. Foto: istimewa for JPNN.com

jpnn.com - Honorer K2 merasa pilu setiap kali membaca berita bahwa THR (tunjangan hari raya) untuk PNS akan cair pada 24 Mei 2019.

Mesya Mohamad, Jakarta

BACA JUGA: Pemberkasan PPPK Hasil Seleksi Tahap I Belum Tuntas, Mau Buka Tahap II?

"BAGAIMANA enggak tersiksa batin, puluhan tahun mengabdi kami tidak pernah merasakan apa itu THR."

Kalimat tersebut diungkapkan Ketum Perkumpulan Hononer K2 Indonesia (PHK2I) Titi Purwaningsih menanggapi hari gembira bagi seluruh PNS yang akan menerima THR 24 Mei mendatang.

BACA JUGA: Sarjana Pendidikan Membeludak, Honorer Sengsara, kok Impor Guru?

Nominal THR kali ini lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena tidak hanya gaji pokok. THR tahun ini sebesar take home pay bulanan. Jadi, gaji pokok ditambah tunjangan-tunjangan.

Sebagai guru honorer yang selalu memakai seragam tidak ada bedanya dengan PNS, Titi merasakan tekanan batin luar biasa. Walaupun momentum tersebut tiap tahun terjadi, tapi selalu saja melukai hatinya.

BACA JUGA: Pembayaran THR PNS dan TNI / Polri 24 Mei, Honorer Gigit Jari

Melihat guru-guru PNS membahas THR yang bakal diterima. Lantas mendengar rekan-rekannya akan belanja menggunakan uang THR untuk beli baju baju bagi anak-anak mereka, sirup, kue-kue lebaran, dan lainnya.

BACA JUGA: Tantang Jenderal Tito Karnavian, Pria Asal Cirebon Ditangkap Polisi

Titi menyebutkan, rerata honorer K2 hanya mengandalkan kebijakan dari pimpinan instansi maupun kepala sekolah. Kalau lagi ada uang ya dapat sekadar bingkisan. Kalau tidak ya terpaksa bersabar.

"Mau bagaimana lagi namanya juga honorer. Dibutuhkan tenaganya tapi tidak dihitung untuk penggajiannya atau honornya. Sepanjang ada anggaran ya dikasih. Kalau tidak ada ya biasa hanya jadi penonton PNS terima puluhan juta," ucapnya.

Jauh di lubuk hati paling dalam, guru honorer di Banjarnegara ini Ingin merasakan THR seperti apa. Selama hampir 16 tahun jadi abdi pemerintah belum pernah Titi merasakan yang namanya THR. Dengar dan lihat iya, tapi terima dan rasakan belum pernah.

Meski begitu Titi dan rekan-rekannya sesama honorer K2, tidak patah arang. Berbagai cara dilakukan untuk merayakan lebaran mubarok. Seperti kerja sambilan jadi buruh bangunan, sales, jualan kue dan baju.

Tidak sedikit pula yang memilih ngutang. Semuanya dilakukan demi rendang, opor ayam, dan ketupat lebaran.

"Memang sih agak memaksakan diri tapi siapa sih yang enggak ingin saat lebaran tampil beda. Apalagi masyarakat itu enggak tahu kalau kami ini honorer. Tahunya mereka kami PNS. Masa lebaran kasih ikan teri, sayur asem, sama nasi?," tuturnya.

Saat mau lebaran begini, dari awal bulan Ramadan banyak honorer yang sudah peras keringat agar mendapatkan penghasilan tambahan, minimal buat beli baju anak-anak dan sekadar beli daging ayam buat lebaran.

Titi hanya bisa mengelus dada melihat kehidupan honorer K2 di Jakarta dan Surabaya. Walaupun sama-sama honorer tapi, honorer K2 di dua daerah itu lebih sejahtera.

Titi dan rekan-rekannya di daerah lain hanya digaji Rp 300 ribu per bulan yang dirapel per triwulan. Sedangkan honorer di dua kota tersebut menerima gaji setara UMR.

BACA JUGA: Rekapitulasi Suara Manual Jokowi - Ma'ruf 64,32%, Bandingkan dengan Situng KPU

Titi selalu mewanti-wanti honorer K2 DKI dan Surabaya untuk selalu bersyukur karena lebih diperhatikan daerahnya walaupun tidak sebanding PNS. Minimal selalu ada harapan dapat rezeki menjelang lebaran. Daripada honorer K2 daerah lain bayarannya tiga bulan sekali. Kalau dihitung tiap bulan masih nombok untuk transport.

"Namun ya sudahlah. Ini sudah jalan yang digariskan Allah. Ya saya kembalikan lagi semuanya ke Allah. Barangkali menjadi honorer ini salah satu jalan untuk memudahkan nanti di akhirat menuju surganya Allah. Daripada mengeluh terus dan dipikir yang ada hanya kecewa terluka dan sakit hati. Serahkan dan pasrahkan saja pada Allah pasti semuanya akan beres nantinya," tuturnya.

Nur Baiti, koordinator PHK2I DKI Jakarta, punya cerita berbeda dengan Titi. Guru honorer DKI ini harus berjuang sendiri untuk kedua anaknya. Alhasil gaji maupun sedikit THR yang diterima dirasakan pas-pasan. Tidak berlebihan, tidak kurang.

Sebagai single parent, Nur memang harus pintar mengelola uang gaji Rp 3,950 juta per bulan. Hidup di Jakarta yang biayanya serba mahal membuat Nur tidak boleh gegabah.

"Kalau ngomongin THR saya bingung. Dibilang dapat ya alhamdulillah. Dibilang enggak dapat, nyatanya ya dapat tapi masih jauh berbeda dengan yang PNS. Tetap disyukuri saja. Alhamdulillah setiap tahun kebutuhan anak anak tercukupi," ucapnya.

Lebaran 2019 ini menurut Nur sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. PNS benar-benar dimanjakan. Selain dapat THR setara pendapatan satu bulan (gaji pokok dan tunjangan), juga gaji ke-13. Belum lagi dapat uang sertifikasi dan tunjangan kinerja daerah (TKD).

"Jadi kalau honorer hanya dapat THR sebesar satu bulan gaji. PNS bisa dapat lebih. Contoh di sekolah saya yang golongan 3A, mereka setiap lebaran bisa dapat THR hampir Rp 20 juta dari tunjangan yang didapat," terangnya.

Nur menyebutkan, kebijakan THR untuk honorer K2 baru didapatkan di 2016 zaman kepemimpinan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Keputusan itu dituliskan dalam Pergub dan sampai sekarang masih digunakan.

Sumarni Azis, korwil PHK2I Sulawesi Selatan, tidak seberuntung Nur. Namun masih lebih beruntung dibandingkan Titi. Dia dan rekan-rekannya mendapatkan THR dari atasannya . Itu pun hanya ratusan ribu rupiah ditambah sembako hasil keuntungan koperasi seadanya. (esy/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Guru Honorer K2 Sudah Sekarat, Mengapa Impor Guru Lagi?


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler