Tindakan Tegas di Mako Brimob Tunggu Jenderal Tito Datang?

Kamis, 10 Mei 2018 – 06:20 WIB
Jenderal Tito Karnavian. Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Hingga pagi ini, rutan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, masih dikuasai gerombolan narapidana teroris bersenjata. Lima polisi telah gugur dan keselamatan 130 napi lain terancam.

Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menyatakan, kerusuhan berujung penyanderaan dan pembunuhan itu berawal dari persoalan sepele. Dipicu komplain napi penghuni blok C terkait pemeriksaan makanan oleh petugas. Karena makanan tak kunjung diberikan, lalu terjadi provokasi. ”Awalnya sepele, soal makanan, kan perlu diperiksa prosedur ya,” jelasnya.

BACA JUGA: Mako Brimob Mencekam, Ahok Sudah Diamankan, ke Mana?

Setelah itu, para tahanan tersebut membobol sel tahanan. Mereka merangsek ke ruang pemeriksaan. Saat itu sejumlah penyidik sedang memeriksa tahanan yang baru datang.

Saat itulah bentrokan terjadi, tahanan tersebut merampas sejumlah senjata api. Laras panjang dan pendek. ”Senjata yang dikuasai tahanan belum diketahui jenis dan jumlahnya,” urai Setyo.

BACA JUGA: Rusuh di Mako Brimob Sudah Mendunia

Setelah menguasai senjata itulah, mereka menyerang lima anggota Polri. Blok B dan A dikuasai seperti halnya blok C. Empat dari Densus 88 Antiteror dan satu anggota dari satuan Polda Metro Jaya. Selain lima anggota Polri itu, seorang napi teroris juga menjadi korban meninggal karena luka tembak saat terjadi bentrokan.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen M. Iqbal mengatakan bahwa jumlah tahanan di tiga blok sekitar 130 orang. Mereka berasal dari berbagai kelompok yang melakukan aksi beberapa tahun belakangan.

BACA JUGA: Berita Terkini: Bripka Iwan Dibebaskan dari Mako Brimob

Iqbal menampik dugaan bahwa serangan di Rutan Mako Brimob terkait dengan ISIS. ”Tidak benar ini terhubung ISIS. Ini karena masalah makanan,” tandas jenderal berbintang satu tersebut. Tewasnya lima polisi menjadikan kejadian tersebut serangan teroris paling mematikan bagi Polri. ”Ya, memang peristiwa yang cukup besar,” ucapnya.

Malam tadi polisi bernama Iwan Sarjana yang disandera sudah berhasil dibebaskan. Beberapa tuntutan napi juga sudah dipenuhi. Salah satunya permintaan untuk bertemu dengan Aman Abdurrahman, dalang bom Sarinah di Jakarta pada 2016.

Soal sampai kapan negosiasi akan dilakukan, Polri tidak menetapkan batas waktu. Namun, kabarnya tindakan tegas akan diambil begitu Kapolri Tito Karnavian datang di Indonesia dari lawatan ke luar negeri.

Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta peristiwa di Kelapa Dua dijadikan momen untuk evaluasi keamanan tahanan napi terorisme. Memang, kejadian itu cukup disayangkan karena hanya berselang dengan kerusuhan serupa di blok yang sama pada 10 November lalu.

JK yakin Polri bisa menyelesaikan kerusuhan di Rutan Mako Brimob. Sebab, lokasi tersebut merupakan markas pasukan khusus polisi. ’’Di situ tempatnya pasukan khusus. Gegana, Brimob, kan pasukan khusus,’’ katanya. (idr/syn/jun/c19/ang)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Benarkah Ini Rekaman Sandera di Mako Brimob, Sakratulmaut?


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler