Tinggalkan Yogyakarta, Ari Dwipayana Kini jadi Orang Istana

Minggu, 18 Oktober 2015 – 15:12 WIB
Ari Dwipayana, tim komunikasi Presiden Joko Widodo. Foto: Ricardo/JPNN

jpnn.com - SOSOK yang satu ini paling sering mondar-mandir di lingkungan Istana Negara. Kehadirannya termasuk yang paling ditunggu puluhan awak media massa yang meliput kegiatan kepresidenan. Dia adalah Ari Dwipayana, tim komunikasi Presiden Joko Widodo.

Dulunya, pria berkaca mata asal Bali itu adalah seorang akademisi, pengajar di Jurusan Ilmu Pemerintahan, FISIPOL, Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Namun, sejak Desember 2014 lalu, ia perlahan mulai meninggalkan sejumlah aktivitas mengajarnya di kota pelajar itu dan masuk lingkungan Istana. Diawali dengan menjadi staf khusus Mensesneg Pratikno.

BACA JUGA: Tentang Keampuhan Minyak Dayak

"Setelah Pak Teten Masduki diangkat menjadi Kepala Staf Presiden, baru saya masuk sebagai staf khusus presiden, di tim komunikasinya," ujar Ari saat berbincang-bincang dengan JPNN beberapa waktu lalu.

Puluhan tahun menjadi akademisi dan kini berkarier di sekitar orang nomor 1 Indonesia, adakah yang berbeda dari kehidupan Ari? Tentu saja. Bisa dibilang, Ari harus menempel pada Jokowi, sapaan Joko Widodo, setiap hari.

BACA JUGA: Bahas Asap, Sempat-sempatnya Berkelakar soal Donald Trump

Diakuinya, presiden yang suka bekerja itu memiliki stamina fisik yang luar biasa.  Karena itu, orang-orang yang mendampingi Jokowi juga harus ekstra kuat untuk mengimbangi intensitas kerja Jokowi. Ari justru salut pada Jokowi yang masih bisa menunaikan puasa Senin dan Kamis di tengah padatnya kesibukan sebagai kepala negara.

"Beliau itu sudah seperti lari marathon. Larinya sangat cepat. luar biasa, jadi memang perlu stamina yang lebih besar untuk ikut ritme kerja beliau. Kecepatan dan ketepatan, kebijakannya. Saya harus bisa pastikan tidak hanya cepat, tapi juga tepat membantu beliau," imbuh Ari.

BACA JUGA: Ditekan Buruh, Menteri Hanif Jumpa Pers di Istana Presiden, Tapi Menkeu Terlihat Pusing?

Setiap hari, Ari selalu bertemu wartawan untuk diwawancarai seputar kebijakan dan kegiatan presiden. Karena itu, mau tak mau, dia juga harus mempelajari beberapa bidang lain secara umum. Terutama ekonomi dan hukum. Sementara bidang-bidang lainnya, sudah dikuasainya karena sebagai akademisi, Ari sudah sering melakukan penelitian dan riset.

"Pengalaman saya di kampus justru sangat membantu pekerjaan saat ini. Bedanya, saat ini akses saya lebih mudah dengan pembuat kebijakan. Sekarang hanya harus lebih cepat, untuk tim kami, agar informasi bisa tersampaikan pada publik," kata pria kelahiran, Gianyar, Bali tersebut.

Setelah menduduki jabatan sebagai salah satu staf khusus presiden di bidang komunikasi, Ari mengaku, sudah tidak bisa mengajar di UGM. Namun, ia masih aktif di berbagai kegiatan di kampus UGM.

Merantau ke Jakarta, Tinggalkan Anak-Istri

Demi mendampingi Jokowi, Ari merantau dari Yogyakarta, kota yang sudah sekitar 25 tahun menjadi tempatnya mengabdi sebagai akademisi, ke Jakarta. Sementara, sang istri, Cokorda Istri Ngurah Risma Dewi, dan empat anaknya AA Gde Ari Mahavira Canakya Puthra, AA Gde Nara Radja Ari Pangkaja, AA Gde Bhre Ganesvara Ari Kuntibhoja serta AA Istri Rakai Arihara Achyuta Devi, masih tinggal di Kota Gudeg itu.

"Saya komunikasi dengan anak istri by phone. Kasihan juga kalau mereka di sini, saya lebih fokus bantu beliau (Jokowi). Ada waktunya, saya juga minta izin Pak Jokowi, untuk ke Jogja nengok anak istri," ujarnya.

Setiap dua kali dalam sebulan, Ari meminta izin kembali ke Jogja bertemu keluarga. Jika tidak, sesekali keluarganya yang datang menyambanginya di Jakarta. Setiap kali pulang, Ari mengaku, selalu wisata kuliner dengan keluarganya. Ia suka mencari soto khas  Wonosari dan menyantap Sop Ayam Pak Min Klaten yang terkenal.

Tak hanya itu, mengaku tinggal di perkampungan Rejodani, Sleman, Ari juga rindu nasi pecel lesehan di pasar tradisional kampung itu. Karenanya, ia rela ikut mengantre di pasar demi nasi pecel tersebut.

"Pokoknya pagi-pagi celana pendek, baju kaos, ke sana ikut ngantre nasi pecel di pasar, bawa koran sambil sarapan di sana. Kalau enggak saya, minta istri masakin masakan Bali. Saya gini-gini masih lidah Bali. Jadi kalau pulang, minta dimasakin" ujar pecinta karya sastra tradional Bali tersebut. Keluarga, ujar Ari, tidak protes dengan kepergiannya ke Jakarta. Justru keluarga mendukung penuh pekerjaannya saat ini. Ke Yogyakarta, Ari juga tetap mengikuti kegiatan di kampungnya seperti rapat RT/RW dan ronda malam.‎

Jika tak kembali ke Yogyakarta, Ari hanya menghabiskan liburan di rumah dinasnya di Jakarta untuk tetap mendampingi presiden, maupun menyiapkan bahan-bahan kegiatan mantan walikota Solo tersebut. Ia juga menyempatkan diri pulang ke Bali, jika ada acara-acara khusus di keluarganya.

Karena ia bukan pecinta jenis olahraga tertentu, maka waktu libur pun tidak dilaluinya dengan berolahraga. Ari mengaku tidak memiliki hobi khusus.

"Kalau saya rindu masakan Bali, saya ke rumah makan daerah Rawamangun, ada yang cocok dengan lidah saya. Kalau di Istana kan nasi padang terus," ujarnya sambil tertawa.

Hingga saat ini, Ari mengaku, sangat menikmati rutinitas menjadi salah satu pendamping kegiatan presiden di Istana. Ia juga sudah terbiasa hampir setahun mengikuti ritme kerja Jokowi dan awak media massa yang mencarinya siang-malam.

"Saya fleksibel, termasuk orang yang menikmati semua hal," tandas Ari sambil tersenyum. (flo/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Orang Ini Peternak Tokek, Harga Bisa Rp 1 M per Ekor, tak Takut Bau Mistis


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler