Tips Branding Wisata ala Menteri Arief

Sabtu, 26 November 2016 – 18:27 WIB
Wonderful Indonesia. Foto: dok.JPNN

jpnn.com - JAKARTA –Menpar Arief Yahya menjadi pembicara di Forum BUMN Brand & Marketing Day 2016 dengan tema “Branding Concerto” yang diinisiasi Majalah BUMN Track di Grand Ballroom, Pullman Hotel, di Central Park, Jakarta.

Di situ dia memberikan tips dan kunci membuat branding wisata untuk Indonesia.

BACA JUGA: Menolak Network Sharing Merugikan Masyarakat

Tak sulit menjawab cara mempertahankan branding itu.

Dia mencontohkan melalui paparan lengkap antara benchmark, best practice, dan teori di level global, yang dibuat Simon Anholt, pionir konsultan National Branding The Anholt GfK Roper Nation Brand Index 2015 lalu.

BACA JUGA: Negara Ini adalah Investor Terbesar Sejak 1971 di Batam

Menurutnya, Anholt telah meneliti enam unsur National Brand Hexagon yakni tourism, people, export, culture and heritage, governance, investment and immigration.

Anholt sudah menangani lebih dari 50 brand negara di dunia.

BACA JUGA: Kemenhub Lakukan Transformasi Pelayanan Lewat,,,

Arief juga memaparkan rumus dari resit Kasper Nielsen, Executive Partner of Reputation Institute.

“Ketika country reputation naik 10%, maka tourist akan naik 11% dan investasi naik 2%," ujarnya.

Arief Yahya juga menjelaskan, apa yang dilakukan Coca Cola, The World’s Best Brand Builders.

“Pesan yang ditangkap oleh publik seluruh dunia akan Coca Cola adalah refresh. Misinya to refresh the world, to inspire moments of optimism and happiness, to create value and make a difference! Dia sukses, dengan tagline: taste the feeling,” kata Arief.

Arief memang memiliki pengalaman sebagai profesional yang pernah mem-branding Telkom dengan semua produknya.

Seperti Telkomsel. Kartu AS, Simpati, Flexy, Speedy dan lainnya.

Menurutnya, ada beberapa contoh cara membuat brand saat dia memimpin perusahaan telekomunikasi itu.

Brand itu ada value-nya. Ketika saya menjadi Dirut Telkom, value-nya USD 2M, sedangkan anak perusahaannya Telkomsel, tiga kali lipat lebih besar, yakni USD 6 miliar. Maka, Telkomsel yang brand value-nya lebih besar meng-endorse induknya, Telkom. Dan itu biasa saja. Yang kuat meng-endorse yang lemah,” lanjut Arief.

Setelah menjadi Menteri Pariwisata, Arief melihat  brand Pulau Bali di dunia wisata jauh lebih besar daripada Indonesia.

Bali adalah destinasi utama dengan 40% pintu masuk wisatawan mancanegara, karena itu jauh lebih popular.

Bahkan banyak yang lebih sering mendengar kata-kata Bali daripada Indonesia.

“Bali sudah top of mind di tourism, karena itu Bali meng-endorse Wonderful Indonesia. Setiap promosi pariwisata selalu dikait dengan Bali sebagai destinasi yang mendunia. Dan itu juga sudah terjadi,” sambung Arief.

Dia mengakui untuk produk komersial, saling meng-endorse memang sudah lazim.

Arief juga menegaskan kembali prinsip dalam mengelola korporasi maupun Kementerian sekarang.

Menurutnya ada tiga hal penting untuk menjaga brand yaitu Trade, Tourist, Investment atau TTI.

Sekarang dalam konteks Indonesia sudah menjadi Tourism Trade dan Investment.

Di kesempatan yang sama, Chief Editor BUMN Track Ahmad Khusaeni menyebut reputasi brand Wonderful Indonesia sudah sangat mendunia.

Dia terus mengamati TTCI World Economic Forum yang menempatkan brand pariwisata Indonesia menembus peringkat 47.

“Itu bukan pekerjaan ringan. Dan itu bukti bahwa brand Wonderful Indonesia makin popular di dunia,” kata Khusaeni.

Dia setuju dengan statement Menpar Arief Yahya tentang kekuatan national branding adalah TTI, tourism trade investment.

“Kalau tourism kita sudah sangat kuat, dan menduduki peringat pertama, mengapa bukan tourism saja yang meng-endorse yang lain?” katanya.

Bagi Indonesia, kata mantan Pemimpin Redaksi LKBN Antara itu, tren tersebut sudah on the right track.

“Pariwisata akan menjadi sumber pendapatan Negara yang utama. Pariwisata akan menjadi bibit emas nomor satu devisa negara. Ketika pendapatan migas turun, pariwisata cenderung naik dari waktu ke waktu. Betul Kata Pak AY (Arief Yahya), nanti sumber pendapatan negara itu tidak lagi dikategorikan sebagai migas dan nonmigas. Tapi pariwisata dan nonpariwisata,” ujarnya.

Khusaeni juga menjelaskan, dunia sekarang terjadi trend disruptive marketing, di mana terjadi penciptaan pasar baru dari kalangan anak muda dan level menengah bawah.

Ini terbukti, dari sukses budget airline atau LCC (low cost carrier), budget hotel, sehingga semua orang bisa berwisata.

“Sedangkan anak-anak muda menjadi generasi milenial yang senang leisure dan narsis di media sosial. Jadi pariwisata akan menjadi bisnis yang luar biasa menguntungkan,” kata dia.

Brand yang dibangun dengan Wonderful Indonesia itu, nantinya akan semakin mempercepat popularitas destinasi baru yang dipromosikan.

Seperti sepuluh top destinasi wisata yang sering disebut dengan 10 Bali Baru dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata yang sedang getol dikembangkan Kemenpar. (adv/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Menhub: Saya Minta Bangkok


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler