Tugu Kuntilanak, Setujukah Anda?

Sabtu, 21 Januari 2017 – 16:58 WIB
PENAMPAKAN. Salah satu meme yang beredar di media sosial tentang Tugu Kuntilanak. Foto: FACEBOOK DENY DENY

jpnn.com - jpnn.com - Wacana membangun tugu atau monumen Kuntilanak yang digulirkan Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kalbar Kartius, terus menjadi polemik.

I Gde Kharisma Yudha Dharma - Pontianak

BACA JUGA: Pak, Mengapa Kuntilanak? Rambut Terurai tapi Itu Hantu

Ide yang dianggap nyeleneh ini menuai berbagai tanggapan dari warga Kota Pontianak. Hantu perempuan berambut panjang ini menjadi topik menarik yang dibahas mulai di media sosial hingga obrolan-obrolan di tempat nongkrong.

Salah satunya digelar diskusi di GK Cafe khusus membahas wacana tersebut, Rabu (18/1) malam di Jalan Sultan Abdurrahman, Pontianak.

BACA JUGA: Wali Kota tak Mau Dengar Cerita Kuntilanak

Santai sambil menikmati kopi, mereka bertukar pikiran. Dari yang serius hingga hanya sekedar candaan yang menyentil terkait wacana pembangunan tugu Kuntilanak itu.

Farid, Aktivis Muda berharap agar patung yang dibangun punya nilai budaya dan sejarah bagus.

BACA JUGA: Tugu Kuntilanak 100 Meter Dekat Jembatan, Hihihihihihi

"Kalau bisa yang cantik, jangan yang seram-seram," ujarnya.

Sementara Rian Adhyatma, aktivis dan fotografer, mengaku heran dengan wacana tersebut.

Menurutnya, patung kuntilanak yang akan dibangun setinggi 100 meter, biarpun pencahayaannya bagus, pasti tetap seram.

"Terus yang mau resmikan siapa? Mau ndak mau manggil Susanna sebagai ketua kuntilanak Indonesia, ndak mungkinkan? Haha," candanya sambil tertawa.

Menurut Rian, sejarah berdirinya Kota Pontianak masih banyak versi. Ada cerita kalau nama Pontianak itu berasal dari pohon ponti. Pohon yang menjulang tinggi, dahannya kuat, dan batangnya besar.

Oleh orang zaman dulu pohon itu digunakan untuk menggantungkan ayunan anaknya. "Jadi emang perlu pengkajian ulang sejarah tentang asal-usul nama Pontianak," ungkap Rian.

Seniman dan budayawan Edo Tazki Prasitha juga menegaskan pentingnya pengkajian ulang sejarah berdirinya Kota Pontianak. Ia pun mempertanyakan kebenaran kuntilanak sebagai bagian dari sejarah.

Terlebih, ada juga versi yang menceritakan kalau dulu Sultan menggunakan meriam untuk menandai batas wilayah kota Pontianak. Bukan untuk mengusir kuntilanak.

"Masih banyak sih sebenarnya patung yang bisa dibangun, entah patung enggang gading, ikan arwana, daripada patung kuntilanak," pungkas Edo.

Ada pula yang mengatakan ini sebagai lelucon untuk Kota Pontianak, sehingga tidak perlu ditanggapi serius dan diperpanjang.

"Lagi pula kalau sampai ide ini terwujud, ngawur kepala dinasnya," kata Lukman, pengusaha properti di Pontianak.

Sedangkan Ario Sabrang justru menilai ini sebagai peluang yang bagus. Pembangunan patung kuntilanak bisa disinkronkan dengan patung lainnya seperti sultan naik perahu ketika pertama kali datang mengusir hantu-hantu.

"Kalau hanya patung kuntilanak sendirian mungkin akan sangat mengganggu dan kurang bagus, tapi kalau disinkronkan dengan perjalanan sejarah kota Pontianak, ini akan sangat menarik," ungkap seorang seniman ini.

Ia juga mengingatkan, jika memang untuk pariwisata, jangan sampai pembangunannya hanya numpang lewat.

"Ngapain abis-abisin anggaran, masih banyak juga patung-patung indah yang bisa dibuat," lugas Aryo.

Pemerhati Wisata, Beni Tanheri menuturkan, pembangunan tugu sejatinya sebagai identitas serta ikon baru Kota Pontianak.

Sehingga pembangunannya perlu dilakukan dengan cermat dan kehati-hatian.

"Nanti kota Pontianak terkenal gara-gara kuntilanak, tapi identitas lainnya jadi redup," serunya.

Masih di tempat sama, Mohammad Qadhafy menyampaikan, pemetaan pariwisata ini banyak. Ada wisata budaya, religi, destinasi, kuliner dan lain-lain.

Alangkah baiknya jika ada anggaran, lebih digunakan untuk menggali potensi wisata yang ada. Sehingga lebih dimaksimalkan dan bisa dipromosikan agar mendatangkan wisatawan.

"Yah namanya juga kuntilanak. Kuntilanak itu hantu, dan hantu itu tidak nyata. Kenapa kita harus membahas hal-hal yang ndak nyata?," tuturnya, seperti diberitakan Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group).

Qadhafy mengajak Ketua Disporapar Kalbar untuk lebih bisa mengakomodir keinginan masyarakat seperti apa.

Masih banyak pembangunan yang membutuhkan dana. Seperti jalan yang berlobang serta tugu dan cagar budaya yang kekurangan dana dalam pengelolaannya.

"Kenapa tidak fokus saja ke hal-hal yang lebih bermanfaat bagi masyarakat banyak? Kalau wacana pembangunan tugu yang tidak nyata ini dibikin nyata, nanti bisa terbalik dunia ini pak,” kata Qadhafy mengakhiri diskusi bersama rekan-rekannya. (RK)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tugu Kuntilanak, Kalau Ada Wisatawan Kerasukan Hantu?


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler