Tulis SMS Dulu, Setelah Itu Naik ke Atas Pohon Cari Sinyal

Kamis, 11 Mei 2017 – 05:00 WIB
Guru-guru di NTT. Foto: Mesya Mohammad/JPNN

jpnn.com, KUPANG - Semangat guru-guru SMK di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) wilayah NTT patut diacungin jempol.

Meski jaringan internet maupun telekomunikasi di wilayahnya sulit, tapi guru-gurunya tetap bersemangat mengikuti keahlian ganda yang diprogramkan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

BACA JUGA: Cara Ini Bikin Guru Tak Sibuk Lagi Cari Tambahan

Keahlian ganda adalah program pemerintah dalam mengatasi kekurangan guru SMK produktif sebanyak 91.861.

Menariknya, guru-guru di wilayah 3T justru lebih tertarik dengan jurusan multimedia.

BACA JUGA: Salah Informasi, Banyak Guru NTT Mundur

Seperti pengakuan Anselmus Syukur, guru SMK Pancasila Tambolaka, Sumba Barat Daya.

Untuk mengikuti program keahlian ganda jurusan Multimedia di SMK 2 Kupang, Anselmus harus naik pesawat selama 45 menit dan mengeluarkan dana Rp 2 jutaan.

BACA JUGA: Pak Jokowi, Tolong Tinjau Perbatasan Kalbar-Malaysia

Bila menggunakan jalur laut, harus menunggu tiga hari.

"Wilayah kami itu sangat rawan dengan isu perpecahan, makanya saya yang tadinya guru IPS mengambil program keahlian ganda jurusan Multimedia. Dengan ilmu‎ yang saya dapat, paling tidak bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat dengan isu-isu yang berkembang di medsos," kata Anselmus yang ditemui di SMK 2 Kupang, Rabu (10/5).

‎Sedangkan Florence Netta, guru SMK 2 Sabu Barat Kabupaten Sabu Rajua mengambil keahlian ganda Multimedia.

Florence memang guru TIK, tapi karena ada perubahan kurikulum dia harus mengambil keahlian ganda untuk memenuhi syarat sertifikasi.

"Kalau ke Kupang harus melintasi jalur laut selama 14 jam. Saya ambil multimedia agar makin banyak masyarakat Sabu Barat‎ yang melek teknologi informasi," terangnya.

Dia menyebutkan, untuk berkomunikasi selama ini masyarakat di Sabu Rajua ‎ menggunakan rumah pohon.

Tidak heran bila di Sabu Rajua, banyak rumah yang didirikan di atas pohon.

"Kalau tidak naik ke atas pohon, nggak bisa terima telepon atau pakai internet. Jadi bisa mengetik SMS di bawah, begitu mau dikirim kami harus langsung naik ke atas pohon," tandasnya. (esy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Mau Tahu Jumlah Jalur Tikus di Perbatasan? Ini Datanya


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler