Upaya Tim Peneliti UI Menawarkan Air Laut dengan Limbah Tahu-Tempe

Lebih Murah dan Mudah karena Tak Butuh Listrik

Minggu, 05 Juli 2015 – 01:36 WIB
Tania Surya Utami menunjukkan reaktor untuk memproses air laut menjadi air tawar. Penelitiannya masih perlu disempurnakan. Foto: Miftahul Hayat/Jawa Pos

jpnn.com - Menyulap air laut menjadi air tawar sudah jamak dilakukan. Hanya, selama ini dibutuhkan biaya besar karena menyedot tenaga listrik tinggi. Tapi, di tangan Dr Tania Surya Utami bersama dua temannya sesama dosen Universitas Indonesia (UI), proses menawarkan air laut itu jadi sederhana dan murah.

Laporan M. Hilmi Setiawan, Jakarta

BACA JUGA: Wow, Begini Rasanya Melintas Tol Cipali yang Bersolek Menjelang Arus Mudik

RUANG dosen di gedung lantai 2 kompleks Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik (FT), UI, Kamis (2/7) terlihat cukup sibuk. Padahal, saat itu sedang libur jeda semester. Ternyata yang membuat sibuk adalah mahasiswa yang sedang berkonsultasi skripsi atau tugas akhir menjelang yudisium.

Salah seorang dosen yang sedang membimbing mahasiswa tingkat akhir itu adalah Dr Tania Surya Utami. Siang itu dia kedatangan dua mahasiswanya, Fachryan Zuhri dan Rosyida Khusniatul Arifah. ”Mereka berkonsultasi soal progres skripsinya,” ujar Tania setelah menerima dua mahasiswa tersebut.

BACA JUGA: Jangan Main-Main! Telepon Pemain, Pelatih, dan Ofisial Klub Bakal disadap KPK

Setelah itu, dia membeberkan karya inovasi timnya, yakni pemanfaatan mikroba dalam limbah industri tahu dan tempe untuk menawarkan air laut. Akhir Mei lalu inovasi yang digarap Tania bersama Rita Arbianti dan Dio Prakoso itu menjadi salah satu bahan simposium bertajuk Asian Federation of Biotechnology (AFOB) Regional 2015 di kampus UI Depok. Simposium internasional tersebut digelar guna mendukung pengembangan inovasi untuk ketahanan pangan dan energi.

’’Ruangan saya kecil, ayo pindah ke tempat sebelah yang lebih longgar,’’ ujar perempuan kelahiran Pekanbaru, 12 Mei 1974, tersebut.

BACA JUGA: Wakil Rakyat yang Ganteng ini Juga Seorang Pembalap

Dia mengatakan, seharusnya yang menceritakan inovasi itu adalah tim. Sayang, siang itu Rita Arbianti dan Dio Prakoso tidak bisa bergabung. ’’Ini bukan karya pribadi, tapi karya yang dikerjakan tim,’’ tuturnya.

Tania menjelaskan, inovasi membuat air laut menjadi tawar biasa disebut dengan istilah microbial desalination cell (MDC). Inovasi itu merupakan pengembangan penelitian microbial fuel cell (MFC) yang mereka lakukan pada 2011. Merujuk namanya, dua teknologi tersebut sama-sama menggunakan kemampuan mikroba atau makhluk hidup renik.

Namun, pada teknologi MFC, mikroba dibuat sedemikian rupa sehingga bisa menghasilkan teknologi listrik meskipun dayanya sangat kecil. Sebaliknya, pada teknologi MDC, mikroba dimanfaatkan untuk membuang kadar garam air laut. Dengan begitu, air laut yang awalnya asin menjadi tawar. ’’Khusus untuk riset MDC kami mulai pada 2013,’’ ujarnya.

Lulusan program doktor Teknik Kimia FTUI 2011 itu menjelaskan, teknologi membuat air laut menjadi tawar sejatinya sudah diterapkan di Indonesia. Misalnya, yang digunakan salah satu perumahan mewah di kawasan pantai utara Jakarta. Untuk mengolah air laut menjadi tawar di perumahan mewah tersebut, diperlukan teknologi membran (reverse osmosis/RO). Namun, teknologi RO membutuhkan biaya besar. Sebab, untuk pengoperasiannya, diperlukan suplai listrik yang tinggi.

Padahal, menurut Tania, kebutuhan air bersih, baik untuk konsumsi maupun keperluan mandi dan cuci, di Indonesia sangat tinggi. Banyak daerah di Indonesia yang sulit mendapatkan air bersih yang layak konsumsi maupun untuk mandi dan cuci.

’’Sebagai negara kepulauan dengan sumber daya air laut yang melimpah, tentu sangat disayangkan jika sampai ada kasus kelangkaan air bersih,’’ ujarnya.

Atas dasar kondisi itu, Tania dan tim kemudian mengembangkan riset tentang MFC menjadi MDC untuk menawarkan air laut dengan sarana mikroba. Dimulai dengan membuat sejenis balok kaca reaktor yang terdiri atas tiga ruang.

Ruang sisi kiri dan kanan digunakan untuk komponen anode dan katode. Lalu, ruang tengah digunakan untuk menyimpan air laut yang akan ditawarkan. Perbandingan volume tiga ruang tabung reaktor itu adalah 9:1:9. Maksudnya, untuk menawarkan 1 liter air laut, dibutuhkan masing-masing 9 liter air di ruang anode dan katode. Di ruang anode diberi cairan limbah hasil indistri tahu dan tempe. Kemudian, ruang katode diberi cairan elektrolit yang mengandung banyak ion.

’’Saya gunakan limbah industri karena di dalamnya sudah ada mikrobanya,’’ kata dia.

Secara alamiah, bakteri dalam cairan limbah di ruang anode melakukan aktivitas layaknya makhluk hidup pada umumnya. Yakni, mengonsumsi karbohidrat dan protein yang ada di dalamnya. Dari aktivitas mikroba itu, ruang anode akan kelebihan muatan ion positif yang bisa menarik ion negatif pada air laut yang tersimpan di ruang bagian tengah. Sementara itu, ion positif dari air laut ditarik secara alami ke ruang katode yang kelebihan ion negatif.

Kondisi sirkulasi seperti itu berlangsung terus-menerus sampai air laut kehabisan ion negatif dan ion positif. Akhirnya air laut yang awalnya berasa asin menjadi tawar karena kandungan garamnya (NaCl) sudah habis. Selama proses sirkulasi itu, sama sekali tidak diperlukan teknologi listrik alias berlangsung alami.

Perempuan yang menamatkan program sarjana dan master di UI itu menuturkan, timnya sengaja memilih limbah sebagai media penyuplai mikroba. Sebab, dia ingin mencari solusi dengan memanfaatkan secara positif limbah industri rumahan tahu dan tempe di Kampung Lio, Depok.

’’Yang ada selama ini adalah limbah tahu dan tempe itu dibuang langsung ke sungai,’’ katanya. Aktivitas pengusaha tempe dan tahu yang membuang langsung limbahnya ke sungai itu secara perlahan tentu bisa merusak lingkungan.

Selama proses penelitian, Tania cs sering berkunjung ke produsen tahu dan tempe untuk meminta limbah. Kemudian, limbah itu dibawa ke laboratorium untuk diteliti. Memang, limbah yang sudah lama berbau busuk. Tetapi, mereka sudah terbiasa dengan bau tidak enak itu.

Tania mengakui, penelitiannya masih berskala kecil. Bahkan, tabung reaktornya belum bisa digunakan untuk menampung setengah liter air laut yang akan ditawarkan. Namun, dia optimistis, jika kepedulian terhadap keselamatan lingkungan serta peningkatan aksesibilitas air bersih meningkat, penelitiannya akan berdaya guna tinggi.

Meskipun penelitian itu sudah teruji dan selesai, Tania dan kawan-kawan tidak berniat mematenkannya. Jika nanti teknologinya sudah bisa diproduksi masal, dia ingin masyarakat luas bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Tania menjelaskan, limbah yang sudah dimasukkan dan berproses alami di tabung reaktor tetap akan mengeluarkan limbah, tetapi lebih ramah lingkungan. Sebab, selama berproses di tabung reaktor itu, mikroba yang terkandung di dalamnya melakukan proses degradasi kandungan-kandungannya. Setelah proses menawarkan air laut itu selesai, limbah yang semula berbahaya untuk lingkungan menjadi ramah lingkungan.

Dosen mata kuliah perpindahan kalor dan simulasi bio proses itu juga bercerita tentang penelitian pemanfaatan mikroba untuk menghasilkan listrik (MFC). Dia menuturkan, dengan penggunaan aplikasi anode dan katode, mikroba yang berupaya bertahan hidup dalam limbah tahu dan tempe ternyata bisa menghasilkan listrik.

’’Tetapi, dalam penelitian kami, listrik yang dihasilkan masih sangat kecil,’’ katanya. Yaitu, tidak sampai 1 volt. Bahkan, untuk menyalakan bola lampu yang paling kecil, itu belum bisa. Saking kecilnya, listrik yang dihasilkan aktivitas mikroba tersebut juga masih di bawah ambang batas untuk disimpan dalam sejenis baterai.

Meski begitu, Tania tetap memiliki mimpi bahwa Indonesia harus mandiri di bidang energi. Khususnya energi listrik. ’’Mudah-mudahan ada yang mengembangkan penelitian kami ini,’’ harapnya. (*/c10/ari

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tragedi Hercules, Anak Letda Agus: Papaku Nanti Ditaruh di Situ


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler