Usai Rapat dengan Jokowi, Menristek Bambang Brodjonegoro Bicara Panjang Lebar

Selasa, 20 April 2021 – 18:38 WIB
Menristek Bambang Brodjonegoro. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro mengatakan, inovasi dan kesiapan teknologi sangat dibutuhkan untuk bisa memastikan ketersediaan energi, sekaligus mengubah komposisi energi nasional menjadi lebih condong kepada energi baru terbarukan.

Untuk itu, kata Bambang, pihaknya telah mencanangkan beberapa kegiatan terkait energi baru dan terbarukan di dalam prioritas riset nasional 2020-2024.

BACA JUGA: Kemenristek dan Kemendikbud Digabung, Bambang Brodjonegoro Pasrah

"Tentunya target akhirnya pada 2024, kami bisa mendapatkan peningkatan dari energi baru terbarukan dalam energi mix nasional," ujar Bambang saat memberikan keterangan di Kantor Presiden, Jakarta Pusat, Selasa (20/4), selepas mengikuti Sidang Paripurna Dewan Energi Nasional (DEN) yang dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Menristek memaparkan lima kegiatan utama di dalam prioritas riset nasional yang terkait dengan energi baru dan terbarukan.

BACA JUGA: Diam-diam Pak Muhadjir Mengagumi Bambang Brodjonegoro, Begini Pengakuannya

Pertama, bahan bakar nabati yang berasal dari kelapa sawit di mana idenya adalah Indonesia bisa menghasilkan bahan bakar, baik bensin, diesel, avtur, 100 persen berasal dari bahan baku kelapa sawit.

"Saat ini dengan menggunakan katalis yang dikembangkan di ITB, kami sudah melakukan uji coba di kilang Pertamina sehingga harapannya tidak lama lagi kami bisa masuk pada skala produksi. Tujuan akhirnya adalah untuk bisa mengurangi impor dari BBM itu sendiri," katanya.

BACA JUGA: Industri Energi Terbarukan Diperkirakan Makin Baik Tingkat Keandalannya

Kedua, biogas yang banyak dipakai terutama perkebunan sawit. Biogas ini akan menjadi alternatif yang terbaik untuk penyediaan listrik di tempat-tempat relatif terpencil.

Menurut Bambang, saat ini teknologinya sudah dikembangkan di beberapa tempat dan harapannya bisa dipakai secara luas.

Ketiga, pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) skala kecil.

Seperti diketahui, Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki kandungan panas bumi terbesar di dunia. Namun, pemanfaatan panas bumi tersebut masih belum maksimal.

Menurut Bambang, salah satu kendalanya adalah nilai investasi yang sangat mahal pada pembangkit dengan skala yang besar.

"Oleh karena itu, kami mengembangkan PLTP skala kecil yang mudah-mudahan bisa dikembangkan di berbagai daerah yang punya kandungan panas bumi sehingga listrik yang dihasilkan akan bermanfaat bagi daerah sekitarnya," kata Bambang.

Keempat, baterai listrik. Indonesia tengah mengembangkan baterai litium dan teknologi fast charging untuk keperluan kendaraan listrik, juga teknologi battery swapping.

Dia berharap teknologi tersebut sudah siap dipakai dan dikembangkan ketika kendaraan listrik sudah mulai dipromosikan.

"Dengan teknologi seperti itu, kami harapkan nantinya ketika kendaraan listrik mulai dipromosikan sebagai komitmen kami mengurangi emisi, maka teknologi itu sudah siap pakai dan bisa dikembangkan di Indonesia," katanya.

Kelima, pemerintah tetap menjaga pengembangan teknologi nuklir.

Menristek memandang, bagaimanapun Indonesia harus memastikan listrik yang memadai ketika Indonesia ekonominya makin tumbuh ke depannya.

"Untuk memastikan listrik memadai tentunya, kami pada satu sisi harus comply pada Paris Agreement. Bagaimanapun kesiapan teknologi nuklir harus terus dijaga, terutama dari unsur keselamatannya baik lokasi maupun teknologi yang menjamin keselamatan," katanya.

Dalam kerangka Paris Agreement dan green economy yang diinginkan oleh residen, Kemenristek juga mengembangkan penelitian berbasis ekonomi sirkuler.

Dia mengatakan, ekonomi selama ini bersifat linier di mana limbahnya tidak terurus dan menjadi beban. Dengan ekonomi sirkuler, limbah yang muncul dari kegiatan ekonomi akan diolah kembali.

Menurut Bambang, limbah tersebut bisa diolah menjadi bahan lain maupun energi melalui pembangkit listrik berbasis sampah. Teknologi pengolahan sampah ini harus terus dikembangkan dengan memperhatikan berbagai jenis sampah yang muncul di berbagai tempat di Indonesia.

"Kami harapkan kota-kota besar di Indonesia bisa segera menerapkan bahwa untuk pengolahan sampah selain cara-cara tradisional mereka harus mulai mengembangkan pembangkit listrik berbasis sampah tersebut. Sehingga dengan satu aktivitas seperti ini, kami bisa mencapai dua tujuan, yaitu untuk kebersihan lingkungan dan penyediaan energi yang bersifat terbarukan," katanya. (tan/jpnn)

Simak! Video Pilihan Redaksi:


Redaktur & Reporter : Fathan Sinaga

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler