Vaping Lebih Aman Daripada Rokok, Benarkah?

Selasa, 24 April 2018 – 12:33 WIB
Vape. Foto: CBNC

jpnn.com, JAKARTA - Setelah e-cigarettes pertama kali muncul pada tahun 2004, mereka dengan cepat menjadi alternatif populer bagi perokok.

Ini juga yang menjadikan salah satu alasan terus menurunnya penjualan rokok.

BACA JUGA: Vape Bisa Tingkatkan Risiko Pneumonia

Sementara studi mengatakan bahwa vaping (mengisap vape) jauh lebih tidak berdampak pada kesehatan dibandingkan dengan merokok.

Para ahli juga memperingatkan bahwa studi jangka panjang masih belum bisa dijadikan kesimpulan yang solid karena alternatif tersebut hanya digunakan sedikit lebih dari satu dekade.

BACA JUGA: Singapura Beri Sanksi Berat Pengguna Vape, Indonesia Gimana?

Namun, bukti yang berkembang dari penelitian menunjukkan bahwa kita baru saja mulai melihat konsekuensi potensial.

Pada tahun 2015, sebuah surat dari New England Journal of Medicine mengungkapkan keprihatinannya atas formaldehida, senyawa beracun yang ditemukan di uap yang diproduksi oleh e-cigarette.

BACA JUGA: Produk Tembakau Alternatif Diklaim Kurangi Adiksi Rokok

Sementara peneliti masih mempelajari kaitannya dengan kanker, formaldehida diketahui menyebabkan iritasi pada kulit, mata, hidung dan tenggorokan.

Irfan Rahman, profesor Environmental Medicine di University of Rochester, memimpin penelitian pertama untuk menguji dampak e-rokok terhadap kesehatan mulut.

"Kami menemukan bahwa ketika uap dari rokok elektronik dibakar, maka hal ini menyebabkan sel melepaskan protein inflamasi, yang pada gilirannya memperparah stres di dalam sel dan mengakibatkan kerusakan yang bisa menyebabkan berbagai penyakit mulut," kata Rahman, seperti dilansir laman MSN, Senin (23/4).

Rahman adalah salah satu penulis sebuah studi yang meneliti rasa buatan untuk menginduksi kerusakan jaringan dan memiliki efek toksik pada sel darah putih, dengan dampak terburuk berasal dari jus manis kayu manis, vanila, dan mentega.

Ada sekitar 250 bahan kimia berbahaya yang ditemukan di rokok tradisional sementara jumlahnya berkurang secara signifikan dalam vaping.

Namun kehadiran nikotin masih menimbulkan ancaman (terutama risiko penyakit jantung) dalam bentuknya yang terkonsentrasi dan e-cair.

Thomas Sussan, penulis utama dan asisten ilmuwan di Sekolah Bloomberg, menjelaskan bagaimana paparan uap e-cigarette mengakibatkan infeksi bakteri atau virus.

Paparan rokok e-cigarette menghambat kemampuan untuk membersihkan bakteri dari paru-paru mereka dan infeksi virus menyebabkan penurunan berat badan dan kematian yang mengindikasikan adanya respons kekebalan yang terganggu.(fny/jpnn)


Redaktur & Reporter : Fany

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
vape  

Terpopuler