Pemerintah Papua Nugini (PNG) mengukuhkan bahwa untuk pertama kalinya dalam 18 tahun muncul kasus polio untuk pertama kalinya, setelah kasus itu dideteksi terjadi di sebuah pemukiman di kota kedua terbesar di negara tersebut.

Departemen Kesehatan PNG sedang bekerjasama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk menangani hal tersebut karena virus polio bisa menyebabkan kelumpuhan pada anak-anak.

BACA JUGA: Seperti Ini Cara Pekerja Asing Diperbudak di Australia

Satu kasus polio tersebut ditemukan di pemukiman Lufa Mountain di kota Lae, yang dideteksi akhir April lalu.

Korban adalah seorang bocah laki-laki berusia enam tahun, dimana kakinya mengalami kelemahan, dan kemudian belakangan dikukuhkan karena terkena virus polio.

BACA JUGA: ANU Tolak Kerjasama Dengan Ramsay Center

"Kami sangat khawatir dengan kasus polio di Papua Nugini dan bahwa virus ini sekarang beredar." kata Menteri Kesehatan PNG Pascoe Kase dalam sebuah pernyataan

"Prioritas utama kami sekarang ini adalah berusaha mencegah lebih banyak anak-anak lagi terkena infeksi polio tersebut."

BACA JUGA: Polisi Tetapkan 4 Tersangka Kasus Kapal Tenggelam Di Danau Toba

Virus polio menyebar karena kotoran manusia yang disebarkan oleh mereka yang terinfeksi biasanya lewat air atau makanan yang terkontaminasi.

Sejak tahun 1996 tidak dilaporkan adanya kasus polio di PNG, dan negara itu dinyatakan bebas polio sejak tahun 2000.Rendahnya vaksinasi jadi masalah External Link: What is a vaccine-derived poliovirus?

Versi virus yang beredar sekarang ini di PNG adalah "vaccine-derived poliovirus", artinya virus yang bermutasi yang berasal dari virus polio lebih lemah yang digunakan dalam vaksinasi.

"Vaccine-derived polioviruse' ini jarang ada, dan cenderung terjadi di kawasan pemukiman yang memiliki tingkat vaksinasi rendah.

Virus itu berkembang karena anak-anak yang tidak divaksinasi terkena kotoran dari anak-anak yang sudah divaksinasi atau terkena virus yang lebih lemah tersebut.

Terkena virus itu bukan hal yang buruk sebenarnya, karena bisa menyebabkan adanya kekebalan 'pasif' bagi anak-anak yang tidak mendapat vaksinasi.

Namun hal tersebut bisa menjadi berbahaya di komunitas yang memiliki tingkat vaksinisasi rendah.

Karena virus lebih lemah itu akan menginfeksi lebih banyak orang, hidup lebih lama, dan akhirnya bermutasi menjadi virus yang lebih berbahaya yang bisa menyebabkan kelumpuhan.

WHO dan pemerintah PNG sudah melancarkan kampanye imunisasi darurat guna mencegah anak-anak lain terinfeksi.

Kota Lae terletak di provinsi Morobe, dimana dilaporkan tingkat vaksinasi hanya sekitar 61 persen.

Pihak berwenang mengatakan 845 anak-anak sekarang sudah diimunisasi setelah virus itu terdeteksi pertama kalinya.

Lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini

BACA ARTIKEL LAINNYA... Perbandingan Penggunaan Narkoba di Australia dan Indonesia

Berita Terkait