Waduh Menteri Tedjo Kembali 'Diserang', Kenapa Ya?

Jumat, 29 Mei 2015 – 19:16 WIB
Menkopolhukam Tedjo Edy Purdjianto. FOTO: dok/jpnn.com

jpnn.com - JAKARTA - Menkopolhukam Tedjo Edy Purdijatno kembali menuai kecaman akibat pernyataan yang dibuatnya. Kali ini dia mendapat protes keras karena menyebut kasus penembakan terhadap mahasiswa di kampus Trisakti tahun 1998 silam sudah tuntas.

BEM Mahasiswa Trisakti yang menuntut Tedjo untuk mencabut pernyataanya itu dan meminta maaf kepada keluarga korban.

BACA JUGA: Duh! Beberapa Pejabat Pemda Tertipu Undangan Palsu, Jutaan Amblas

"Kami mengencam pernyataan menteri Tedjo. Kami meminta agar menteri Tedjo segera menarik pernyataannya dan minta maaf kepada keluarga korban dan mahasiswa Trisakti," kata Presiden Mahasiswa Trisakti, Muhammad Puri Andamas dalam jumpa pers di Kampus Trisakti, Jakarta, Jumat (29/5).

Menurutnya, pernyataan Tedjo itu sangat bertolak belakang dengan apa yang dijanjikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ketika bertemu dengan BEM Trisakti beberapa waktu lalu. Ketika itu, Jokowi setuju membentuk pengadilan HAM ad hoc untuk kasus Trisakti '98.

BACA JUGA: Soal HAM, Jokowi Diminta Jangan Cuma Senyum-Senyum saja

Bahkan, tambah Muhammad, Jokowi sudah menjanjikan penuntasan kasus Trisakti sejak masa kampanye Pemilu Presiden 2014 lalu. "Karena itu kami minta Presiden Jokowi untuk menegur keras Menteri Tedjo," tegas Muhammad.

Di tempat yang sama, bekas Presiden Mahasiswa Trisakti Andre Rosiade akui bahwa pelaku penembakan sudah diadili. Namun, mereka hanyalah pion yang menjalankan perintah dari pihak-pihak yang berkepentingan.

BACA JUGA: Proyek Printer Sekolah di DKI Dikorupsi, Bareskrim Turun Tangan Lagi

"Memang betul yang diadili ada, tapi itu cuma anak buah. Aktor utama yang perintahkan penembakan belum ditangkap. Jokowi juga sudah janji mau tutntaskan. Tapi sampai sekarang tidak ada, malah yang keluar pernyataan menkopolhukam Tedjo Edy," paparnya.

Dia pun mengingatkan bahwa tragedi Trisakti merupakan salah satu pemicu pecahnya reformasi. Karenanya, pengorbanan empat mahasiswa yang meregang nyawa hari itu harusnya dihargai oleh semua yang menikmati buah dari reformasi.

"Kami ingatkan Jokowi tidak akan pernah jadi presiden kalau tidak ada tragedi 12 Mei 1998. Mungkin Jokowi masih jadi tukang meubel di Solo, ga bisa jadi presiden. Makanya sekarang Jokowi tepati janji, tuntaskan," kata  aktivis 98 ini. (dil/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Guru Honorer di Wilayah 3T Prioritas jadi CPNS


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler