Wakil Kepala BPIP Ajak Forum Mahasiswa Kedinasan Indonesia Berfikir Kritis

Senin, 05 Juni 2023 – 09:49 WIB
Wakil Kepala BPIP Karjono Atmoharsono, mengajak para mahasiswa untuk berfikir Kritis dan kreatif serta menekankan pentingnya pembangunan karakter. Foto: dok BPIP

jpnn.com, JAKARTA - Wakil Kepala BPIP Karjono Atmoharsono, mengajak para mahasiswa untuk berfikir Kritis dan kreatif serta menekankan pentingnya pembangunan karakter.

Hal tersebut diungkapkan Karjono pada saat Forum Mahasiswa Kedinasan Indonesia, dalam acara Kaderisasi Nasional yang diselenggarakan di Politeknik Statistika, Sabtu, (3/6).

BACA JUGA: Karjono Dorong Pengasuh Pesantren Teguh Cetak Santri Berkarakter Pancasila

Karjono memperkenalkan Salam Pancasila yang digagas oleh Presiden ke-5, Megawati Soekarnoputri.

Salam Pancasila diadop dari pekik "Merdeka" yang ditetapkan oleh Ir. Soekarno melalui Maklumat pada 31 Agustus 1945, dan Salam Pancasila merupakan Salam mempersatukan Kebangsaan

BACA JUGA: Wakil Kepala BPIP Karjono Atmoharsono Beber Bukti NU Istikamah Jaga Pancasila & NKRI

Waka BPIP juga menjelaskan lagu Indonesia Raya tiga stanza yang dianggap baru bagi Mahasiswa, berdasarkan UU 24/2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, dalam Pasal 61 Apabila lagu Indonesia Raya dinyanyikan lengkap tiga stanza, maka bait ketiga pada stanza ketiga dinyanyikan dua kali.

“Lagu Indonesia Raya tiga stanza ini pertama kali dinyanyikan pada 28 Oktober 1928 saat sumpah pemuda,” ujarnya.

BACA JUGA: BPIP dan Universitas Terbuka Siap Berkolaborasi dalam Aktualisasi Nilai-nilai Pancasila

Karjono menjelaskan berfikir kritis, kreatif artinya bersifat tidak lekas percaya, bersifat selalu berusaha menemukan kesalahan atau kekeliruan, serta memiliki kemampuan untuk menciptakan kecerdasan dan imajinasi.

Pendidikan Kedinasan dalam PP 14/2010 mengajarkan keahlian khusus. dan mahasiswa juga harus mengemban Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dicanangkan sebelumnya oleh Menteri Pendidikan.

"Karakter pelajar Pancasila dan melalui konsep merdeka belajar, kita dapat melaksanakan kegiatan secara optimal," ungkapnya.

Karjono menekankan pentingnya memiliki daya ungkit dalam mencapai tujuan. Di Universitas Pertahanan, mata kuliah keagamaan diajarkan secara menyeluruh kepada mahasiswa berbagai agama sehingga diperoleh ilmu sejati, menumbuhkan toleransi dan menjunjung tinggi kerukunan umat beragama. "Keberagaman itu indah dan tidak boleh dibanding-bandingkan," ujarnya.

Karjono menanyakan kepada para mahasiswa tentang pilihan mereka antara menjadi profesional atau loyal.

Profesional dan loyal adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Juga menanyakan kepada Mahasiwa Kedinasan di Seluruh Indonesia yang diwakili 120 orang mahasiswa, siapa yang beranggapan bahwa Pancasila bisa di ubah, yang tidak setuju 117 orang, dan yang setuju 3 0rang. Maka Karjono memberikan apresiasi atas hasil tersebut

Disisi lain survei dari Setara Institute, sekitar 83,3 % pelajar SMA beranggapan Pancasila dapat diubah padahal ideologi negara harus dipertahankan.

Misalnya, yang terjadi di Afganistan, Suriah, Irak, atau Myanmar. Di sana agamanya satu agama dan suku hanya beberapa suku antara 3 sampai 6 suku, tetapi perang tidak selesai.

Sementara itu, di Indonesia beratus-ratus suku bangsa, agama beragam.

Hasil survei tersebut menunjukkan adanya kekhawatiran yang serius terkait pentingnya Pancasila dan semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Hal ini disebabkan oleh penghapusan Tap MPR II/1978, Lembaga BP7 dibubarkan pada era reformasi dan penggantian UU Sisdiknas menghilangkan mata ajar Pancasila.

“Generasi milenial dipengaruhi Barat melalui media sosial. Pancasila mulai dihidupkan Kembali semasa Bapak Taufik Kiemas, Ketua MPR R.I dibentuklah empat Pilar Kebangsaan, yaitu Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945” Ujarnya.

Bung Karno pada Pidato 1 Juni menawarkan Kalau Mau Pancasila, Kalau tidak Mau Tri Sila, atau Kalau Tidak mau Eka Sila, yaitu Gotong Royong, artinya inti sari Pancasila adalah Gotong Royong, Dalam bidang Ekonomi, Politik dan Budaya, Bung Karno juga mengajarkan ajaran Tri Sakti, yakni berdaulat dalam bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dibidang kebudayaan.

Terakhir, Karjono mengingatkan bahwa negara yang memiliki ideologi Pancasila. Hidup di negara yang berbhineka, oleh karena itu harus dijaga kesatuan dan persatuan NKRI. (jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... BPIP Gelar Kirab untuk Menyambut Hari Lahir Pancasila, Sambutan Masyarakat Luar Biasa


Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Dedi Sofian, Dedi Sofian

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler