Wakil Rektor IPB Apresiasi Mentan Amran Jaga Inflasi Sektor Pangan

Jumat, 25 Januari 2019 – 12:24 WIB
Mentan Andi Amran dengan petani di sawah. Foto: Humas Kementan

jpnn.com, JAKARTA - Wakil Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Dodik Nurochmat mengapresiasi kinerja Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam menjaga inflasi sektor pangan.

Menurut Dodik, inflasi pangan yang rendah dan terjaga merupakan tanda kemampuan daya beli masyarakat membaik yang diikuti dengan meningkatnya produksi sektor pertanian.

BACA JUGA: Rektor IPB Bangga Mentan Amran Paling Berani Lawan Mafia

Menurut Dodik, selain rendahnya inflasi pangan yang berhasil dijaga oleh Amran Sulaiman, diperlukan juga perhatian terhadap kenaikan kesejahteraan petani.

Dia menambahkan, Kementerian Pertanian tidak boleh lengah mengawasi inflasi. Dodik menilai inflasi yang turun harus selaras dengan kesejahteraan petani.

BACA JUGA: Tantangan Inflasi pada Tahun Politik

“Tergantung baik atau tidak inflasi pangan yang menurun dalam konteks pertanian. Tergantung pada saat inflasi pangan turun, nilai tukar petani (NTP) bagaimana? Kalau NTP bagus, inflasi rendah, tidak masalah,” ujar Dodik, Jumat (26/1).

berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2014 angka inflasi pangan masih amat tinggi yaitu 10,57 persen.

BACA JUGA: Irjen Kementan Pastikan Tak Ada Kompromi untuk Koruptor

Namun, selama tiga tahun atau periode 2017, angka inflasi pangan berhasil ditekan, bahkan terendah dalam sejarah Indonesia yakni hanya 1,26 persen.

Sejak 2014 hingga 2017, inflasi pangan menurun 88 persen. Pada 2018, angka inflasi pangan kembali menurun menjadi 0,26 persen.

Rendahnya inflasi pangan membuat Indonesia mampu mengungguli 12 negara maju di level internasional.

Badan Pangan Dunia (FAO) juga menyebut keberhasilan Kementerian Pertanian menjaga rendahnya inflasi pangan membuat peringkat Indonesia membaik.

Sebelumnya, Indonesia berada di peringkat ketiga negara inflasi pangan tertinggi di dunia.

Setelah itu, peringkat Indonesia menurun ke urutan ke-15. Dodik menuturkan, harga pertanian, NTP serta rendahnya inflasi pangan harus diselaraskan.

“Kalau harganya masih rendah, kan, petani harus naik pendapatannya. Berarti kita masih perlu meningkatkan harga. Otomatis kalau harga meningkat, inflasi akan tinggi lagi,” ungkap Dodik.

Sebelumnya, pada acara pertemuan Forum Rektor, di Bogor, Jawa Barat, Amran Sulaiman menyampaikan bahwa selama empat tahun terakhir sektor pertanian Indonesia mengalami penurunan inflasi cukup signifikan.

Amran mengatakan, Indonesia menjadi negara yang mencapai penurunan angka inflasi bahan pangan tetinggi dan melampaui negara-negara maju di dunia. (jos/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Lahan Rawa Banjar Siap Jadi Kindai Limpuar


Redaktur & Reporter : Ragil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler