Melbourne dikenal sebagai salah satu kota paling multikultur di planet Bumi. Sagai bagian dari upaya meningkatkan semangat keberagaman budaya, digelar kelas memasak agar warga bisa belajar dan menghargai budaya lain.

"Saya lahir di Afghanistan, tapi dibesarkan di Iran, kemudian beberapa tahun tinggal ke Malaysia sebagai pencari suaka ke Australia," kata Sarah Broumend.

BACA JUGA: Polwan di Queensland Pensiun Setelah 40 Tahun Lebih Bertugas

Bersama ibunya, Fatemah Ghullami, mereka diundang oleh Multicultural Arts Victoria untuk mengisi sebuah kelas memasak.

Kelas memasak ini adalah bagian dari festival Emerge in Yarra, yang merayakan keberagaman budaya yang dimiliki kota Melbourne.

BACA JUGA: Bahasa Aborigin Diajarkan untuk Anak TK di Canberra

"Hari ini kita akan memasak Kaubli Pulow, masakan yang sering disajikan di saat Ramadan, dan acara spesial lainnya, seperti pernikahan," ujar Sarah.

Kaubli, atau Nasi Kebuli jika di Indonesia, terbuat dari nasi, daging kambing, kismis, kacang-kacangan, dan wortel. Masakan nasional Afghanistan ini namanya diambil dari Kabul, ibu kota Afghanistan.

BACA JUGA: Pertanian Organik Hanya Tren atau Justru Masa Depan Pertanian?

"Saya rasa, dengan membawa kebudayaan ke dalam dapur dan meja makan, memudahkan warga untuk belajar menghargai orang lain, baik makanannya, budayanya, dan kepercayaannya," ujar Robyn Hughan, fasilitator kelas memasak.

Robyn juga adalah seorang aktivis di bidang budaya, yang banyak kerjaannya berkaitan dengan dapur dan masak-masak. Belakangan ini ia pun sedang membuat film dokumenter mengenai kisah para imigran di Australia, yang digabungkan dengan cerita masakan.

"Kini kehidupan saya menyenangkan, saya akhirnya bisa bersekolah karena pendidikan bagi saya adalah sangat penting," ujar Sarah yang kini sudah lebih dari setahun tinggal di Melbourne.

"Saya senang dengan semua yang ada di Australia, saya merasa bebas, rasanya seperti baru keluar dari penjara."

Tonton seperti apa suasana kelas memasak bersama Sarah dan ibunya, Fatemah disini.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Diperlakukan Buruk, Pengungsi di Nauru Ingin Bunuh Diri Bersama

Berita Terkait