Warrior Tidak Berebutan

Jumat, 12 Juni 2015 – 06:00 WIB
Chappy Hakim. Foto: Ricardo/JPNN.Com

jpnn.com - TERHITUNG per 1 Agustus nanti Panglima TNI Jendral Moeldoko akan resmi masuki masa pensiun. Karenanya, Presiden Joko Widodo harus memilih pengganti bagi Panglima TNI kelahiran 8 Juli 1957 itu.

Pasca-reformasi, seolah ada kesepakatan tak tertulis jabatan panglima digilir  di antara tiga matra, yakni Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Jika merujuk sistem giliran pula, maka pengganti Moeldoko di kursi Panglima TNI mestinya dari AU. Sebab, posisi Panglima TNI sebelum Moeldoko diisi dari AL.

BACA JUGA: Margareith Ikut Mencubit

Para pejabat pemerintahan pun seirama menyebut pengganti Moeldoko tak harus dari TNI AU. Mulai dari Menteri Pertahanan Ryamizad Ryacudu, Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto, hingga Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan bahwa giliran jabatan panglima TNI yang selalu diterapkan di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bukanlah suatu kewajiban.

Sikap pemerintah ini terang menimbulkan pro dan kontra baik dari kalangan sipil maupun purnawirawan TNI. Salah satu yang bereaksi keras adalah eks KSAU Marsekal (Purn) Chappy Hakim.

BACA JUGA: Tak Mau Digoda, Tangkis Semua Intervensi

Melalui akun @Chappyhakim di Twitter, pria kelahiran Yogyakarta, 17 Desember 1947 itu menumpahkan kekesalannya. Dia merasa TNI AU tak dihargai dan dianggap anak tiri oleh negara.

"Paskhasau di Airport CKG diganti Marinir. HLM utk pnbgn komersial. PangTNI blm tnt AU. Negeri ini mmg tidak butuh AngkatanUdara. Bubar saja," tulis pria yang kini lebih dikenal sebagai pengamat penerbangan itu Kamis lalu (4/6).

BACA JUGA: Ijazah Palsu Harus Habis Tahun Ini

Prediksi Chappy soal calon Panglima TNI pengganti Moeldoko terbukti. Presiden Joko Widodo ternyata mengusulkan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Gatot Nurmantyo sebagai calon Panglima TNI. Nama Gatot pula yang diusulkan Presiden Jokowi ke DPR untuk menjalani fit and proper test.

Lalu bagaimana reaksi Marsekal (Purn) Chappy Hakim atas pilihan Jokowi itu? Berikut petikan wawancara Muhammad Adil dari JPNN dengan penulis sejumlah buku tentang dunia penerbangan itu di kawasan Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (10/6) malam.

Akhirnya terungkap bahwa presiden memilih KSAD jadi panglim. Apa yang terlitas di pikiran bapak waktu mendengar berita itu?
Saya tidak ada reaksi, saya tidak mau ikut dalam percaturan perebutan jabatan panglima.

Tapi Anda sebelumnya sempat bereaksi sangat keras di Twitter menanggapi isu panglima TNI bukan dari AU?
Baca gak Twitter saya? Bukan soal panglima aja, ada tiga hal saya jelasin di sana. Paskhas digusur dari Cengkareng, Halim lebih prioritas pada penerbangan komersial dan pernyataan Mensekab belum tentu (panglima) dari Angkatan Udara. Ketiga ini ditambah pengalaman saya puluhan tahun di Angkatan Udara membuat saya tulis seperti itu. Bukan soal Panglima TNI, ngapain saya rebutan Panglima TNI.

Tapi apa sebenarnya urgensi panglima harus dari AU?
Pesannya itu adalah bagaimana mengelola angkatan perang agar tidak setiap pergantian Panglima TNI itu rebutan. Itu yang saya tuju, lebih kepada moral, karakter.

Prajurit itu kan bekerja 24 jam menyerahkan jiwa dan raganya untuk negara, tapi kemudian dia menyaksikan, bahkan semua orang menyaksikan, setiap pergantian panglima itu rebutan. Itu kan memalukan. Itu yang saya ingin sampaikan, bukan soal rebutannya.

Anda berkali-kali menggunakan kata "rebutan". Apa artinya masing-masing angkatan memang berambisi untuk menduduki jabatan panglima?
Rebutan bukan kata-kata saya, itu kan saya ambil dari media. Di media itu yang memerlihatkan (ada rebutan), bukan saya. Prajurit itu kesatria, warrior ga ada rebutan, dia hanya bicara pengabdian, dia bicara kehormatan, gak ada rebutan-rebutan.

Jadi tidak ada yang memerebutkan jabatan panglima?
Gak tahu, jangan tanya saya, saya sudah sepuluh tahun tidak di angkatan.

Di Twitter Anda sempat menyebut TNI AU anak tiri dan tidak dihargai. Kenapa bisa sampai keluar pernyataan seperti itu?
Yang di Twitter itu apa yang ada di kepala saya, saya tuangkan di situ. Bukan untuk dianalisis, bukan untuk diskusi. Kalau itu dianalisis, diskusi jadinya provokasi, nanti jadi jelek. Saya tidak mau itu.

Sekarang kan ada suatu daerah bernama media sosial, orang bisa menumpahkan ekspresi di situ, orang boleh menuangkan pemikiran di situ, tapi dia tinggal di situ, jangan diangkat ini ke permukaan kemudian digoreng-goreng ke mana-mana. Saya tidak mau seperti itu, saya lebih memberikan pesan-pesan kepada adik-adik saya, lebih kepada moral obligation.

Apa Anda menilai pemerintah kurang memerhatikan TNI AU?
Itu tidak usah dinilai, Anda pelajari saja sendiri bagaimana sejarah TNI AU. Kalau saya sendiri sudah jelas apa yang saya tulis itu menurut saya. Saya tidak mau bicara lebih jauh soal itu, tolong jangan ditanya lagi.

Reaksi terhadap cuitan Anda baik dari internal ataupun sesama purnawirawan seperti apa? Apakah banyak yang sependapat?
Oh saya gak pedulikan itu. Yang penting kan I have spoken, moral obligation, yang ada di kepala saya yang punya nilai-nilai untuk berbagi pengetahuan itu saya sampaikan. Bahwa itu nanti bagaimana-bagaimana saya tidak menuju ke wilayah itu.

Pendapat Anda mengenai calon Panglima TNI pilihan presiden ini bagaimana?
Semua tentara yang sudah mencapai bintang empat itu adalah sebuah achievement yang tidak bisa lagi dipertanyakan bagaimana-bagaimana, gak bisa. Dia sudah bintang empat berarti dia sudah punya kualifikasi untuk jabatan itu, dia punya capability yang sudah terjawab dengan jabatan dan pangkatnya itu.

Kritik Anda soal penunjukan  panglima yang merupakan hak prerogatif presiden sebagai panglima tertinggi, apa tidak khawatir jadinya mengajarkan prajurit tidak loyal pada atasan?
Silahkan saja, saya cuma menulis di Twitter kok. Apa saya tidak boleh menulis di Twitter? Kalau saya mau memprovokasi saya akan bikin pidato, kongres. Jadi harus tahu tempat-tempatnya. Saya tahu di mana saya bicara, apa yang saya bicarakan. Gak mungkin dong saya ngomong di media seperti itu, itu provokasi, saya gak ngomong kok.

Sekarang nama calon panglima sudah diserahkan ke DPR, apa harapan bapak kepada anggota dewan?
Saya tidak mau ikut campur itu, saya tidak mau campur tangan soal politik. Saya lebih soal visi dari negara ini, karena saya di Angkatan Udara, saya bicara soal penerbangan dan pertahanan.

Pesan kepada TNI AU dalam situasi seperti ini?
Be intellectual, banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan Angkatan Udara, tapi perjuangkan itu sebagai orang-orang terpelajar.

Ada himbauan untuk calon panglima yang baru?
Gak ada, bagaimana saya mau kasih pesan saya? Belum tahu apa betul dia yang nanti ditunjuk. Sekarang saya kasih pesan tahunya besok bukan dia.(dil/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Gila kan? Sangat Pesat Surabaya Ini


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler