Wow, Gibran dan Kaesang Masuk Bursa Calon Wali Kota Surakarta

Kamis, 25 Juli 2019 – 21:54 WIB
Gibran (kaus hitam) dan Kaesang (kaus putih) saat melakukan pemungutan suara pada Pilpres 17 April lalu. Foto: Radar Solo

jpnn.com, SURAKARTA - Nama putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka masuk dalam bursa calon Wali Kota Surakarta 2020-2025 menurut pilihan masyarakat Kota Bengawan. Elektabilitasnya sebesar 13 persen dari 766 responden.

Angka tersebut menduduki posisi nomor dua setelah Achmad Purnomo. Elektabilitas Purnomo yang kini menjabat Wakil Wali Kota Surakarta sebesar 38 persen.

BACA JUGA: Kans Demokrat dan PAN Punya Menteri Berpotensi Hilang Jika Gerindra Masuk Koalisi Jokowi

Peringkat tiga adalah Ketua DPRD Kota Surakarta sekaligus Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Solo Teguh Prakosa dengan elektabilitas sebesar 11 persen.

Nama-nama tersebut muncul berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Laboraturium Kebijakan Publik Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta.

BACA JUGA: Pesan DPR untuk Jokowi Dalam Memilih Menteri

BACA JUGA: Jawaban Gibran soal Pendemo Mau Penggal Kepala Jokowi

Ketua tim peneliti Suwardi mengatakan, penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi tokoh-tokoh di Solo yang ideal menjadi kepala daerah pada 2020-2025.

BACA JUGA: Pujian Habib Aboe buat Peran Pak BG di Balik Pertemuan Prabowo - Megawati

Menurut dia, tim melihat tokoh-tokoh tersebut berdasarkan perspektif latar belakang profesi, generasi, personal attitude, gender, ideologi, dan intelectual capacity.

”Sekaligus mendeskripsikan political personal tokoh-tokoh tersebut dalam kontestasi pemilihan umum kepala daerah Solo periode mendatang. Yakni popularitas, akseptabilitas, dan elektabilitas,” papar Suwardi, Kamis (25/7).

Selain Gibran, nama putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep juga muncul dalam tokoh-tokoh yang disebut-sebut ideal memimpin Solo.

Nama lainnya ada mantan Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Ravik Karsidi, Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Solo Gareng Sri Haryanto. Kemudian, pengasuh Pondok Pesantren Al-Qur'aniyy Azzayadiyy KH Abdul Karim Ahmad (Gus Karim), pengusaha travel haji Her Suprabu, akuntan publik Rachmad Wahyudi, dan owner Omah Sinten Slamet Raharjo.

“Nama-nama tersebut muncul dalam focus group discussion yang dilakukan responden dari berbagai kalangan. Mulai akademisi, pengusaha, birokrat, aparat keamanan, politisi, aktivis, dan tokoh perempuan,” sambung Suwardi.

BACA JUGA: Jokowi Sebut Prabowo Belum Pernah Naik MRT, Kaesang Pangarep: Saya Juga Belum

Hasilnya, sebanyak 36 persen dari 766 masyarakat Kota Bengawan menginginkan pemimpin berlatar belakang pengusaha. Sebesar 81 persen memilih pemimpin dengan usia sekitar 40 tahun-59 tahun atau generasi X.

"Masyarakat juga menilai kepemimpinan dengan ideologi kombinasi Islam-nasionalis paling pas memimpin Kota Solo. Sebanyak 48 persen memilih ini. Warga juga lebih banyak yang berpendapat bahwa kepemimpinan perlu memperhatikan kombinasi keyakinan agama Islam-nonmuslim, 62 persen pemilihnya,” katanya. (rs/aya/per/JPR)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Mau Investasi di Indonesia, Petinggi Hyundai Sowan ke Istana


Redaktur & Reporter : Rah Mahatma Sakti

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler