Yuli Yanika, Sudah Biasa Ngebut saat Membawa Jenazah

Minggu, 05 Juli 2015 – 06:33 WIB
Yuli Yanika dan temannya saat bertugas mengantar jenazah dari RSUP Adam Malik ke Lanud Soewondo Medan, Jumat (3/7). Foto: Wahyudin/Jawa Pos

YULI Yanika, satu-satunya pengemudi ambulans perempuan yang hilir mudik mengangkut jenazah korban tragedi jatuhnya pesawat Hercules C-130 di Medan, Selasa (30/6).
------------
MIFTAKHUL FAHAMSYAH, Medan
------------
Hari masih pagi. Masih pukul 07.30 WIB. Hari keempat identifikasi korban meninggal dalam jatuhnya pesawat Hercules C-130 yang tersimpan di kamar jenazah Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Adam Malik Medan belum dimulai.

Meski begitu, seorang perempuan dengan seragam sebuah lembaga sosial sudah bersiap di depan kamar jenazah untuk mengangkut jenazah yang telah teridentifikasi ke tujuan akhir.

BACA JUGA: Upaya Tim Peneliti UI Menawarkan Air Laut dengan Limbah Tahu-Tempe

Perempuan itu datang dengan membawa serta ambulans milik Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI). Sehari sebelumnya, dia juga datang pagi-pagi dengan mobil yang sama.

Ya, perempuan berjilbab tersebut bernama Yuli Yanika. Dia adalah seorang relawan yang membantu petugas di lapangan dalam menangani korban-korban musibah jatuhnya Hercules C-130 di Jalan Jamin Ginting, Medan.

BACA JUGA: Wow, Begini Rasanya Melintas Tol Cipali yang Bersolek Menjelang Arus Mudik

Perempuan 26 tahun itu mengaku merasa terpanggil setiap terjadi musibah besar di kotanya. Setiap ada musibah, hati gadis yang akrab disapa Uye itu bergetar. Dia pun ingin selalu terlibat dalam misi kemanusiaan terkait dengan musibah tersebut. Yakni, terlibat sebagai relawan yang bisa membantu evakuasi.

’’Semua ini bermula ketika erupsi Gunung Sinabung pada 2010,’’ ungkapnya saat ditemui Jawa Pos di RSUP Adam Malik.

BACA JUGA: Jangan Main-Main! Telepon Pemain, Pelatih, dan Ofisial Klub Bakal disadap KPK


Saat erupsi itu Uye sudah bersiap akan mendaki Gunung Sinabung. Dia memang anggota kelompok pencinta alam kampusnya, Sekolah Tinggi Agama Islam Medan. Pendakian itu dilakukan untuk ”mendeklarasikan” dirinya sebagai pencinta alam sejati.

Seluruh persiapan Uye lakukan. Tapi, beberapa hari menjelang pendakian, erupsi terjadi di Sinabung. Rencana pendakian diurungkan. Meski begitu, Uye dan kawan-kawan tetap berangkat ke Sinabung.

”Kami memutuskan bantu-bantu sebagai relawan. Kami merasa itu juga tugas pencinta alam. Dari kasus erupsi Sinabung itulah saya mulai tertarik untuk menjadi relawan dalam misi-misi kemanusiaan,” bebernya.

Bak gayung bersambut, pada 2011 BSMI Sumatera Utara membuka rekrutmen anggota. Uye pun bergabung. Tapi, secara resmi gadis asal Berastagi tersebut baru bergabung pada awal 2012. Tiga hari bergabung, Uye diserahi mobil ambulans. Padahal, ketika itu dia masih belajar menyetir mobil.

Bungsu dua bersaudara tersebut tak bisa menolak. Sejak itu dia ke mana-mana membawa ambulans bernomor polisi BK 467 LZ tersebut. Bahkan, ambulans itu dikandangkan di rumahnya. Mobil tersebut kini sudah dianggapnya sebagai kekasih. Selama dua tahun lebih mobil itu selalu menemani hari-harinya.

Termasuk saat dia terlibat kegiatan kemanusiaan dalam erupsi Sinabung pada 2013 dan longsor di Berastagi setahun berikutnya.

Hanya pada awal 2015 Uye sempat berpisah dengan ambulansnya. Sebab, mobil tersebut harus stand by di kantor BSMI. Karena itu pula, saat terjadi musibah jatuhnya pesawat Hercules di Jalan Jamin Ginting Selasa lalu (30/6), hatinya langsung tergerak ingin membantu mengevakuasi para korban yang tertimbun reruntuhan badan pesawat dan bangunan.

Awalnya Uye tancap gas ke lokasi dengan sepeda motor dan langsung ikut mengangkat korban yang ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa.

Gadis yang masih belum merampungkan kuliah itu juga ikut mengantar kantong-kantong jenazah ke RSUP Adam Malik dengan menumpang ambulans yang ada.

”Baru pada hari kedua saya memutuskan untuk membantu dengan membawa ambulans sendiri. Saya datang dengan membawa ambulans yang sudah menjadi kekasih saya ini,” ujar Uye sambil mengusap-usap bodi mobil ambulans BSMI tersebut.

Uye menjadi satu-satunya sopir ambulans perempuan di antara deretan ambulans yang terlibat dalam misi kemanusiaan itu. Penyuka mi ayam tersebut memang lincah dan gesit. Meski perempuan, dia selalu menjadi pengangkut jenazah paling awal dari RSUP Adam Malik menuju Lanud Soewondo, Medan.

Kinerjanya juga sangat bagus. Uye sangat cekatan mengemudikan ”kekasihnya” di jalanan. Jumat pagi (3/7) Jawa Pos ikut dalam mobil ambulans yang dikemudikannya saat mengantarkan jenazah Syariah, 20, korban asal Natuna, dari RSUP Adam Malik ke Lanud Soewondo.

Saat itu ambulans bertolak dari rumah sakit pukul 10.20. Jalan-jalan di Medan ketika itu padat. Tapi, Uye begitu lihai melewati satu demi satu kendaraan di depannya. Kadang menyalip dari kiri, sejurus kemudian mendahului dari kanan.

Uye tidak segan mengeluarkan tangan kanannya untuk memberi tanda atau aba-aba bagi pengguna jalan lainnya agar memberikan jalan. Sedangkan tangan kirinya tetap memegang kemudi saat mobil melaju dengan kecepatan 80 km/jam.

Dalam kondisi normal, jarak RSUP Adam Malik sampai Lanud Soewondo bisa ditempuh dalam waktu 45 menit. Tapi, Uye dan ambulansnya hanya membutuhkan waktu 20 menit. ”Ini kecepatan standar ambulans,” ucapnya.

Uye mengatakan, mengemudi ambulans harus bisa lincah dan mahir menyalip kendaraan lain dengan smooth agar pengangkutan jenazah bisa lebih cepat sampai tujuan. Dalam tiga hari proses evakuasi, Uye mampu mengangkut 12 jenazah yang akan diterbangkan dari Lanud Soewondo.

Tak terlihat rasa takut sedikit pun dari wajah Uye meski harus bergumul dengan jenazah-jenazah korban. ”Kalau sudah seperti ini, rasa takut hilang dengan sendirinya,” ungkap gadis yang juga mengajar di Sekolah Alam Raya Medan dan SDN 064024 Medan itu.

Menurut Uye, yang membuat tubuhnya gemetaran adalah saat mengangkut korban kecelakaan yang mengalami luka parah. Di satu sisi, Uye harus bisa segera membawa korban sampai ke rumah sakit agar dapat secepatnya tertolong. Di sisi lain, dia harus bisa mengemudikan ambulans dengan baik sehingga tidak menambah sakit korban.

”Korban yang kesakitan sering berteriak-teriak di dalam ambulans. Kami juga berusaha agar korban tidak sampai tidak tertolong ketika dalam perjalanan ke rumah sakit,” paparnya.

Selain menjadi relawan bila ada musibah besar, Uye beberapa kali menolong korban kecelakaan.

”Alhamdulillah, selama bertugas, yang saya tolong bisa selamat sampai rumah sakit,” ujar dia. (*/c5/c9/ari)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Wakil Rakyat yang Ganteng ini Juga Seorang Pembalap


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler