Alexa Analytics
JPNN.com App
Aplikasi Berita Terbaru dan Terpopuler
Dapatkan di Play Store atau Apps Store

Andi Mallarangeng Meradang, pakai Istilah Begal Politik

Sabtu, 06 Maret 2021 – 15:37 WIB
Andi Mallarangeng Meradang, pakai Istilah Begal Politik - JPNN.COM
Massa pendukung KLB Demokrat memaksa bus yang membawa massa penentang KLB untuk berputar arah. Foto: ANTARA/Juraidi

jpnn.com, JAKARTA - Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat Andi Alfian Mallarangeng mengatakan, pihaknya mendapat informasi dari seorang kader bahwa langkah Moeldoko mengudeta kursi Ketua Umum PD Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) didukung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Karena itu, kata Andi, AHY melayangkan surat kepada Presiden Jokowi mengenai klaim Moeldoko dalam rapat internal dengan sejumlah kader partai.

"Waktu itu, kami memang kirim surat ke Pak Jokowi. Karena ketika Pak Moel ketemu kader-kader kami, dia sudah bicara bahwa dia didukung oleh Pak Lurah. Itu bahasa dia. Dan sejumlah menteri yang lain," kata Andi Mallarangeng dalam diskusi virtual, Sabtu (6/3).

Menurut Andi, langkah AHY menyurati Jokowi bukan tanpa maksud. Sebab, Moeldoko merupakan Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) yang memang dekat dengan Jokowi.

Hal itu sekaligus mengonfirmasi klaim Moeldoko saat rapat internal dengan sejumlah kader Demokrat.

"Masa sih Pak Jokowi mau membiarkan orang yang sangat dekat dengan dia menjadi begal politik semacam ini dengan cara tidak bermartabat. Tetapi kenyataannya walaupun KLB itu tidak ada izin dari Polri, tetapi bisa juga terlaksana, tidak dibubarkan," jelas Andi.

Andi malah merasa heran kader-kader yang berpihak pada Ketum AHY justru dibubarkan oleh polisi.

Andi menanyakan di mana peran negara yang berdemokrasi saat itu. Sebab, kekuasaan benar-benar mengintervensi partai orang lain yang kebetulan berada di luar kekuasaan.

"Ini bagi saya pertanyaam besar juga. Kami ingin jawaban dari Pak Jokowi, tetapi Jokowi waktu itu tidak mau menjawab. Pak Mensesneg mengatakan ini masalah internal partai. Bukan. Ini bukan internal partai. Ini ada elemen kekuasaan yang coba memainkan perilaku kekuasaan lama untuk mencoba mengambil alih partai orang lain," jelas Andi Mallarangeng. (tan/jpnn)

Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?