Harta Karun Talaga Warna, Kota yang Hilang Di Tanah Sunda (2/habis)
Perayaan ulang tahun Gilang Rukmini dipusatkan di istana.
Rakyat dari seluruh pelosok negeri berkumpul di alun-alun.
Sorak-sorai rakyat bergemuruh manakala raja mengalungkan perhiasan indah ke leher tuan puteri.
“Kalung ini persembahan seluruh rakyat negeri ini. Mereka sangat mencintaimu,” kira-kira begitu ucap Prabu Swarnalaya seraya mengalungkannya.
Tapi apa yang terjadi…sesaat mematut-matutnya, tuan putri menghardik.
“Kalung jelek! Aku tak mau memakainya!” seraya menarik kalung itu sampai putus. Kemudian melemparnya hingga tercerai berai.
Rakyat terdiam. Ratu Purbamanah menangis. Rakyat ikut menangis. Petir menyambar. Hujan lebat, alam pun turut menangis.
Tiba-tiba keluar mata air di alun-alun istana. Bumi ikut bersedih. Mata air itu terus mengeluarkan air, dan lambat laun membesar sehingga menenggelamkan istana.