Jomblo Cantik Ini Jadi Bukti Kemiskinan Bukan Halangan
”Saya bawa surat yang isinya curhatan kenapa anak kurang mampu dan miskin susah kuliah karena biaya yang sangat mahal. Apakah anak-anak miskin harus menelan pil pahit dan menghadapi perjodohan serta menikah muda dengan orang yang tidak dikenal, karena tidak diberikan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan,” tuturnya sambil terisak.
Tiga kali Riwa mengirim surat ke Rektor UNNES kala itu. Hingga akhirnya surat yang ketiga mendapatkan respons. Dka diberi beasiswa bidik misi dan kuliah di UNNES pada 2011.
Sebelumnya, Riwa nekat pergi dari rumah untuk melihat hasil pengumuman dengan bekal uang Rp 50 ribu pinjam teman. Dia mengaku saat itu sempat dicibir oleh tetangga dan saudaranya.
”Meh sekolah duwur yo nggo opo? Wong wedok paling mung macak, manak karo masak, tibone yo podo (Mau sekolah tinggi-tinggi buat apa, wanita paling kerjaannya hanya merias, melahirkan dan memasak atau mengurus suami. Jatuhnya juga sama, Red),” katanya.
”Ada juga yang bilang, saya nanti jadi perawan tua, dan tanggapan miring lainnya. Ya, meski banyak yang mencibir, saya bersyukur bisa kuliah. Bagi saya dengan pendidikan bisa memutus rantai kemiskinan,” sambungnya.
Setelah menjadi mahasiswi UNNES, Riwa harus hidup prihatin. Sebab, untuk mendapatkan uang untuk makan sehari-hari, ia harus membanting tulang dengan menjadi buruh cuci pakaian milik teman kosnya.
”Uang buat makan atau uang saku saya dapatkan dengan mencuci pakaian teman. Pernah juga mijitin teman kos, kadang dikasih uang, kadang juga hanya dibeliin makan,” kenangnya pilu.
Riwa yang punya kemampuan menyanyi keroncong dan sinden, pernah ikut grup campur sari Dewan Kesenian Kabupaten Semarang. Dia beberapa kali mendapatkan job menyanyi.