Prediksi Rizal Ramli soal Kondisi Ekonomi Tahun Depan, Penuh Pesimisme

Jumat, 08 November 2019 – 22:23 WIB
Prediksi Rizal Ramli soal Kondisi Ekonomi Tahun Depan, Penuh Pesimisme - JPNN.COM

jpnn.com, JAKARTA - Pakar ekonomi Rizal Ramli memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan hanya empat persen. Hal ini terjadi apabila tim ekonomi pemerintah tidak mengubah langkah perekonomian secara signifikan.

"Kalau tidak ada perubahan ekonomi makro hingga Desember 2019, diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan anjlok ke empat persen," kata Rizal dalam keterangannya, Jumat (8/11).

Mantan Menko Ekuin era pemerintahan Presiden Keempat RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur itu mengatakan hal ini akan semakin menurunkan daya beli dan meningkatkan jumlah perusahaan yang mengalami gagal minus bayar atau default. "Tidak ada juga tanda-tanda indikator ekonomi makro seperti defisit perdagangan, defisit curent account akan membaik 2020,” ujarnya.

Angka yang diprediksi Rizal lebih rendah daripada pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar 5,05 persen. Padahal, pada 2019, target pertumbuhan ekonomi dipatok di angka 5,1 persen.

Terlebih lagi, sambung Rizal, peningkatan kegiatan ekonomi dan korporasi Tiongkok di Indonesia yang semakin masif juga menjadi dampak perekonomian di tanah air semakin memburuk.

"Nilai tambah mereka (Tiongkok) terhadap ekonomi rakyat Indonesia sangat minimum, karena model bisnisnya menyedot nilai tambah dari hulu ke hilir, sangat berbeda dengan investasi asing lainnya di massa lalu, yang biasanya hanya membawa 10 tenaga kerjanya," tukas Rizal.

Belum lagi, imbuh Rizal, pemerintah masih menggunakan strategi berutang untuk mengatasi persoalan ekonomi. Ironisya, kata dia, bunga utangnya pun sangat besar bila dibanding negara yang ratingnya rendah dari Indonesia.

"Bunga utang luar negeri lebih tinggi dibanding negara yang ratingnya lebih rendah dari Indonesia. Bunga utang Indonesia sampai 8,3 persen, sementara negara lain seperti Vietnam, Thailand, dan Filipina bunganya 4 sampai 5 persen. Itu kenapa subsidi energi dan sosial dipangkas untuk bayar utang," jelasnya.

loading...