Close Banner Apps JPNN.com
JPNN.com App
Aplikasi Berita Terbaru dan Terpopuler
Dapatkan di Play Store atau Apps Store
Download Apps JPNN.com

Zaytun Simanullang

Oleh: Dahlan Iskan

Rabu, 03 Mei 2023 – 07:07 WIB
Zaytun Simanullang - JPNN.COM
Dahlan Iskan (Disway). Foto: Ricardo/JPNN.com

Banyak sekali pesantren yang masuk GUPPI, termasuk jaringan pesantren keluarga saya di Magetan. Saya masih kelas 3 Aliyah saat itu. Sering diajak apel pemenangan Golkar.

Pesantren Peterongan dengan KH Musta'in Romli juga masuk GUPPI. Demikian juga pesantrennya KH Thohir Wijaya Blitar.

Banyak sekali bantuan Golkar yang diberikan ke pesantren-pesantren grup GUPPI. Guru-gurunya diangkat jadi pegawai negeri. Madrasahnya dibangun. Fasilitasnya dilengkapi.

Itu menimbulkan kecurigaan dan kecemburuan politik yang luar biasa. Madrasah yang "masuk Golkar" dianggap kurang berjuang untuk Islam.

Kecurigaan itu sangat tinggi karena mayoritas pondok pesantren kala itu memihak ke PPP.

Kecurigaan kepada Al Zaytun lebih-lebih lagi. Pesantren ini selalu dikaitkan dengan Negara Islam Indonesia (NII)-nya Kartosuwiryo. Yakni pemberontakan Islam di Jawa Barat tahun 1950-an.

"Persoalan NII sudah selesai tahun 1962," ujar Panji Gumilang suatu saat.

Saya pun salah sangka. Saya kira Syekh Panji Gumilang itu orang Sunda. Saking seringnya dikaitkan dengan gerakan Islam di Jabar itu.

SIAPAKAH orang Kristen yang ikut salat Idulfitri di pesantren Al Zaytun Indramayu itu? Beginilah pengakuan Syekh Panji Gumilang.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News