20 Calon Siswa SMKN 3 Jayapura Kabur saat Tes Urine

Jumat, 07 Juli 2017 – 00:23 WIB
Tes urine. Foto: dok. JPG

jpnn.com, JAYAPURA - Seluruh calon siswa SMKN 3 Jayapura diwajibkan untuk mengikuti tes urine yang dilakukan oleh BNN Provinsi Papua.

Hanya saja menurut Kepala SMKN 3 Jayapura, Victor Faudubun, dari laporan yang diterima, jadwal tes urine yang dilakukan sejak Senin (3/7) hingga Rabu (5/7) ternyata ada sekitar 20 anak yang memilih kabur.

BACA JUGA: Polres Bandara Soetta Bongkar Sindikat Narkoba Bandung-Jakarta

Mereka yang kabur ini diduga positif mengkonsumsi narkoba sehingga tak berani meneruskan tes.

"Jadi sebelum masuk ke STM ini mereka harus mengikuti semua alur tes dan salah satunya adalah tes urine. Tapi dari 900 lebih anak yang mengambil formulir ternyata yang mengembalikan ada 700 lebih dan yang melakukan tes urine hanya 600 lebih," beber Victor menjawab pertanyaan Cenderawasih Pos (Jawa Pos Group) via ponsel, Kamis (6/7).

BACA JUGA: Merebak Isu Suap, Satu Kursi Ditarif Hingga Rp 6 Juta

Victor menuturkan, saat tes urine ini setiap anak akan masuk ke 2 kamar mandi yang disiapkan kemudian diawasi oleh petugas. Sebelum masuk, mereka diberi wadah untuk urine.

Namun karena merasa pernah mengkonsumsi akhirnya mereka memilih untuk tidak mengikuti tes urine dan melarikan diri.

BACA JUGA: Eks Polwan Sergai Ditangkap Kodam saat Kosongkan Rumah Dinas, Ternyata...

"Padahal mereka sudah terdaftar dan kalau seperti ini maka kami akan umumkan bahwa mereka tidak diterima karena tidak mengikuti prosedur tes," tegasnnya.

Tak hanya itu, keputusan lain juga diberikan kepada 9 anak yang dinyatakan positif narkoba. Pihak sekolah memastikan tidak akan menerima kesembilan anak ini.

"Kami pastikan tidak terima karena saya tak mau mereka menjadi racun atau virus bagi yang lain. Saya tidak takut ini disebut melanggar hak anak-anak untuk sekolah karena kami memiliki MoU dengan Dinas Pendidikan dengan seluruh SMK dimana jika kedapatan positif maka ia harus mengikuti paket C, bukan bergabung dengan lainnya. Ini upaya pencegahan juga," tambah Victor.

Dengan fakta ini, Victor menyebut bahwa Papua juga sudah menjadi daerah darurat narkoba.

"Lihat saja yang di Nimbokrang kemarin, anak-anak usia dini positif narkoba, itu mengerikan sekali dan ketimbang yang masih baik ini menjadi rusak maka kami putuskan tak menerima. Itu konsekuensi karena tak bisa memfilter dampak lingkungan," imbuhnya.(ade/lay)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Anak Gagal di PSB, Wali Murid Gembok Sekolah


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler