Anak Muda 27 Tahun ini yang Bikin Patung Bundaran HI

Rabu, 06 Januari 2016 – 10:45 WIB
Foto patung The Worker and the Kolkhoz Woman di Rusia dan suasana saat mengerjakan Patung Selamat Datang. Foto: Repro Kisah Tiga Patung karya Hilmar Farid.

jpnn.com - EDHY SUNARSO berusia 27 tahun ketika Presiden Soekarno memberinya tugas membuat patung Selamat Datang yang kini menghiasi Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta.

Wenri Wanhar - Jawa Pos National Network  

BACA JUGA: Gak Usah Di-klik-lah Ya...Waktu Soekarno Kecanduan Dugem

Istana Negara, Jakarta. Suatu pagi di penghujung 1959.

Bung Karno dan Edhy Sunarso--dua lelaki berpaut usia 32 tahun--asyik ngeteh di halaman belakang, ketika Henk Ngantung dan Trubus datang. 

BACA JUGA: Untuk Urusan yang Satu ini, Bung Karno...

Sebuah rencana besar pun dirundingkan. 

"Begini lho!" kata Soekarno sembari berdiri dan mengepakkan kedua tangan. Posenya macam orang hendak menyambut-peluk kedatangan kawan lama yang dirindu.

BACA JUGA: Misteri Hilangnya Lukisan Bung Karno

"Selamat datang! Selamat datang para olahragawan!" seru Soekarno. 

Selagi Si Bung berpose, Edhy, Henk dan Trubus membuat sketsanya.

Sejurus kemudian, Bung Karno yang mengenakan celana pendek dan kaos oblong mematut-matut ketiga sketsa itu.

Dia kepincut dengan sketsa yang dibuat Edhy, anak muda kelahiran Salatiga, 2 Juli 1932. 

Edhy belajar melukis di penjara ketika ditahan Belanda karena terlibat dalam perjuangan bersenjata. 

Bebas dari penjara dia memperdalam ilmunya pada Hendra Gunawan, pelukis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang legendaris itu.

"Saya minta patungnya setinggi sembilan meter. Nanti akan diletakkan di bundaran depan Hotel Indonesia," titah Soekarno.

Edhy ditunjuk sebagai penanggungjawab, dibantu Trubus dan Henk Ngantung, pelukis yang ketika itu menjabat Wakil Gubernur Jakarta.

Putar Akal

Dengan beban di pundak, Edhy pulang ke Yogyakarta. Jangankan membuat patung perungggu setinggi 9 meter, 10 centimeter pun belum pernah, gumamnya.

Sesampai di Yogya, langsung disambanginya Ignatius Gardono, kawan lama seorang seniman patung. Rupanya, Gardono juga belum pernah membuat patung perunggu. 

Demi tugas suci nan mulia, keduanya putar otak mencari jalan keluar. Mereka datangi bengkel kereta api di Pengok.

Berjumpalah dengan Pak Mangun dan Pak Sastro, dua tenaga kawakan di bengkel itu yang walau belum pernah membuat patung perunggu, tapi berpengalaman dengan urusan peleburan besi.

Maksud sudah disampaikan. Dan sejarah baru segera dimulai. 

Bersama para montir dan pekerja kereta api, Gardono menyiapkan pengecoran perunggu. Lokomotif bekas dimodifikasi jadi tungku untuk mencairkan logam.

Sementara itu, Edhy menghubungi kawan-kawannnya bekas Tentara Pelajar di Girimulyo, Solo yang membuka perusahaan gips. Dia butuh gips untuk bahan dasar patungnya.

Demi mendengar cerita Edhy, para sekondan lama itu malah antusias membantu. Dipinjamkanlah alat-alat berat yang dibutuhkan. Antara lain mesin diesel berkapasitas 7000 watt.  

Mulai Berkarya

Edhy mulai berkarya. Dia tak sendiri. "Total tenaga yang terlibat dalam pembangunan monumen (Patung Selamat Datang--red) ini sekitar 40 orang," ungkap Hilmar Farid, yang sejak awal 2012 lalu meneliti sejarah patung-patung karya Edhy Sunarso.

Sejarawan yang baru saja dilantik Presiden Jokowi jadi Dirjen Kebudayaan itu menuliskan hasil penelitiannya sebanyak 89 halaman dengan tajuk Kisah Tiga Patung.  

Dari risetnya itulah, episode kali ini kami disarikan. 

Fay, demikian dia biasa disapa, menjabarkan pembagian kerja 40 orang yang gotong royong membangun Patung Selamat Datang.

Tujuh orang tenaga ahli dari Keluarga Artja yang sebelumnya sudah punya pengalaman membuat monumen batu membantu Edhy Sunarso membuat model patung. 

Belasan orang bertugas di pengecoran perunggu. Dan belasan lainnya membantu melakukan pekerjaan kasar. 

"Edhy Sunarso sering menyebut pembuatan monumen ini sebagai pekerjaan kolektif," Fay menceritakan.

Patung yang mulai dikerjakan bulan Agustus 1961 itu, rampung dan dipasang di Bundaran HI, Jakarta pada pertengahan 1962. 

Dalam penelitiannya, Fay membandingkan Patung Selamat Datang dengan monumen "The Worker and the Kolkhoz Woman" di Rusia karya Vera Mukhina (1889-1953). 

"Ada ahli yang menilai bahwa dari segi bentuk patung itu mirip," ungkapnya, "tapi ada juga yang berpendapat lain bahwa patung itu memang ide orisinil Bung Karno." 

Patung itu simbol penyambutan para atlet yang akan berlaga di Asian Games IV di Jakarta, 1962. Henk Ngantung menafsir lebih. Katanya, patung itu pertanda orang Indonesia siap menyambut masa depannya sendiri. 

Edhy Berpulang

"Yang bikin Patung Pancoran meninggal…dia juga yang bikin Patung Selamat Datang di Bundaran HI." 

Kabar itu sambung menyambung. Menjadi buah bibir dan trending topic.  

Edhy Sunarso baru saja berpulang Senin, 4 Januari 2016 dinihari. Dimakamkan, Selasa (5/1) siang di Yogyakarta. Inalillahi wainailahi rajiun. Selamat jalan, Bung… 

Edhy memang sudah berpulang. Dia meninggalkan buah karya yang kokoh menjadi landmark Ibukota.

Dan, pengecoran perunggu pimpinan Ignatius Gardono, tempat patung Selamat datang dibuat--diakui sebagai tempat pengecoran perunggu artistik dekoratif pertama di Indonesia--masih beroperasi hingga ini hari dengan nama Gardono Foundry. (wow/jpnn)

(baca: Edhy Sunarso dan Semiotik Patung Lapangan Banteng)

 

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... AMBOI...Berlinang Air Mata Bung Karno Melihat Lukisan Ini (1)


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler