Argentina Gagal Bayar, Indonesia Masih Aman

Senin, 04 Agustus 2014 – 08:20 WIB

jpnn.com - JAKARTA -  Belum reda krisis di Ukraina dan Rusia, dunia kembali diterpa sentimen negatif yang datang dari Amerika Latin. Standard and Poors, sebuah lembaga pemeringkat yang berbasis di AS menyematkan rating default atau gagal bayar terhadap surat utang pemerintah Argentina.

Pemotongan peringkat tersebut dikhawatirkan membawa pengaruh buruk terhadap emerging market atau negara berkembang meski hanya dalam jangka pendek.
 
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) MIrza Adityaswara mengakui, default Argentina sempat menjadi sentimen negatif di pasar keuangan negara berkembang.

BACA JUGA: Kinerja Perbankan Tetap Tumbuh

Misalnya saja bursa di Amerika Latin, seperti pasar modal Brasil yang terkoreksi 2,26 persen dalam dua hari. Serta bursa Argentina sendiri yang jeblok hingga 8,4 persen. Begitu pula yield atau imbal hasil di pasar obligasi negara berkembang yang berisiko terkerek.
 
Kendati demikian, Mirza menyakini, aksi jual investor tersebut tidak berlangsung lama dan merembet ke negara lain seperti Indonesia. Apalagi, pasar modal dan surat utang Indonesia dinilai masih cukup prospektif.  

"Karena investor pasar keuangan sudah bisa membedakan mana pemerintah yang berhati-hati dan yang tidak berhati-hati,"  ungkapnya kepada Jawa Pos, kemarin.
 
Menurut Mirza, Indonesia termasuk negara yang memiliki kemampuan pengelolaan utang yang bagus. Hal tersebut terlihat dari rasio utang yang hanya sekitar 27 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).  "Defisit anggaran pemerintah juga tidak pernah boleh lebih dari 3 persen PDB. Jadi itu bagus,"  terangnya.
 
Sebagaimana diwartakan, Standard and Poor's memangkas peringkat kredit obligasi Argentina menjadi Selective Default. Rating gagal bayar tersebut disematkan untuk surat utang pemerintah yang bertenor hingga 2033 senilai USD 539 juta.

BACA JUGA: Aprobi Siap Dukung Kebijakan B20

Pembayaran yield surat utang tersebut seharusnya jatuh tempo pada 30 Juni lalu. Dengan masa tenggang selama satu bulan, masa pembayaran terakhir seharusnya dilakukan pada Rabu (30/7).
 
Namun, dalam masa itu, pemerintah Argentina belum bisa keluar dari deadlock terkait pembicaraan dengan para kreditur yang diputuskan bakal menerima USD 1,33 miliar.  

Rating default atau gagal bayar tersebut bakal bertahan hingga Argentina membayar kewajibannya,   ujar perwakilan Standard and Poor s. Sebelumnya, lembaga tersebut sudah memangkas rating kredit jangka panjang Argentina menjadi CCC-.
 
Ekonom Tony Prasetiantono mengatakan, krisis belum terlalu mencemaskan apabila hanya terjadi pada Argentina, yang merupakan negara dengan kekuatan ekonomi nomor tiga di Amerika Latin.

BACA JUGA: Solar Dibatasi, Penimbun Bakal Beraksi

Berbeda jika terjadi di Brasil dan Meksiko sebagai negara dengan kekuatan ekonomi nomor satu dan dua di Amerika Latin, pada 1984 dan 1992 silam.

Namun, Tony menjelaskan, krisis Argentina tetap berdampak negatif jika investor global panik. Sehingga yield obligasi terancam naik. Hal itu bisa memicu krisis gagal bayar negara-negara lain.  "Namun sejauh ini saya belum melihat kemungkinan ini. Indonesia juga masih aman,"  jelasnya.
 
Meski aman, menurutnya, Indonesia harus tetap waspada. Sebab, defisit transaksi berjalan masih tinggi. Pemerintahan baru diharapkan kredibel dan memicu capital inflow atau aliran masuk dana-dana asing.  "Saya duga rating default Indonesia belum akan terpengaruh. Situasi di Indonesia berbeda,"  ujarnya. (gal)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Harga Daging Sapi dan Ayam Mulai Turun


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler