Bank Hati-hati Beri Kredit ke Sektor Pertambangan

Selasa, 27 September 2016 – 07:43 WIB
Ilustrasi. Foto: Jawa Pos.Com

jpnn.com - JAKARTA-Industri perbankan diminta konsisten menjalankan prinsip kehati-hatian. Tetap ekstra waspada di tengah rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) mengalami lonjakan dari 3,18 persen menjadi 3,22 persen.

Itu penting meski secara umum rasio kredit bermasalah cukup baik.

BACA JUGA: Bukalapak dan Bekraf Dorong UKM Melek Bisnis Online

Bank Indonesia (BI) melihat ada sejumlah bank cukup konservatif melakukan upaya penyehatan kualitas kredit.

Misalnya, membangun unit khusus untuk menangani penyehatan kredit. Itu merupakan langkah positif dan perlu diapresiasi.

BACA JUGA: Bank OCBC Permudah Repatriasi Dari Singapura

”Karena, pihak bank telah mengambil langkah konservatif dan hal-hal terburuk telah dikalkulasi,” tutur Gubernur BI Agus DW Martowardojo di Jakarta, Senin (26/9).

Agus melanjutkan BI juga telah meminta industri perbankan untuk menuntaskan dan melakukan restrukturisasi.

BACA JUGA: Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Pupuk Indonesia Lakukan Riset

Berdasar data uang beredar publikasi BI, kredit disalurkan perbankan pada Juli 2016 sebesar Rp 4.168,4 triliun atau tumbuh 7,7 persen secara year on year (Yoy), lebih rendah dibanding bulan sebelumnya tumbuh 8,2 persen Yoy.

Distribusi kredit menurun, secara kuantitas per Juli 2016 menyusul perbankan melakukan konsolidasi menghadapi kredit macet.

Dengan begitu, bank-bank lebih selektif dalam menyalurkan kredit. Ada bank butuh waktu karena telah melakukan konsolidasi.

Artinya, cadangan perbankan untuk kualitas kredit memburuk hanya melihat kualitas kredit.

Karena itu, bilang Agus, kalau rasio kredit bermasalah meningkat menjadi 3,2 persen maka akan ada prinsip kehati-hatian dilakukan perbankan.

Meski begitu, perbankan telah mempunyai pencadangan cukup memadai untuk menghadapi problem NPL.

Selanjutnya, perbankan masih tetap akan selektif memberi pendanaan dalam bentuk kredit ke debitur lantaran angka NPL mengalami peningkatan belakangan ini.

Berdasar pantauan, bank-bank masih akan cukup selektif dalam menyalurkan kredit seperti pada sektor pertambangan dan komoditas primer.

 ”Dua sektor itu tengah mengalami goncangan di pasar dunia karena harga anjlok dan menjadi sebab utama NPL perbankan meningkat,” tambah Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah. (far)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Redenominasi Rupiah Butuh Waktu 7 Tahun


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler