Banyak yang Minta Foto Selfie dan Ajak Ketemuan

Rabu, 27 Agustus 2014 – 19:58 WIB
Hamdan Zoelva. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - KEHADIRAN sosok Ketua Mahkamah Konstitusi Hamdan Zoelva di tengah riuh dan panasnya sidang gugatan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pilpres 2014, berhasil membius penonton televisi nasional. Terutama kaum perempuan.

Sadar tak sadar, wajah pria beralis tebal yang banyak menghiasi layar kaca pekan lalu itu berhasil membuat kaum ibu betah menonton siaran langsung sidang Mahkamah Konstitusi di televisi. Sesuatu yang jarang dilakukan para ibu dan remaja perempuan.

BACA JUGA: Tanda Masyarakat Tertarik Lamar CPNS

Usut punya usut, Hamdan disebut mirip aktor tampan Vino G. Bastian yang digandrungi perempuan. Ada juga yang menyebutnya, mirip aktor asal Hongkong, Alex Fong. Alhasil, Hamdan mendadak jadi memiliki banyak penggemar. Pria kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat itu pun tak sanggup menahan tawanya saat berbincang dengan JPNN terkait hal itu. Tak disangkanya, wajah seriusnya dalam sidang justru menarik perhatian banyak orang termasuk kaum hawa.

"Masa ya ada yang sampai bilang mirip aktor. Saya aja enggak tahu aktornya yang mana orangnya," ujar Hamdan sambil tertawa.

BACA JUGA: Putusan DKPP tak Terkait Hasil Pilpres

Mantan politikus Partai Bulan Bintang yang cenderung pendiam ini tampaknya cukup kagok mengetahui makin banyak kaum hawa yang mengidolakannya. Namun, ia menganggapnya sebagai hiburan semata. Bicara soal Hamdan, tentu banyak yang ingin tahu kehidupan pribadi si hakim tampan ini. Bagaimana Hamdan menjalani hari-harinya setelah diidolakan banyak orang?
Berikut wawancara wartawan JPNN Natalia Laurens dengan Hamdan Zoelva di ruang kerjanya, Lantai 15 Gedung Mahkamah Konstitusi, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu, (27/8).

Apa yang bapak rasakan setelah menyelesaikan sidang gugatan Pilpres?

BACA JUGA: Demo Tak Pengaruhi Hakim MK

Saya merasa plong, merasa beban yang berat, lepas. Jadi tadinya saat sebelum perkara dan pembacaan putusan, banyak sekali yang dipikirkan tentang perkara ini. Setelah itu langsung lepas semua. Lega sekali.

Saat sidang gugatan Pilpres banyak demo besar-besaran, merasa tertekan atau terpengaruh secara psikis enggak?

Sebenarnya sangat tidak berpengaruh terhadap cara mahkamah memutuskan perkara itu. Sama sekali tidak berpengaruh sedikit pun karena kadang, kami sendiri tidak lihat. Kita di sini sidang dan bekerja. Hanya memantau dari media massa. Kami sama sekali tidak merasa terpengaruh, karena apa yang kami putuskan hanya berdasarkan hukum. Tidak berdasarkan pressure.

Ini bisa dibilang bagi banyak orang menjadi putusan yang sangat adil, tapi untuk yang menggugat merasa kurang adil. Menurut bapak tanggapannya?

Kami biasa saja karena putusan itu pasti ada yang suka, ada yang tidak suka. Itu putusan pengadilan pasti begitu.
Itu biasa saja. Bagi kami yang penting memutuskan dengan benar, sesuai dengan fakta-fakta yang ada. Itu sudah selesai. Putusan itu akan ada yang kecewa, ada yang senang, pasti begitu.

Setelah Pilpres ini, ada yang menyatakan bapak sebagai hakim paling tampan di MK. Banyak pujian mengalir untuk bapak, bagaimana tanggapi ini?

Saya juga sempat memantau dari media sosial, jadi hiburan sendiri bagi saya di tengah ketegangan menghadapi beban sidang yang berat.
Saya enggak ngerti, enggak nyangka sampai ada begitu. Saya rasanya tetap biasa saja memimpin sidang-sidang sebelumnya.

Menjadi idola, saat ini apa makin banyak yang menyapa bapak saat di luar gedung MK?

Ada, saya ke mana-mana orang pada minta foto. Ibu-ibu dan bapak-bapak.
Ada yang minta foto, ada yang minta tandatangan. Minta foto selfie.

Istri enggak protes bapak jadi punya banyak penggemar?

Istri saya biasa saja, tidak banyak komplain. Sebenarnya sejak di DPR pun begitu. Saya juga enggak tahu kenapa begitu. Ibu-ibu dan remaja bisa idolakan begitu. Remaja bahkan ketemu saya minta foto selfie. Mahasiswa-mahasiswa banyak yang minta selfie.

Saat ini ramai di media sosial katanya wajah bapak mirip aktor Vino G Bastian dan aktor Hongkong Alex Fong, bagaimana tanggapan bapak?

Saya jarang nonton film jadi saya enggak tahu wajah mereka bagaimana.
Terus terang aja. Makanya karena saya enggak pernah nonton film, saya bingung bisa sama wajahnya.
Tapi bagi saya hiburan juga. Sampai ada komentar macam-macam. Ada yang buat karikatur segala. Saya bilang luar biasa media sosial ini sampai begitu.

Makin banyak kaum perempuan mengidolakan bapak dan mereka jadi suka menonton acara televisi yang ada sidang MKnya, tanggapannya?

Saya berterimakasih berarti sidang MK diperhatikan oleh masyarakat.
Saya berterimakasih dan itu penting.

Masih soal kehidupan sehari-hari, saat libur, kegiatan bapak apa saja?
Saya paling di rumah, renang atau keluar makan malam.

Makanan favorit bapak?
Saya kalau di rumah makanan Bima. Makanan yang pedas-pedas, yang banyak sambal dan yang asem. Seafood.

Film kesukaan bapak sejak dulu?
Saya jarang nonton film. Terakhir nonton film benar-benar itu di bioskop belasan tahun lalu. Karena kesibukan saya. Tujuh tahun lalu saya nonton pun karena diajak teman-teman wartawan. Itu terakhir nonton bioskop. Sebelumnya tahun 1990an. Kalau saya senang film action. Kalau kebetulan nonton televisi ada film, saya nonton film action.

Saya juga jarang nonton berita. Kalau disuruh milih, saya milih nonton lawak daripada berita. Contohnya, saya suka nonton Indonesia Lawak Klub. Saya lebih suka nonton itu daripada Indonesia Lawyers Club. Saya pilih yang lawak, lebih menghibur. Orang sudah pikir berat di sini, masa pikir berat lagi nonton itu.

Selama ini menghabiskan waktu liburan ke mana saja? Pantai dan bukit, lebih suka ke mana?

Saya sebenarnya jarang libur. Paling ke puncak sekali-sekali sama keluarga. Kalau ke pantai, paling sama keluarga ke Lombok. Saya sering pulang kampung halaman juga.

Sebagai hakim, bagaimana Bapak membagi waktu untuk membaca bahan persidangan dan waktu istirahat?

Bahan-bahan saya tinggal baca materi perkara. Saya suruh cari bahannya. Says cari yang relevan saja dengan dalil dan permohonannya.
Sebagai hakim, bersyukur kalau saya bisa tidur lebih dari 5 jam. Jarang saya bisa tidur lama. Paling mungkin Sabtu-Minggu 6 jam.
saya biasanya tidur jam 10-jam 11. Bangun jam setengah 4 pagi. Shalat subuh, habis itu tidur sebentar, lalu olahraga.

Olahraganya yang paling bapak gemari hingga saat ini apa?

Pagi-pagi saya threadmil kalau tidak berenang. Kalau hari Sabtu-Minggu, saya sebenarnya hobi golf. Tapi saya kurangi. Tetap, tapi kurangi, karena kurangi hubungan dengan banyak orang. Apalagi dengan jabatan saya ini, saya hindari dengan kurangi golf. Saya takut ada fitnah.

Jadi rahasia bapak tetap bugar dan fresh ini karena olahraga sejak dulu?

Iya saya suka olahraga. Ukuran celana saya, selama 20 tahun tidak berubah. Ada perubahan sedikit, cuma naik 1 cm.

Dalam sidang bapak menghadapi banyak orang dengan banyak karakter, bagaimana belajar menghadapi orang-orang ini? Bapak disukai karena terlihat tenang, apa rahasianya?

Filosofi seorang hakim, hakim itu tidak boleh marah. Kalau dia marah, berarti dia memutuskan sesuatu dengan emosional. Jadi saya harus menahan emosi dan kendalikan agar tidak menjadi subjektif. Jadi saya berusaha betul untuk tidak marah.

Bagaimana menghadapi sikap saksi-saksi seperti yang dari Papua, Nowela yang sangat spontan?

Saya cukup kaget dan bagi saya lucu aja. Biasanya, kalau saya melihat tidak terlalu penting tidak saya lanjutkan. Hadapi yang begini tidak boleh marah. Kalau hakim galak, beda dengan hakim marah. Galak berarti tegas. Sidang saya pernah ngusir orang. Kalau mengganggu sidang saya harus bertindak. Saya harus tertib jaga kewibawaan pengadilan ini. Orang tepuk tangan di sidang, saya minta keluar. Enggak boleh. Duduk baca koran dan main HP tidak boleh. Tapi saya tidak boleh marah.

Sidang yang paling berkesan selama menjadi hakim?

Sidang pemilu legislatif dan sidang pemilu Presiden. Sidang legislatif, seluruh ruang dipenuhi pengacara. Ada sekitar 70an orang. Kita 9 orang berhadapan dengan banyak orang. Lalu yang legislatif, kita sidang sampai jam 3 pagi kejar waktu. Itu luar biasa.
Tapi kepuasannya besar. Terutama yang Pilpres. Pas selesai ketok palu, plong gitu. Saya mulai merasa beban itu hilang pas mulai baca putusan. Mulai lega.

Warga Bima makin banyak yang bangga dan memuji bapak setelah sidang gugatan Pilpres. Tanggapannya?

Saya berterimakasih tapi itu berarti beban saya lebih berat lagi karena saya jadi sorotan publik yang lebih luas.

Dan kalau dulu saya biasa pakai kaos biasa, saya tidak mengubah itu, tapi saya lebih berhati-hati saja. Saya sebenarnya orang paling santai. Saya ke mal, makan pakai jins dan kaos saja. Tapi kalau pakai itu, malah makin banyak yang soroti.

Setelah makin populer di kalangan masyarakat terutama kaum wanita, apa mungkin sudah ada tawaran iklan untuk bapak, atau tawaran main sinetron?

Enggak ada. Saya juga enggak punya bakat. Masa Ketua MK gitu. Hanya banyak aja message-message di media sosial. Minta ketemu dan sebagainya. Saya anggap hiburan sajalah. Kalau ada orang senang, saya berterimakasih. Saya kadang ketawa-ketawa dalam hati, senyum-senyum sendiri baca tulisan di media sosial.
Tapi ada juga yang nulis enggak senang sama saya. Ada itu, yang dongkol lah. Di media sosial biasa. Sama kayak kita ngobrol di pinggir jalan ketemu teman dan ngobrol blak-blakan. Kalau ada yang senang ya kita anggap sebagai hiburan saja di tengah kepenatan sidang.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Setengah Resmi Dukung Prabowo-Hatta


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler